Kebencian adalah salah satu sikap ekstrem. Kebencian dapat mencuat di berbagai ruang kehidupan. Dalam ruang politik Indonesia, kebencian menjadi bahasa politik yang dimainkan untuk meraih kekuasaan. Pilkada Jakarta dan Pemilu serentak 2019 memberi bukti bahwa bahasa kebencian cukup efektif dalam mendulang suara. Namun, retakan dan kerusakan yang disebabkan oleh permainan bahasa kebencian sangat mencemaskan. Masyarakat tersegregasi ke dalam kotak-kotak identitas dan hidup dengan sentimen primordial. Realitas segregatif ini adalah ancaman nyata terhadap integrasi dan persatuan nasional.

Usai pesta demokrasi yang menguras tenaga dan emosi, Indonesia harus kembali merajut identitasnya sebagai bangsa yang majemuk. Bahasa yang diperlukan di sini adalah bahasa cinta dan bahasa persatuan. Kita memang berbeda, tetapi kita adalah satu. Bhinneka Tunggal Ika. Dalam semangat kesatuan itu, masyarakat Indonesia dipanggil untuk membatinkan cinta ilahi dalam moral politik dan mengekspresikannya dalam tindakan yang memanusiakan manusia Indonesia. Tidak boleh ada pembedaan atau diskriminasi. Keadilan sosial harus ditegakkan dari Merauke sampai Sabang. Semua sama dalam derajatnya sebagai warga negara. Rakyat Indonesia dan seluruh elemen bangsa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam semangat demokrasi untuk membangun Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Untuk menyemai bahasa cinta dan persatuan dalam bingkai semangat ideologi Pancasila, perlu pendidikan yang menggugah kesadaran yang utuh sebagai manusia Indonesia. Kesadaran bahwa kendati kita berbeda, tetapi tetap bersaudara sebagai ciptaan Allah dan saudara sebagai bangsa Indonesia. Kesadaran ini akan semakin merekah apabila upaya-upaya perjumpaan yang memperkaya pengalaman diintensifkan dan dimasifkan serta didukung oleh pendidikan di dalam keluarga. Keluarga adalah basis pertama dan utama orang belajar mencintai, berbagi, dan belajar menghargai. Dalam teori ekonomi Adam Smith dikatakan bahwa jika keluarga sejahtera maka masyarakat akan sejahtera. Dalam relasi sosial, jika keluarga hidup dengan cinta, maka masyarakat juga akan diperkaya oleh cinta. Kisah keluarga yang memberi diri sebagai korban kebencian dengan melakukan bom bunuh diri bersama anak-anak begitu mencemaskan. Kisah pilu tersebut secara negatif mengingatkan kita untuk kembali menyemai cinta di dalam keluarga. Bila cinta ada, kebencian hilang. Maka, jalan untuk merdeka dari kebencian adalah dengan membawa pulang cinta ke rumah-rumah atau keluarga kita dan menghadirkannya secara otentik dalam relasi-relasi sosial dan dalam momen-momen perjumpaan. Cinta adalah perekat kuat bagi persatuan.

(oleh Pdt. Hariman A. Pattianakotta, M.Th. – Pendeta Universitas)

Upload pada 17 August 2019