Beberapa minggu terakhir ini masyarakat dikejutkan dengan viralnya kabar mengenai potensi tsunami besar di pesisir Jawa. Tidak tanggung-tanggung, tsunami yang dimaksud adalah tsunami setinggi 20 meter yang menyertai gempa berskala besar. Sontak masyarakat pun menjadi panik.

Kabar mengenai potensi tsunami itu menjadi viral setelah adanya paparan yang diungkapkan dalam laporan ilmiah pada jurnal Nature Scientific Report berjudul “Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia”. Laporan yang ditulis oleh 11 peneliti dari beberapa institusi lintas negara tersebut diterbitkan pada 17 September 2020. Paparan tersebut juga dibahas dalam acara webinar EQ-TALK #4 “Kupas Tuntas Publikasi Riset Terbaru di Nature Scientific Report: Implications for Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia”, Rabu (23/9/2020) dengan pembicara utama Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU, bersama dengan sepuluh co-authors lainnya. Sebelumnya, Prof. Sri Widiyantoro yang juga merupakan Rektor UK Maranatha telah membawakan laporan tersebut dalam orasi ilmiah di kampus Universitas Kristen Maranatha, pada acara sidang terbuka dalam rangka dies natalis ke-55 UK Maranatha, Jumat (11/9/2020).

Beredar luasnya hasil kajian ilmiah tersebut ditanggapi oleh masyarakat secara beragam. Sebagian masyarakat akhirnya menjadi resah dan panik, bahkan ada yang menganggap paparan ilmiah tersebut sebagai prediksi atau ramalan adanya potensi bencana besar yang akan terjadi dalam waktu dekat. Dilansir cnnindonesia.com (25/9/2020), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa keresahan masyarakat terjadi akibat salah pengertian. Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Dr. Daryono, M.Si. mengatakan bahwa masyarakat menduga seolah dalam waktu dekat di selatan Pulau Jawa akan terjadi gempa dahsyat, padahal tidak demikian. Daryono menjelaskan bahwa hasil riset tersebut seharusnya mendorong seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk lebih memerhatikan upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami, guna mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami.

Terus berkembangnya topik mengenai potensi gempa megathrust yang berpotensi menyebabkan tsunami di pantai selatan Pulau Jawa, mendorong Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Bambang Brodjonegoro bersama Prof. Sri Widiyantoro mewakili Kelompok Keahlian Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB, dan Dr. Danny Hilman, mewakili Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, untuk memberikan penjelasan lengkap. Public expose tersebut disiarkan secara daring melalui media YouTube Kemenristek/BRIN pada Rabu (30/9/2020).

“Riset yang dilakukan oleh Prof. Sri Widiyantoro dan kawan-kawan, adalah untuk kita lebih waspada, atau lebih antisipatif terhadap kemungkinan bencana”, tutur Menristek dalam sesi pembuka. Bambang mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berupaya meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan di kalangan masyarakat, dan mengedepankan usaha mitigasi. Indonesia terletak di daerah “ring of fire” yang rentan mengalami gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, dan bencana yang bersifat hidrometeorologi, juga kekeringan dan kebakaran hutan. Kurangnya informasi dan wawasan pengetahuan, ditambah adanya pengabaian atau ketidakpedulian, mengakibatkan dampak besar pada saat terjadi bencana. “Intinya, mitigasi adalah bagaimana kita mendapatkan knowledge yang utuh, lengkap, dan selalu dengan kesiapsiagaan,” ucap Prof. Bambang.

Baca juga: Rayakan 55 Tahun, UK Maranatha Siap Bangkit Menjadi Universitas Terbaik

Prof. Sri Widiyantoro dalam paparannya menegaskan bahwa potensi tsunami 20 meter merupakan pemodelan worst case scenario. “Ada banyak skenario lainnya, puluhan bahkan sampai seratus skenario. Namun untuk usaha mitigasi, ditampilkan worst case scenario,” jelasnya. Dalam keterangan terpisah, Prof. Sri mengatakan bahwa saat ini masyarakat menjadi cemas karena pemberitaan yang heboh, tetapi jangan sampai nanti ketika berita ini sudah tidak ramai diperbincangkan, kewaspadaan juga ikut turun. “Jangan cemas, tidak ada manfaatnya. Namun kita harus waspada. Kita mudah lupa kalau tidak terus diingatkan,” ungkapnya. Penelitian dan publikasi ilmiah sangat diperlukan sebagai bentuk diseminasi ilmu pengetahuan, sehingga menjadi informasi positif untuk peningkatan kewaspadaan dan usaha mitigasi oleh pihak dan instansi terkait. Lebih lanjut, Prof. Sri menyebutkan bahwa BMKG sudah memiliki sistem engineering yang baik. “Namun sosialisasi ke masyarakat memang perlu dilakukan bersama, perlu sinergi termasuk dengan para peneliti seperti di universitas,” tutup Prof. Sri. (is/pm)

 

Gambar: dok. Bidang Media & Komunikasi

Upload pada 1 October 2020