Di tengah masyarakat, kekerasan seksual bukanlah hal baru. Tingkat kejadiannya juga dipercaya meningkat di tengah masa pandemi seperti sekarang ini. Sehubungan dengan hal tersebut, Badan Pelayanan Kerohanian Universitas Kristen Maranatha menyelenggarakan seminar nasional ICE Dreams 3.0 yang diadakan secara daring untuk mengupas permasalahan kekerasan seksual yang ditinjau dari berbagai sudut pandang. Kegiatan yang mengangkat tema “Sexploitative Harrassment – Replay 1979” ini diselenggarakan pada Senin, 3 Mei 2021.

Melalui kata sambutannya, Rektor UK Maranatha, Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU mengungkapkan tujuan diadakannya acara ini, yaitu untuk mengingatkan civitas academica Maranatha tentang nilai hidup kristiani: Integrity, Care, and Excellence, yang dianut sebagai identitas diri UK Maranatha; juga membantu upaya Maranatha agar civitas dapat memiliki karakter unggul dalam menyikapi anti-kekerasan seksual; membangun budaya dan sikap peduli yang sesuai dengan identitas diri kita, yaitu care (kepedulian); serta memberikan gambaran sikap preventif maupun represif terkait dengan anti-kekerasan seksual.

Webinar ini menghadirkan tiga pembicara yang akan meninjau permasalahan kekerasan dari tiga sudut pandang yang berbeda. Pembicara pertama, Missiliana Riasnugrahani, S.Psi., M.Si., yang merupakan dosen Fakultas Psikologi Maranatha memberikan penjelasan dari sudut ilmu psikologi dengan materi berjudul “Sexploitative Harrasment: Apa, Mengapa, dan Bagaimana”. Lingkup kekerasan seksual telah meluas ke ranah dunia online. Ia menjelaskan definisi dari sexual exploitative, sexual abuse, dan sexual harassment. Selanjutnya adalah penjelasan mengenai dampak psikologis yang dirasakan korban, faktor yang dapat meningkatkan resiko individu menjadi korban atau pelaku, serta upaya pencegahan dan protektif dengan pendekatan interdisiplin dan pendekatan holistik.

Sudut pandang kedua, dari pandangan hukum, dibawakan oleh dosen Fakultas Hukum Maranatha, Ai Permanasari, S.H., LL.M. Menurutnya, Indonesia sudah masuk ke dalam darurat kekerasan seksual. Namun, masih ada undang-undang terkait kekerasan seksual yang masih tertunda pengesahannya. Di tahun 2020, kekerasan seksual meningkat hingga 60%, tetapi banyak korban yang masih enggan untuk melapor. Di sisi lain, korban yang sudah melapor juga tidak semua berlanjut dalam proses hukum. Fungsi hukum tidaklah hanya untuk menghukum, tetapi juga untuk mencegah. Ai menambahkan bahwa 80% korbannya adalah kaum perempuan dan anak-anak, hal tersebut juga didukung dengan budaya patriarki yang dipegang masyarakat Indonesia.

Penuturan materi terakhir dibawakan oleh pastor dari GBI New Wine International Church, Ps. Christofer Tapiheru yang membahas topik dari sudut pandang agama, khususnya Kristen. Ia mengatakan, walaupun Alkitab berbau patriarki, tetapi Firman Tuhan mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara dan serupa dengan Allah, dan memiliki fungsi untuk saling melengkapi. Setelah memberikan contoh cerita pelecehan seksual yang ada di dalam Alkitab, Ps. Christofer kemudian memberikan penjelasan mengenai peran gereja dalam menyikapi kekerasan seksual. Ia meyakini bahwa setiap kasus itu berbeda, dan perlu untuk didalami setiap detailnya. Jika melihat kasus kekerasan seksual, jangan menghakimi korban, dan jangan menjadi penonton terhadap kekerasan seksual.

Pendeta Universitas, Pdt. Hariman A. Pattianakotta, M.Th. kemudian memandu sesi diskusi bersama para pembicara. Ia menyebutkan, acara ini diadakan sebagai wujud empati terhadap para korban kekerasan seksual. “Melalui webinar ini kita sudah diberikan alarm bahwa kita sedang berada dalam satu era darurat kekerasan seksual di Indonesia, situasi ini perlu respons yang cepat, disertai dengan sikap yang cermat, bijaksana. Dan tentu membutuhkan kerja sama semua pihak. Kita tadi masih punya PR untuk membentuk payung hukum yang lebih kuat dalam mengatasi kasus-kasus kekerasan seksual,” tuturnya. Di akhir sesi, Pdt. Hariman tidak lupa untuk mengajak para peserta agar tidak jemu-jemu melakukan kampanye aksi anti-kekerasan seksual. (gn)

 

Foto: Badan Pelayanan Kerohanian Universitas Kristen Maranatha via YouTube

 

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 10 May 2021