Keberadaan vaksin di tengah pandemi Covid-19 ini tentunya menjadi sangat penting untuk mengakhiri masa sulit. Upaya pencegahan Covid-19 dengan vaksinasi ini sudah digerakkan oleh Pemerintah sejak pertengahan Januari 2021 yang secara bertahap diberikan kepada masyarakat Indonesia. Universitas Kristen Maranatha, sebagai institusi pendidikan mendukung program tersebut dengan mengikutsertakan seluruh dosen dan juga pegawainya sejak April 2021 secara bertahap. Sebagai langkah lanjutan, UK Maranatha kemudian mengadakan tes rapid antibodi bagi 365 dosen dan karyawan yang telah mendapatkan dosis kedua vaksin. Tes ini diberikan bagi mereka yang sudah menerima dosis kedua selama 24 hari.

Lalu apa yang dimaksud dengan tes antibodi?

Dosen Fakultas Kedokteran Maranatha, dr. Adrian Suhendra, Sp.Pk., M.Kes., yang ditemui saat kegiatan tes rapid antibodi dan tes swab antigen pegawai UK Maranatha (28/5), memberikan keterangan mengenai tes antibodi. Tes antibodi menurutnya memiliki beberapa fungsi. Fungsi yang pertama adalah untuk mengidentifikasi jika seseorang pernah terinfeksi virus. Fungsi kedua, di era pascavaksinasi, tes ini digunakan untuk mengetahui apakah antibodi seseorang telah terbentuk setelah vaksinasi.

Pemeriksaan antibodi terdiri atas dua jenis, yaitu tes antibodi kualitatif dan tes antibodi kuantitatif. Tes antibodi kualitatif, tes yang dilakukan para karyawan UK Maranatha, bisa digunakan sebagai tahap mendeteksi keberadaan virus dan juga mendeteksi pembentukan antibodi pascavaksinasi lewat sampel darah. Hasilnya pun dapat dinilai secara berbeda tergantung tujuan tes. Masing-masing hasil tes tersebut harus disikapi dengan hati-hati dan dikonsultasikan dengan dokter.

Di sisi lain, tes antibodi kuantitatif digunakan untuk mendeteksi jumlah antibodi yang ada dalam tubuh seseorang dengan lebih spesifik. Hasilnya biasanya ditentukan dengan angka. Pemeriksaan jenis ini menurut dr. Adrian perlu merogoh kocek lebih dalam dibandingkan tes antibodi kualitatif.

Dokter Adrian kemudian menuturkan, lewat penelitian yang dilakukan Pemerintah, antibodi umumnya sudah akan terlihat dua minggu setelah vaksinasi. Namun untuk memeriksa antibodi, akan lebih baik diambil pada 3-4 minggu setelah vaksinasi.

Apakah setiap orang yang sudah divaksin harus menjalani tes ini?

Pertanyaan ini dijawab dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada siaran pers Update Vaksinasi Covid-19 (12/5) yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI. Ia mengatakan, pemeriksaan antibodi pascavaksinasi saat ini belum direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO), dan belum ada kesepakatan untuk menentukan poin antibodi yang memberikan proteksi.

Menurut kajian cepat yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) mengenai efektivitas vaksin, khususnya vaksin Sinovac terhadap tenaga kesehatan pada Januari – Maret 2021, hasilnya menyebutkan bahwa pada orang yang telah menerima dosis kedua (lengkap) memiliki 94% efektivitas mencegah Covid-19 bergejala; 96% efektif mencegah perawatan karena Covid-19; dan 98% efektif mencegah kematian karena Covid-19.

Walaupun masih berisiko untuk terpapar, rupanya vaksin menjadi upaya kita untuk melindungi tubuh dari risiko terburuk dari paparan virus Covid-19, yaitu dampak gejala, perawatan, dan kematian akibat Covid-19. Dokter Nadia kemudian mengungkapkan bahwa masyarakat dapat melihat efektivitas proteksi vaksin melalui kajian tersebut. Namun, walaupun sudah memiliki efektivitas yang tinggi, mereka yang sudah divaksin pun tetap dianjurkan untuk menerapkan prosedur kesehatan yang ditetapkan pemerintah. (gn)

 

Foto: dok. Medkom Maranatha

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 15 June 2021