Masih segar diingatan kita tentang bencana gempa yang dialami saudara-saudara kita di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gempa yang terjadi sejak bulan Juli hingga sekarang dan mencapai titik tertingginya pada tanggal 5 Agustus kemarin telah menelan ratusan korban jiwa. Saat ini semua masyarakat bahu membahu untuk mengembalikan kejayaan Lombok seperti dahulu. Kini dalam masa pemulihannya, Lombok masih membutuhkan perhatian dan uluran kasih untuk bersama-sama mengembalikan puing-puing semangat para korban.

Tidak terkecuali bagi seluruh civitas academica di Universitas Kristen Maranatha. Pada tanggal 17 September 2018 lalu, Maranatha memberangkatkan 12 anggota tim ke Lombok yang terdiri dari para dokter dan staf-staf yang bersedia menjadi sukarelawan untuk membantu saudara-saudara kita di sana. Tim yang diketuai oleh Yayang Sriwati, A.Md. berangkat dengan membawa persedian makanan, obat-obatan, dan bantuan lainnya yang telah dititipkan.

Tentu ada alasan mengapa mereka baru berangkat setelah gempa besar terjadi.  Menurut Direktur Direktorat Kerja Sama (DKS), Francis Anderson, S.Kom., sudah banyak sukarelawan yang membantu pada batch pertama. Dengan banyaknya relawan yang turun langsung ke lapangan, tentu itu akan menyulitkan koordinasi tim. Oleh karenanya, diputuskan untuk berangkat setelah bencana. Tugas mereka lebih ditujukan untuk recovery setelah bencana terjadi, seperti mengobati infeksi saluran pernapasan akut atau sering disebut sebagai ISPA, dehidrasi karena hawa yang sangat panas, flu, dan diare.

Sebagai ketua pelaksana, Yayang pun menceritakan pengalamannya pada saat mereka tiba di lokasi bencana. Pada awalnya tim direncanakan akan membantu di Puskesmas Tanjung, Lombok Utara dengan membagi shift pagi, siang, dan on-call pada malam hari ketika ada panggilan darurat. Namun pada kenyataannya, keberadaan dokter di desa-desa ternyata lebih sangat dibutuhkan. Bahkan ada satu desa yang pada awal rencananya hanya akan melakukan penimbangan balita, tetapi karena ada pengumuman yang mengatakan ada dokter yang datang, semuanya berduyun-duyun untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. “Kita terpaksa membagi tim dokter menjadi tiga di mana satu tim berjaga di puskesmas dan dua tim lainnya ke desa-desa untuk membantu tim relawan lainnya.” jelas Yayang.

Pada hari keempat di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, tim yang telah direncanakan untuk membantu di satu tempat mendapatkan panggilan untuk membantu salah satu desa lain di mana seluruh penduduknya terkena diare. Seluruh persediaan logistik dan obat-obatan telah disediakan tetapi tenyata medannya sulit ditempuh dan hanya dapat dilalui motor, beruntung dua dokter bisa mengendarai motor. Dengan dus logistik di tengah dan ransel di punggung, mereka pun berangkat menggunakan motor trail. “Kita sendiri was-was saat melepaskan mereka karena katanya perjalanannya cukup berbahaya. Di pingir-pingirnya tuh tebing dan jalannya sudah agak rusak. Puji Tuhannya semua dapat kembali dengan selamat,” kenang Yayang.

Seluruh persediaan yang dibawa oleh tim telah disebarkan dengan sangat baik. Persediaan makanan yang diberikan kepada anak-anak, kemudian bantuan selimut yang merupakan bantuan titipan dari GKI dan sedikit materi diberikan kepada para manula yang sangat membutuhkan. Obat-obatan yang dibawa juga semuanya digunakan mulai dari amoxicillin, antibiotik, cefadroxil, obat diare, obat maag, obat mual, dan lainnya. Bahkan menurut Yayang, yang sebenarnya kurang pada saat itu adalah obat darah tinggi. Mungkin karena stres, tekanan darah para korban gempa pun meningkat. Namun mereka sangat berterima kasih sekali karena persediaan obat-obatan yang dibawa itu memang bagus, dan memenuhi kebutuhan mereka.

Selain pengalaman-pengalaman tersebut, ternyata para tim Maranatha ini pun merasakan gempa yang dialami oleh para korban. Hampir setiap hari terjadi gempa di tempat mereka berada. Terutama pada hari kedua di saat gempa terkuat terjadi di sana. “Kami akhirnya tidak mengunci pintu agar jika terjadi gempa susulan bisa langsung mengevakuasi diri.”

Setelah menyelesaikan tugasnya, seluruh tim akhirnya kembali ke Bandung pada hari Minggu, 23 September 2018 pukul 4 sore. Harapannya dari kegiatan ini tentu saat agar tidak berhenti di sini saja. Semoga semakin banyak orang-orang dapat mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita di sana dan semoga bencana ini dapat segera berakhir supaya masyarakat Lombok dapat segera bangkit seperti Lombok yang dahulu kita kenal dan bahkan menjadi lebih besar lagi. (sg)

Upload pada 24 September 2018