Kemampuan Computational Thinking (CT) merupakan salah satu kemampuan penting pada era digital yang masih akan berlangsung hingga masa yang akan datang. Untuk memenuhi hal tersebut, Bebras Biro Universitas Kristen Maranatha mengadakan Pelatihan Guru Implementasi Gerakan PANDAI dengan mengangkat tema “Computational Thinking dalam Problem Solving”. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 12, 18, 19, dan 26 September 2020 ini bertujuan membuat guru menjadi penggerak dalam menanam dan menumbuh-kembangkan kemampuan Computational Thinking bagi siswa SD, SMP, hingga SMA. Kegiatan pelatihan Gerakan PANDAI telah didukung oleh oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan disponsori oleh Google.org.

PANDAI, nama yang dipilih sebagai gerakan mensosialisasikan CT, merupakan singkatan dari Pengajar Era Digital Indonesia. Pelatihan Gerakan PANDAI ini juga menjadi pelatihan guru yang pertama di Indonesia, serta diikuti oleh 190 guru dari 26 sekolah di Bandung. “Melalui gerakan ini, diharapkan para guru dapat menyertakan pendekatan CT ke dalam mata pelajarannya sehingga siswa dapat membangun kemampuan berpikir kritis dan kreatif, khususnya berpikir komputasional,” jelas Dr. Ir. Mewati Ayub, M.T., dosen Program Magister Ilmu Komputer UK Maranatha yang juga menjabat sebagai Koordinator Bebras Biro UK Maranatha.

Mewati juga menambahkan bahwa pelatihan ini juga didasari keprihatinan akan hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) siswa Indonesia yang sangat rendah dan belum mencapai rata-rata tingkat berpikir kritis yang diharapkan. Dengan menerapkan CT, para siswa Indonesia dapat terbantu dalam meningkatkan tingkat berpikir melalui cara yang menyenangkan, efektif, dan efisien.

Selain menjalankan misi tersebut, sekolah juga diharapkan dapat memajukan keilmuan, khususnya dalam bidang CT dan informatika dengan perguruan tinggi. Dengan begitu, perguruan tinggi juga akan mendapatkan intake yang lebih baik dengan kemampuan CT yang meningkat.

“Dengan siswa yang sudah mempunyai fondasi CT dan informatika yang kuat di tingkat pendidikan dasar dan menengah, perguruan tinggi dapat memulai pendidikannya untuk topik lanjut, tingkat tinggi, serta maju, misalnya Big Data dan Artificial Intelligence (AI). Dosen dan guru juga dapat melakukan penelitian bersama, khususnya di bidang informatika untuk edukasi dan pendidikan informatika. Kami percaya bahwa kerja sama sekolah dengan perguruan tinggi ini akan dapat dengan cepat menggerakkan sekolah menjadi sekolah merdeka, dan salah satu perwujudan Kampus Merdeka,” kata Mewati menjelaskan.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama empat sesi, ada empat materi yang dibawakan, yaitu “Pengenalan Computational Thinking”, “Bebras Task dan Bebras Challenge”, “Resources Pembelajaran CT”, dan “Pembahasan Soal HOTS”. Seluruh materi disampaikan oleh tiga narasumber, yakni  Dr. Inggriani Liem (Ketua NBO Bebras Indonesia); Dr. Ir. Mewati Ayub, M.T. (Dosen Program Magister Ilmu Komputer Maranatha); dan Maresha Caroline Wijanto, S.Kom., M.T. (Dosen Program Sarjana Teknik Informatika Maranatha). Seluruh peserta yang berpartisipasi juga akan mendapatkan bimbingan selama dua semester oleh dosen-dosen pembina dari Fakultas Teknologi Informasi Maranatha. (gn)

 

Foto: dok. Bebras Biro Universitas Kristen Maranatha – Maresha Caroline via YouTube

Upload pada 14 October 2020