Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi …

Kita pasti sudah tidak asing dengan lirik lagu anak-anak yang cukup terkenal bahkan masih dinyanyikan hingga sekarang. Namun, tahukah kamu bahwa pernyataan dalam lirik tersebut ternyata tidak tepat?

Obrolan Santai dan Berisi (ORASI) yang rutin diadakan melalui akun Instagram live Pendeta Universitas, Pdt. Hariman Pattianakotta, M.Th. ini kembali dilaksanakan pada Rabu, 10 Juli 2020 dengan mengundang narasumber Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), drg. Winny Suwindere, M.S. Dalam kesempatan ini, drg. Winny membahas secara sederhana maksud dari pernyataan lagu Bangun Tidur yang tidak tepat tadi.

Orasi diawali dengan kisah drg. Winny ketika dulu memilih perguruan tinggi. Seorang Winny yang ingin menjadi psikolog harus mengubur impiannya demi membahagiakan orang tua yang menginginkannya masuk fakultas kedokteran. Akhirnya, drg. Winny memilih fakultas kedokteran gigi dan menyelesaikannya dengan penuh tanggung jawab. Setelah lulus, ia didorong oleh cita-cita masa kecilnya untuk menjadi seorang pengajar. drg. Winny pun akhirnya mendaftar menjadi tenaga pengajar di Universitas Kristen Maranatha.

Berkaca dari kisah drg. Winny, banyak anak-anak yang mungkin berada di posisi “terjebak” karena keinginan orang tua. Ia berpesan bahwa ada banyaknya sosok di perguruan tinggi yang dapat menjadi panutan. “Peran institusi pendidikan adalah melahirkan sosok pengajar yang dapat menjadi panutan sehingga rasa terpaksa menjadi rasa cinta,” tutur drg. Winny. Baginya, menjadi dosen adalah satu karunia karena bertemu dengan anak-anak yang berasal dari berbagai macam watak dan latar berlakang lingkungan keluarga berbeda. Hal ini dapat menjadi pengalaman, baik untuk para dosen maupun mahasiswa menemukan sosok yang saling menginspirasi.

Pdt. Hariman dan drg. Winny juga saling bertukar pandang mengenai kesehatan gigi dan mulut. drg. Winny yang berprofesi sebagai dokter gigi menyampaikan, tidak mudah menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal ini sangat berpengaruh terhadap peran orang tua untuk mendidik anak dalam merawat gigi dan mulut. “Pendidikan dalam keluarga yang membuat seseorang menyadari pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuh,” kata drg. Winny. Ia juga menyinggung lagu “Bangun Tidur” yang sebenarnya agak keliru. Menggosok gigi seharusnya dilakukan tiap setelah makan.

Melalui platform Instagram Live di akun Pdt. Hariman tersebut kita diingatkan, rongga mulut adalah pangkal dari semuanya. “Tubuh bisa berkembang, penyakit bisa terhindari, imunitas bisa meningkat; itu semua lewat rongga mulut. Semua lewat usaha menjaga kebersihan gigi dan mulut,” jelas drg. Winny. Salah satu visi misi FKG Maranatha adalah menyadarkan masyarakat sedini mungkin tentang pentingnya menjaga kebersihan rongga mulut. Jangan sampai masyarakat mengeluarkan biaya yang besar dan membuang waktu produktivitas hanya karena hal sepele, yaitu sakit gigi.

Contoh dampak gigi dan mulut kalau tidak terawat secara sederhananya adalah terjadi penumpukan karang gigi. Karang gigi merupakan koloni bakteri, bisa dibayangkan dampak daya rusaknya. Apalagi jika sampai gigi berlubang, semua sisa makanan akan menumpuk di sana dan mengakibatkan bau mulut sehingga memengaruhi penampilan dan performance yang berdampak pada penurunan kepercayaan diri.

Bakteri di dalam plaque dan karang gigi menghasilkan toksin yang dihasilkan oleh bakteri mulut akan masuk ikut dalam aliran darah. Dampak terparahnya bakteri ini bisa “nongkrong” di pembuluh darah besar di jantung. Pentingnya rongga mulut dijaga karena berpengaruh terhadap sistem tubuh manusia. Maka dari itu, kesehatan tubuh berpangkal dari kesehatan mulut. Apabila malas menggosok gigi bisa menjadi cerminan karakter yang membentuk kehidupan spiritual. Jika mengabaikan kebersihan rongga mulut, kemungkinan besar orang tersebut juga mengabaikan hal spiritual dalam kehidupannya. (pm/gn)

Upload pada 14 July 2020