Dunia saat ini sedang menaruh perhatian terhadap penyebaran virus corona terbaru yang mendapatkan nama SARS-CoV-2, dan dengan nama penyakit COVID-19. Hingga pada hari Rabu, 26 Februari 2020, WHO atau World Health Organization yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional, mengumumkan sebanyak 81.109 orang terjangkit virus ini dengan jumlah korban meninggal 2.761 orang. Jumlah ini merupakan kumulatif dari kasus yang terdeteksi di sekitar 38 negara, termasuk Tiongkok.

Kasus COVID-19 yang menyerang sistem pernapasan ini pertama kali ditemukan pada akhir Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Virus corona sendiri bukanlah jenis virus yang muncul untuk pertama kalinya. Sebelumnya telah banyak terindentifikasi jenis virus corona lain yang umumnya menyebabkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Virus ini juga termasuk dalam zoonosis, artinya penyebarannya dapat menular antara hewan dan manusia, dan juga manusia dengan manusia lainnya.

Pada manusia, virus ini menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS)/Sindrom Pernapasan Timur Tengah dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)/Sindrom Pernapasan Akut Berat. SARS memang termasuk dalam keluarga besar virus yang sama dengan COVID-19, tetapi dengan jenis virus berbeda.

Tanda-tanda umum dari infeksi virus corona ini adalah gejala flu, seperti hidung meler, demam, batuk, sakit kepala, ganguan pernapasan, dan nyeri tenggorokan. Pada kasus yang lebih parah, bisa menimbulkan pneumonia, batuk berdahak hingga berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Melalui situs Infeksiemerging, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan masa inkubasi atau waktu yang diperlukan sejak tertular/terinfeksi hingga muncul gejala, diperkirakan antara dua hari hingga dua minggu.

Secara teoritis, penyebaran virus corona terjadi melalui droplet, yaitu cairan yang keluar setiap kali seseorang bersin atau batuk. Virus keluar dari hidung atau saluran pernapasan kemudian dihirup oleh orang-orang di sekitarnya. Hal ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, dr. Johan Lucianus, M.Si.

Namun, penyebaran tidak terjadi apabila kita bersentuhan fisik secara normal dengan orang lain atau pun melalui barang atau benda mati. “Barang yang kita pesan dari luar negeri pasti aman, karena virus itu cukup rentan. Perjalanan sekian jauh akan merusak virus, apalagi jika berhari-hari,” ungkapnya.

Walau pun bersentuhan fisik bukan metode penyebarannya, dr. Johan menyarankan kita agar mencuci tangan sesering mungkin, terutama di saat wabah seperti ini menyebar. Pengajar di bagian mikrobiologi ini menjelaskan lapisan terluar virus corona terdiri dari lemak. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang bisa merusak lemak, seperti sabun dan hand sanitizer yang mengandung alkohol, tentu akan merusak virus itu sendiri. Cuci tangan tentu harus dilakukan dengan benar dan menyeluruh sehingga virus apa pun tidak akan sempat masuk ke sistem pernapasan kita.

Virus corona berpotensi menginfeksi semua orang, tetapi orang yang lebih tua, belum pernah terkena virus corona lain, memiliki kekebalan tubuh yang rendah, dan memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya (kanker atau diabetes) memiliki resiko lebih besar menderita sakit yang lebih parah.

Sampai saat ini belum ada vaksin yang ditemukan untuk mencegah COVID-19. Dengan demikian, pencegahan terbaik agar terhindar dari virus ini adalah dengan:

  1. Mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol secara rutin dan menyeluruh, khususnya setelah berada di tempat umum atau memegang sesuatu yang kotor. Sapukan sabun di punggung tangan, di antara jari-jari, di bawah kuku, dan gosok setidaknya selama 20 detik, lalu bilas dengan air bersih.
  2. Gunakan masker atau tisu bila batuk dan pilek. Langsung buang tisu ke tempat sampah.
  3. Jaga jarak aman dengan orang yang sakit.
  4. Konsumsi gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah.
  5. Rajin olahraga dan istirahat yang cukup.
  6. Berhati-hati kontak dengan hewan. Hindari kontak langsung dengan hewan hidup dan tanpa perlindungan.
  7. Jangan mengonsumsi daging atau produk hewani yang mentah atau kurang matang.
  8. Bagi yang baru kembali dari negara yang terkena wabah virus corona dalam dua minggu terakhir, jangan keluar rumah dan hindari berinteraksi dengan orang lain untuk mengurangi penyebarannya. Berobat segera jika mengalami gejala sakit pernapasan.

Walau COVID-19 sudah menyebar ke berbagai benua di dunia, dr. Johan mengingatkan agar kita jangan panik. “Pemerintah telah melakukan semua prosedur yang tepat untuk mencegah virus ini masuk ke Indonesia. Yang penting bagi kita adalah tetap menjaga pola hidup yang sehat,” pesan beliau menutup wawancara. (sg/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 27 February 2020