Sebanyak 500 penonton hadir di Auditorium Prof. Dr. P. A. Surjadi, M.A., Gedung B Universitas Kristen Maranatha dalam acara “Festival Film Tiongkok: American Dreams in China”. Acara yang diselenggarakan pada Senin, 30 September 2019 oleh Pusat Bahasa Mandarin (PBM) UK Maranatha ini terdiri dari sesi menonton film dan berdiskusi mengenai film tersebut.

Tidak saja civitas academica UK Maranatha yang hadir pada acara ini, ada juga perwakilan dari Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin Jawa Barat, Pemerintah Daerah (Pemda) Cimahi, Pusat Pendidikan Pengetahuan Militer Umum (Pusdik Pengmilum) TNI, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Universitas Padjadjaran (UNPAD), Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI), Akademik Bahasa Asing (ABA) Internasional Bandung, dan institusi lainnya turut menghadiri festival film ini.

Direktur Indonesia Pusat Bahasa Mandarin UK Maranatha, Septeriane S., B.A., M.TCSOL. menerangkan bahwa tujuan diadakannya acara ini karena PBM ingin memperkenalkan film dan budaya Tiongkok agar lebih dikenal di kalangan masyarakat dan mahasiswa. “Acara ini juga sebagai salah satu bentuk perayaan berdirinya Pusat Bahasa Mandarin di seluruh dunia,” ujarnya.

American Dreams in China merupakan film asal Tiongkok yang disutradarai oleh Peter Chan. Film ini mengisahkan tiga sahabat dengan karakter berbeda-beda berjuang menggapai mimpi mereka pergi ke Amerika Serikat. Dari sinilah, perjalanan dari kesuksesan dan kegagalan terjadi.

Wang Jun selaku Direktur PBM dalam kata sambutannya mengatakan bahwa film merupakan bentuk visualisasi seni yang kuat, luas, dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Menonton film menurutnya telah menjadi sebuah kebiasaan umum di masyarakat yang bermanfaat untuk mendapatkan pengetahuan. “Film American Dreams in China merupakan film yang akan membuat penonton merasakan kekuatan dan kegigihan dalam mengejar mimpi,” sebutnya.

Wang Jun menjelaskan bahwa film ini tidak hanya menceritakan kisah perjuangan dari para pengusaha, tetapi juga kisah revolusi kemerdekaan dari mimpi-mimpi yang dimiliki orang Tionghoa. “Sudah 70 tahun Tiongkok tidak pernah menyerah dengan mimpinya hingga memperoleh buah manis dari perjuangannya,” ujarnya.

Acara ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Dekan Fakultas Bahasa dan Budaya, Anton Sutandio, Ph.D., dan dosen Program Studi S-1 Desain Komunikasi Visual, Peter Rhian Gunawan, M.Ds., yang hadir sebagai narasumber. Dalam sesi ini, Anton menerangkan mengenai berbagai konteks yang ada di film ini, di antaranya alur cerita, referensi sejarah yang ditandai melalui scene penting dalam film, dan sebagainya. Sebagai kesimpulan, beliau mengatakan bahwa mengejar mimpi itu tidak perlu jauh ke negeri orang, tetapi bisa diwujudkan di tanah air sendiri, sesuai dengan judul film ini.

Peter sendiri menjelaskan dari segi konteks visual film baik melalui karakter dari setiap pemeran, storyboarding, dan sebagainya. “Film ini sangat menginspirasi, bagaimana kegagalan justru merupakan sebuah jalan menuju kesuksesan yang lain,” pesan Peter terkait film ini. (ns)

Upload pada 3 October 2019