Dosen yang juga merupakan seorang peneliti sering terjebak dalam mitos bahwa inovasi penelitian mereka adalah sebatas sebagai basic research yang harus melalui proses linear sebelum dikomersialisasikan. Ini membuat Presiden Joko Widodo mempertanyakan eksistensi dari hasil penelitian para peneliti dan perguruan tinggi yang telah didanai oleh negara.

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Nurul Taufiqu Rorchman, M.Eng., Ph.D. dalam Forum Dosen Peneliti dan Pengabdi yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Maranatha. Prof. Nurul hadir sebagai pembicara dengan membawakan materi bertajuk “Inovasi dan Strategi Pemanfaatan Hasil Litbang LIPI serta Tantangannya” pada Jumat, 4 Oktober 2019. Forum dosen yang diselenggarakan di Ruang Paulus, Gedung Administrasi Pusat lantai 4 ini diikuti sekitar 83 dosen Maranatha.

Menurut Prof. Nurul,  saat ini para peneliti di Indonesia kalah bersaing dengan negara tetangga karena lebih fokus kepada paper saja.”Peneliti Malaysia dan Singapura saat ini dituntut untuk memanfaatkan komersialisasi pada setiap penelitian mereka,” katanya. Melalui forum ini, beliau membagikan bagaimana cara memanfaatkan hasil litbang hingga contoh-contoh alih teknologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Ia mengatakan, supaya hasil penelitian dan pengembangan (litbang) bisa dikomersialisasikan, dibutuhkan pencatatan hak kekayaan intelektual dalam bentuk paten atau hak cipta inventor. “Paten diperlukan sebagai perlindungan terhadap hasil penelitian yang baru dan bermanfaat, mengukuhkan kepemilikan negara dan peneliti, saluran pengetahuan bagi publik, indikator luaran litbang dunia, mosaik rekam jejak, dan perlindungan dalam persaingan usaha,” tuturnya.

Kepala Bidang Pusat Budaya LPPM, Gai Subagya Suhardja, Ph.D. mengatakan, kehadiran Prof. Nurul adalah untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya sebagai peneliti yang telah mematenkan 23 hasil penelitiannya. “Kita undang beliau untuk bisa sharing pengalamannya sebagai ilmuwan, supaya menyemangati kita semua di Maranatha untuk bergerak menuju masa depan dengan karya-karya pemikiran dan kiprah kita selaku pendidik untuk melahirkan generasi penerus terbaik agar Indonesia maju,” ujar Gai.

Prof. Nurul merupakan seorang guru besar keilmuan yang linear di bidang teknik industri dan saat ini bekerja sebagai peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beliau menyelesaikan pendidikan S-1 hingga S-3 di Kagoshima University, Jepang, dan dikenal sebagai pakar nanoteknologi terkemuka di negeri ini. (sg)

Upload pada 8 October 2019