Seorang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, dr. Debryna Dewi Lumanauw diundang dalam acara Virtual Ceremony Dexa Award Science Scholarship 2020 yang diselenggarakan pada 17 Juni 2020 secara online melalui channel Youtube Dexan TV. Di salah satu sesi dalam acara ini, yaitu sesi talk show “Inovasi dan Daya Tahan Tubuh Menghadapi Era New Normal”, dr. Debryna berkesempatan membagikan pengalaman mengenai peran tenaga medis dalam menangani Covid-19.

Dokter Debryna merupakan salah satu tenaga medis yang bertugas menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Corona (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Melalui acara yang dipandu oleh Pandji Pragiwaksono ini, dr. Debryna menjelaskan perbedaan yang akan dirasakan pada kehidupan new normal dan masa sebelum pandemi. Menurut dr. Debryna, kedua kehidupan tersebut memiliki perbedaan yang tipis. “Bedanya kita melakukan protokol kesehatan, yaitu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam apapun yang kita kerjakan. Ini hal-hal yang terlihat sepele, tetapi menjadi tantangan bagi kita semua karena kita tidak terbiasa dengan mindset seperti itu sebelum adanya pandemi ini,” tuturnya. Selain mengubah mindset, ada pula tantangan lain dalam menghadapi new normal, yaitu peduli terhadap sesama.

Waktu ditanya momen yang berkesan saat menjadi relawan di Wisma Atlet, dr. Debryna mengungkapkan bahwa dirinya menjadi dekat dengan tenaga medis lainnya yang datang dari berbagai wilayah Indonesia. Walaupun memiliki latar belakang, suku, dan agama yang berbeda, tetapi dalam waktu sebulan hubungan tenaga medis yang tergabung dalam Relawan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan dokter TNI ini menjadi sangat dekat. “Karena saya rasa, kita kerja di tempat yang sama, kita hidup bareng, musuh kita sama, semangat kita sama, ketakutan kita sama ini yang membuat kita tidak dibatasi lagi,” kata dr. Debryna.

Baca juga: #MaranathaPastiBertemu: Momen Alumni Kedokteran Maranatha Jadi Relawan Covid-19 di Wisma Atlet

Pengalaman yang paling diingat dr. Debryna saat bertugas di Wisma Atlet adalah pengalaman yang mengharukan yang terjadi pada tenaga medis dan pasien Covid-19.

“Pengalaman yang mengharukan saat tenaga medis sedang berolahraga bersama di rooftop dan di saat bersamaan, di tower yang berbeda ada pasien-pasien juga yang sedang olahraga. Itu pertama kalinya kami tenaga medis bertemu dengan pasien tanpa barrier, dalam artian alat pelindung diri (APD) karena biasanya kita bertemu pasien selalu dengan APD lengkap dan saya yakin pasien juga tidak ada yang tahu muka saya sampai sekarang, cuman tahunya suara saya ‘ini dokter yang medok’. Itu pertama kalinya kami tenaga medis yang selalu merawat pasien-pasien di sana bisa memberikan semangat, bisa memberikan dukungan, saling meneriakkan untuk semangat berolahraga langsung kepada pasien dan pasien langsung melihat kami dalam wujud manusia, bukan tertutup APD. Simpel, tetapi untuk saya tidak terlupakan,” ungkapnya.

Pekerjaan sebagai tenaga medis merupakan pekerjaan yang berhadapan langsung dengan penyakit. Menurut dr. Debryna, tenaga medis sangat terpapar dan memiliki aktivitas yang sangat tinggi selama berada dalam zona merah itu. Jadi, apapun yang dapat membuat pertahanan tubuh mereka menjadi lebih baik akan mereka lakukan agar dapat bertahan dan selamat dari pandemi ini.

Perjuangan yang dihadapi tenaga medis tidaklah mudah. Pandji pun menutup sesi talk show bersama relawan Covid-19 dengan mengajak penonton untuk mendukung tanaga medis dengan menerapkan protokol kesehatan yang benar dan disiplin. Kita pun dapat berperan sebagai individu yang memutus mata rantai penyebaran Covid-19 sehingga pandemi dapat segera berakhir. (gn)

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 19 June 2020