Penggunaan presentasi slide adalah salah satu cara yang umum digunakan oleh para guru untuk mengajar selama di kelas ataupun di dalam sistem pengajaran jarak jauh (PJJ). Akan tetapi, slide yang dibuat secara biasa ternyata dapat membuat siswa menjadi cepat bosan dan mudah teralihkan perhatiannya. Padahal ada hal-hal pada sebuah presentasi yang jika diketahui dan digunakan dengan baik, akan memberikan sebuah pengalaman belajar yang baru bagi para siswa.

Oleh sebab itu, Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Maranatha menyelenggarakan pelatihan bagi para guru melalui topik “Interactive Animation”. Pelatihan yang dilakukan dalam web seminar (webinar) series ini berlangsung selama dua hari, yaitu pada Rabu, 8 Juli 2020 bagi guru-guru SMA Sekolah Kristen Yahya Bandung dan sekolah binaan Bebras; serta Kamis, 9 Juli 2020 bagi guru-guru di Yayasan BPK Penabur. Dosen FTI Maranatha yang menjadi pembicara dalam webinar ini adalah Daniel Jahja Surjawan, S.Kom., M.T.; dan Ir. Teddy Marcus Zakaria, M.T.

Daniel menyajikan materi tentang penggunaan transitions dan animations menggunakan Microsoft Power Point. Ia menjelaskan transition digunakan untuk memberikan animasi perpindahan antar slide, sedangkan animations digunakan untuk memberikan efek visual pada teks, shape, gambar, grafik, dan chart dalam sebuah slide. Pada pembahasannya, Daniel kemudian menjelaskan jenis dan cara menggunakan toolbar animasi ini dengan tepat.

Presentasi sendiri akan menjadi lebih menarik dan tidak monoton jika diberikan sebuah dengan interaksi. Teddy menjelaskan, terdapat dua cara untuk membuat animasi yang kita masukkan menjadi sebuah interaktif. Pertama adalah dengan hyperlink yang digunakan untuk loncat ke halaman tertentu atau menampilkan program atau dokumen lain. Kedua adalah dengan memanfaatkan trigger. Pemakaian  trigger pada presentasi kerap digunakan untuk memberikan penjelasan yang lebih detail dan memberikan interactive animations. “Membuat trigger itu prinsipnya hanya dua, kita munculkan objek itu, kemudian kita hilangkan,” tuturnya.

Menurutnya, dengan menggunakan fasilitas interaktif ini, guru dapat mengombinasikan dengan animasi yang telah dipelajari sebelumnya. “Walaupun ada pendapat yang mengatakan tidak ada gunanya membuat animasi pada sebuah media pembelajaran, tetapi pada satu sisi animasi itu akan membuat siswa lebih tertarik untuk meng-klik sesuatu dari slide yang kita berikan. Jadi, siswa bisa bermain sambil belajar dari interaksi seperti ini,” tambahnya. (sg/gn)

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 15 July 2020