Baru-baru ini seorang dosen Fakultas Ekonomi di Universitas Kristen Maranatha menjadi viral di beberapa sosial media berkat acara buka puasa bersama yang diadakannya ketika beliau mengajar di jam kuliah yang bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Seluruh mahasiswa yang hadir di dalam kelas mengikuti acara buka puasa bersama yang diadakan beliau. Beliau yang nonmuslim juga tidak lupa menyiapkan seluruh makanan dan minuman untuk dikonsumsi saat buka puasa bersama. Kegiatan ini sungguh menginspirasi sekaligus melambangkan arti toleransi dalam beragama yang dilakukan civitas academica Universitas Kristen Maranatha.

Saat dihubungi lewat pesan singkat, Rusli Ginting Munthe, S.E., M.B.A., M.M., dosen yang menjadi viral tersebut menjelaskan bahwa ia melakukan kegiatan buka puasa bersama atas beberapa pertimbangan. Antara lain karena saat itu hari Jumat dan merupakan pertemuan kuliah terakhir sebelum ujian akhir semester dan kebetulan jatuh di bulan puasa, juga jam kuliah yang bertepatan dengan waktu berbuka puasa, yakni pukul 17.00-19.30. Dan memang sudah direncanakan akan diberikan rehat selama 30 menit di jam 18.00-18.30 agar para mahasiswa yang beragama muslim bisa beristirahat dan salat pada jam itu.

Di samping itu Rusli juga sengaja memberikan takjil berupa kue balok dan brownies. Baginya, hal ini juga merupakan hal yang baru dilakukannya karena baru mengajar pada jam kuliah malam pada semester ini. Dengan diadakannya acara buka puasa ini dosen Fakultas Ekonomi, Program Studi S-1 Manajemen di UK Maranatha tersebut mengaku teringat kembali pada kenangannya yang beliau dapatkan saat masih duduk di bangku SMP dan SMA negeri.

Tanpa sepengetahuannya, aksi buka puasa yang dibuatnya ini menjadi viral dan memberi hal yang positif. Beliau pun mengaku cukup kaget, tetapi sudah menerima bahwa dirinya berada di berbagai media sosial.

Kegiatan buka bersama yang dilakukan Rusli cukup viral dan memberi dampak positif. Bahkan Pdt. Diah Nooraini K, S.Si., Teol. dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Jawa Timur turut bersuara mengenai kegiatan buka bersama yang viral ini. Baginya, berita ini adalah salah satu contoh dari narasi tentang kasih. Narasi-narasi tentang kasih yang menerima dan menghargai perbedaan harus digaungkan dan juga digemakan melampaui narasi-narasi tentang kebencian atas nama agama. Media kita seharusnya dipenuhi oleh berita toleransi sehingga bangsa ini menjadi damai.

Toleransi dalam beragama menurutnya juga adalah kesediaan untuk menerima dan menghargai perbedaan. Karena banyak orang saat ini alih-alih melakukan toleransi, lebih sering untuk melakukan upaya “penaklukan” perbedaan.

Tidak hanya itu, Diah juga menyatakan bahwa nilai toleransi beragama ternyata sangat erat korelasinya dengan nilai-nilai Integrity, Care, dan Excellence (ICE) yang selama ini dilakukan UK Maranatha. Karena seseorang yang berintegritas tidak akan takut terhadap adanya toleransi, sebab ia mengetahui identitas dirinya dan tidak takut tercemar atau pudar identitasnya karena bersikap toleran terhadap hal yang berbeda. Begitu pun dengan kepedulian, hanya orang yang memiliki kepedulian terhadap keutuhan kehidupan yang akan bersikap toleran terhadap perbedaan agama dan keyakinan. Sikap toleran ini juga memerlukan keprimaan, yakni kesediaan untuk menghidupinya dengan tekun sehingga toleransi menjadi bagian dari nilai diri yang menjaga keutuhan kehidupan.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan bahwa kita bertoleransi dan juga menginspirasi orang lain untuk dapat melakukan hal yang sama. Salah satunya bisa kita lakukan dengan cara yang Rusli lakukan untuk menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang dipenuhi nilai-nilai Integrity, Care, dan Excellence. Sekarang, siapkah kita menjadi inspirasi dengan cara melakukan toleransi dalam hal beragama? (pa)

Upload pada 31 May 2019