Happy Chinese New Year! 新年快乐! 恭喜发财! 新年万事如意 bagi yang merayakannya.

Kita tentunya sudah tidak asing lagi mendengar kata Imlek ataupun Sincia. Perayaan Imlek atau yang biasa orang Tiongkok sebut dengan “Chūnjié”, “Yuándàn”, atau “Guònián”, merupakan perayaan bermulanya tahun yang baru.

Pada akhir tahun menjelang awal tahun yang baru, masyarakat Tionghoa akan menanyakan pertanyaan seperti “Tahun depan shio apa?” dan sebagainya. Shio merupakan simbol yang digunakan untuk mewakili siklus tahunan terdiri dari dua belas cabang bumi, di mana yang digunakan juga untuk melambangkan tahun seseorang dilahirkan. Dua belas cabang bumi ini digambarkan dengan nama-nama hewan yang berurutan, yaitu tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi.

Lalu, apakah cabang bumi itu? Mengapa nama hewan tersebut yang dipilih sebagai nama cabang bumi?

Di balik cabang bumi dan kedua belas hewan yang terpilih menjadi nama shio ini, terdapat beberapa macam versi dongeng yang menceritakannya. Salah satunya ada yang menjelaskan bahwa waktu zaman dahulu dewa kahyangan, Yu Huang Dadi menyelenggarakan perlombaan bagi para binatang. Pemenang dari perlombaan ini akan terpilih menjadi penjaga kahyangan. Mulanya, perlombaan ini diikuti juga oleh kucing, sehingga total awal binatang berjumlah 13 binatang. Tetapi singkat cerita, sang kucing kalah dalam perlombaan ini sehingga hanya terpilih dua belas binatang ini berdasarkan urutan mereka sampai di garis akhir perlombaan.

Menurut penjelasan dari salah satu dosen Program Studi S-1 Sastra China Universitas Kristen Maranatha, Dr. Drs. Siauphing, M.A., dongeng tersebut merupakan dongeng turun temurun yang dipercaya menjadi cikal bakal keberadaan kedua belas shio ini. Dongeng ini pun masih ada di masyarakat Tiongkok dan masih disampaikan kepada anak, cucu keturunannya.

Beliau menuturkan bahwa zaman dahulu negara Tiongkok adalah negara agraris, di mana para petani mengikuti perputaran bulan agar lebih mudah menentukan waktu untuk memulai bercocok tanam dan panen. Sebelum 2000 – 3000 SM, para petani beserta masyarakat kecil sangat sulit untuk mengingat tahun. Untuk mempermudah mereka, maka dipilihlah sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka, yaitu kedua belas binatang tersebut.

“Kedua belas binatang ini juga merupakan nama-nama binatang yang berada di Asia Timur, maka dari itu nama binatang seperti gajah, jerapah tidak termasuk dalam shio,” tambahnya. (ns)

Upload pada 8 February 2019