Gereja Kristen Pasundan (GKP) menggandeng Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) untuk bekerja sama mengadakan seminar dan juga workshop dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-85 GKP. Acara yang juga di dukung oleh Majelis Pendidikan Kristen Indonesia Wilayah Jawa Barat ini diikuti oleh guru-guru sekolah minggu GKP, guru TK dan SD dari BPK Penabur. Rangkaian acara yang diselenggarakan pada Sabtu, 28 September 2019 di Ruang Mini Teater Gedung B ini terdiri dari Seminar Psikologi Perkembangan Anak, Workshop Wayang 2D, Workshop Boneka Tangan, dan Workshop Menulis Kreatif untuk Anak.

Wakil Dekan II FSRD, Dr. Dra. Seriwati Ginting, M.Pd. menjelaskan bahwa tujuan acara ini adalah untuk membekali guru-guru sekolah minggu, TK , SD supaya mereka mengerti psikologi perkembangan anak karena mereka merupakan asset generasi penerus. Mereka yang hadir diharapkan menambah wawasan mereka mengenai cara bercerita yang menarik melalui boneka, wayang, dan juga tulisan.

Seluruh materi disampaikan oleh dosen UK Maranatha dan juga melibatkan mahasiswa untuk mendampingi sesi workshop. Seminar Psikologi Perkembangan Anak dibawakan oleh M. Yuni Megarini C., M.Psi., dosen Fakultas Psikologi; Workshop Wayang 2D dibawakan oleh I Nyoman Natanael, M.Ds., Sekretaris Program Studi S-1 Desain Komunikasi Visual; dan Workshop Boneka Tangan dibawakan oleh Isabella Isthipraya A., M.Ds., Ketua Program Studi D-III Seni Rupa dan Desain. Sementara itu Workshop Menulis Kreatif untuk Anak dibawakan oleh R. Santoso seorang penulis aktif dari Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia, pengalaman beliau sebagai penulis akan dibagikan agar peserta dapat terbantu dalam menulis kreatif untuk anak.

Seriwati juga mengatakan, selain dilatih untuk menulis, para guru juga dapat memperkaya diri mereka dengan pengalaman yang baru dan hasil tulisannya juga dapat diterbitkan nantinya. Beliau juga berharap, dengan adanya MPKI Wilayah Jawa Barat di dalam acara ini, maka acara yang diselenggarakan ke depannya dapat melibatkan sekolah Kristen di Indonesia lainnya. “Selain gaungnya lebih terasa, jangkauan terhadap anak-anak juga lebih banyak, sehingga dapat memberi warna terhadap kehidupan berbangsa terutama dengan banyaknya radikalisme. Kami berharap ke depannya anak-anak dapat menjadi terang di mana pun mereka berada,” tambahnya.

Keikutsertaan mahasiswa dalam mendampingi peserta dalam workshop juga dilakukan agar mahasiswa juga aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mereka dapat merasakan perbedaan saat bekerja di dalam kelas dengan bekerja di tengah masyarakat. “Ketika di kelas bersama teman-teman, mereka akan cepat mengerti. Namun, dengan orang yang berbeda latar belakang pendidikan, mereka harus bisa mendampingi atau pun mengajarkan apa yang mereka ketahui,” tutupnya. (gn)

Upload pada 2 October 2019