Mewaspadai merebaknya Covid-19, orang yang sehat dianjurkan memakai masker ketika sedang berada di lingkungan yang memiliki risiko tinggi adanya virus corona. Contohnya adalah ketika sedang merawat orang sakit, atau berada di tengah kerumunan orang yang berpotensi terjangkit virus. Lingkungan yang memiliki potensi risiko paling tinggi adalah fasilitas kesehatan. Oleh sebab itulah tenaga medis wajib menggunakan masker dan peralatan perlindungan lainnya untuk meminimalisir risiko.

Terlepas dari mewabahnya Covid-19 baru-baru ini, masker sudah menjadi peralatan proteksi wajib bagi tenaga medis, khususnya yang bersentuhan atau berinteraksi langsung dengan area wajah dan mulut. Pada situasi saat ini, penggunaan masker bagi tenaga medis kedokteran gigi menjadi sangat vital dalam pencegahan penyebaran virus corona. Hal ini diungkapkan oleh drg. Winny Suwindere, M.S., Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Kristen Maranatha.

Baca juga: Orang Sehat Jangan Pakai Masker! Benarkah?

Sebuah artikel dalam International Journal of Oral Science yang terbit pada 3 Maret 2020, berjudul “Transmission Routes of 2019-nCov and Controls in Dental Practice” (Xian Peng et al.) menyebutkan bahwa virus corona selain ditularkan melalui droplets akibat batuk atau bersin, dapat menular antarmanusia melalui air liur. Dengan demikian, praktisi kedokteran gigi berisiko sangat tinggi terpapar virus corona dikarenakan adanya tatap muka berjarak dekat dan paparan air liur, darah, serta cairan tubuh lainnya. Dokter gigi memiliki peranan sangat penting dalam mencegah penyebaran virus corona, dan wajib menerapkan tindakan perlindungan ekstra.

Masker akhir-akhir ini ramai diberitakan, mulai dari harganya yang melambung, adanya kasus penimbunan, sampai beredarnya masker “abal-abal” yang tidak sesuai standar. Tingginya permintaan selain disebabkan adanya faktor kepanikan, juga dikarenakan sebagian besar masyarakat menganggap bahwa masker adalah alat perlindungan yang ampuh untuk mencegah masuknya virus corona ke dalam tubuh. “Hal itu tidak sepenuhnya tepat, apalagi bila penggunaan masker tidak dilakukan dengan prosedur yang benar,” ungkap drg. Winny. “Orang yang sakit wajib memakai masker dengan cara yang benar, mulai dari cara memasang sampai cara membuangnya. Bila salah, maka penggunaan masker menjadi kurang efektif dan tetap saja berisiko tinggi menularkan virus,” jelasnya.

“Pada prinsipnya, orang sakit apa pun yang mengenai saluran napas baik atas maupun bawah, ringan ataupun berat wajib menggunakan masker,” kata drg. Winny. Di pasaran tersedia masker standar bedah yang pada umumnya berwarna hijau (sisi depan) dan sisi sebaliknya (belakang) berwarna putih. Winny menambahkan, “Ada juga warna lainnya, dengan berbagai merk. Masker standar terdiri dari tiga lapisan, bagian tengahnya merupakan lapisan filter penyaring debu atau kuman.” Dengan demikian, masker nonstandar atau yang tidak memiliki lapisan filter, jelas tidak dapat menahan penyebaran virus.

Selain masker standar yang harga normalnya berkisar 30 ribu sampai 50 ribuan per boks, ada pula masker N95 yang juga sempat langka di pasaran karena diborong masyarakat. “Masker N95 memiliki pori-pori yang lebih kecil, dan diperuntukkan bagi staf medis atau laboratorium,” ujar drg. Winny. “Untuk mencegah penyebaran virus, masker biasa yang standar tiga lapis, itu cukup untuk menahan agar virus tidak keluar saat penggunanya batuk atau bersin, yang terpenting cara penggunaannya harus benar,” tutupnya. (ins/pm)

Upload pada 10 March 2020