Abad ke-19 adalah abad romantism, era awal kritik akan dominasi rasionalisme, sehingga pada abad itu muncul fokus baru, yakni emosi dan imajinasi, sehingga semuanya ditandai dengan perasaan “sense of drama” , takut akan kiamat, takut akan tragedi, kematian dan kesedihan, sehingga apa pun disajikan secara berlebihan, dalam musik pun, disajikan secara teatrikal, bahkan “over-teatrikal”. Namun di sisi lain, abad ini ditandai lahirnya optimisme ilmiah-positif (positivism), sehingga era ini dianggap sebagai era jenius dan atheistic yang bersifat contra-culture (culture di sini sama dengan civilisation atau ‘peradaban’), hal ini ditandai oleh penghalusan perilaku pada masyarakat ala aristrokat (bangsawan), sehinga semua tingkah laku yang ‘baik’ adalah yang sesuai dengan apa yang menjadi kebiasaan atau perilaku para priayi, di luar itu dianggap ‘rendahan’ atau ‘kampungan’ atau norak. Demikian hal itu sehingga kebudayan ini dianggap sebagai kebudayaan yang modern, semakin beradab seseorang, maka dia menjadi semakin modern. Dan  berarti dia semakin menuju kepada nilai-nilai universal, yakni suatu kondisi di mana segala sesuatu harus bisa diterima oleh semua orang, artinya tidak berlaku hanya pada wilayah lokal dan regional saja, sehingga kultur teknologi akhirnya yang hanya akan bisa menghaluskan perasaan kita pada kehidupan.

Menurut Joseph Herder, kultur merupakan pengembangan bakat diri, baik pada tatanan spiritual maupun tatanan intelektual. Menurut Herder juga, pengaruh budaya meresap ke dalam semua sendi-sendi kehidupan, cara berpikir, perasaaan, dan penilaian. Manusia merasa betah dan menyadari potensinya hanya dalam kebudayaan mereka sendiri dan merasa aneh serta kehilangan potensi ketika berada di luar kebudayaannya sendiri. Semua budaya baginya, merupakan ekspresi unik dari spirit manusia, tak dapat dibandingkan bagaikan bunga di kebun yang sangat indah dan melengkapi satu sama lain, masing-masing komunitas kultural mengembangkan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing secara berbeda-beda dan menciptakan yang baru. Baginya kita bisa menghormati kebudayaan-kebudayaan lain, bukan karena adanya tuntutan hukum atau prinsip moral, tetapi karena kebudayaan tersebut sangat penting bagi masyarakatnya. Sama halnya dengan kebudayaan kita sangat penting bagi masyarakat kita, dan kita harus memahaminya dalam konteksnya tersendiri. Sama halnya seperti pemikiran pendahulunya, Vico, yang menyatakan bahwa memahami masyarakat merupakan aktivitas yang sangat kompleks, perlakuan yang baik mengenai kehidupan batin mereka berada dalam imajinasi dan berdasar pada asumsi yang tidak terartikulasikan, serta penilaian yang tidak reflektif. Mereka terstrukturkan oleh adat dan konvensi, dan digerakkan oleh ketakutan dan harapan yang paling dalam, di mana rasionalitas internalnya sering diabaikan oleh orang luar.

Hans menuturkan, justru kearifan lokal dan kekhasan lokallah yang justru lebih penting dan akan mampu melawan civilization karena sifatnya yang sangat universal. Karena baginya, civilization akan menggilas kultur-kultur lokal yang sangat penting. Namun menurut Friedrich Schiller, kultur merupakan produk atau proses imajinasi kreatif yang menuju ke arah inovasi baik dalam seni, filsafat maupun agama. Artinya, kultur merupakan suatu gerakan perubahan dari masyaakat yang belum sepenuhnya dewasa yang bersifat “mimesis pro-reflective” (konservatif) menuju ke arah kedewasaan, yakni masyarakat yang reflektif, kreatif, dan otonom, artinya pergerakan dari masyarakat yang hanya bisa sekedar meniru sesuatu, menjadi masyarakat yang mampu menciptakan sesuatu yang baru, dan produk kebudayan itu tak lain merupakan proses estetika dengan cara merenung ulang (kontemplasi). Hal ini betentangan dengan civilisation yang bersifat massal, yang berkonotasi negatif karena membuat masyarakat menjadi tidak kreatif. Menurut Nietzsche, kultur adalah insting asli kehidupan (nature) yang merupakan proses “deintelektualisasi kultur”, dan “denaturalisasi insting”, hal ini ditandai dengan digilasnya kultur lokal oleh sains dan teknologi, karena dianggap tidak intelek.

Menurut E.B.Taylor, culture sama saja dengan civilization, yakni merupakan keseluruhan kompleks usaha masyarakat untuk dapat mewujudkan nilai dan makna yang lebih tinggi dan sempurna, dan merupakan aspirasi tertinggi suatu komunitas dalam rangka berevolusi ala Darwin, namun secara umum, evolusi manusia berjalan melalui tahapan-tahapan yang disebut magis, agamis , dan sains, nuansa evaluatifnya masih sangat kuat.

Abad ke-20, peradaban didominasi oleh antrologi, bersifat lebih netral, dan nonevaluatif, Fans Boas mengartikan kebudayan sebagai pembekuan-pembekuan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh setiap masyarakat. Artinya, perbedaan kultur sama sekali berbeda dengan keunggulan ras atau pun kehalusan rasa ala aristokrat, melainkan merupakan perbedaan konteks dan penafsiran atas pengalaman. Pengertian budaya jadi sangat beragam, dari sudut pandang biogis, historis, psikologi, dan lainnya. Sangat kompleks sehingga tidak dapat disatukan dengan satu definisi saja, sehingga istilah “peradaban” menjadi tidak dipakai lagi. Akhir abad ke-20 (awal abad ke-21) kebudayaan menjadi kata kunci dalam hubungan internasional dan dipakai untuk memahami segala bidang, ini bersifat partikularisasi-universal, atau universalisasi yang partikular, itulah makanya konferensi-konferensi kebudayaan menjadi sangat penting. Kajian-kajian kritis akan fenomena kebudayaan umumnya terinspirasi oleh paham post strukturalisme, dengan teori dekonstruktivisme, dilakukan secara provokatif pada era post kolonialisme, menggunakan pola-pola dekonstritif untuk menentang sesuatu yang ‘kebarat-baratan’, sehingga menghasilkan otokritik pada kebudayaan, contohnya bila fenomena direspons dengan hermeneutika ala Marxisme.

Kebudayaan yang selama ini dipahami sebagai suatu sistem yang ahistoris, paripurna, dan stabil, merupakan suatu sistem yang utuh dengan koherensi internalnya, istilahnya style atau tema “khas”, atau “mentalitas”, dengan prinsip utama adalah tatanan sosial. Namun hal ini dinegasi dengan beberapa kritik atas hal tersebut, yakni bahwa pada kenyataanya, kebudayaan merupakan proses yang berubah-ubah secara signifikan, dan berada dalam kurun waktu, kebudayaan juga merupakan suatu proses penataan ulang akan nilai-nilai, bahkan merupakan transaksi nilai-nilai yang berlangsung secara terus-menerus, karena adaya interaksi yang terus-menerus dengan yang berada di luarnya. Kebudayaan juga pada kenyataannya merupakan proses transmisi sekaligus transformasi, sehingga dapat dipahami dengan istilah emansipasi atau pembebasan. Menurut teori kritisi Frankfurt, atau oleh kelompok Neo-Marxism disebut: liberasi, atau dalam istilah sains disebut evolusi. Namun kebudayaan lebih sederhana bisa diartikan sebagai proses “re-definisi diri” atau identitas yang berlansung terus-menerus dalam interaksi dengan yang lainnya seperti spiritualitas, etiket, pengabdian, atau pun materi.

Pada kenyataanya, kebudayaan menjadi hanya semacam unstable platform yang bersifat sekunder, karena yang primer justru adalah relasi-relasi yang bergerak terus, bersifat fluid. Konsekuensinya, pola-pola baku kita ditantang oleh kemungkinan-kemungkinan yang baru, atau pola-pola yang baru. Relasi-relasi yang kuat dan tidak terduga akan menampilkan terus menerus unsur-unsur yang tersembunyi dan tidak disadari dalam kebudayaan kita, dan pola maupun sistem dalam kebudayan itu, kompleksitasnya tampil juga unsur-unsur “inkonsistensinya”, sehingga konsep “utuh” dan “koheren” menjadi meragukan eksistensinya. Pada perkembangannya, style atau “kekhasan” dari kultur tertentu, seringkali tidak sama dengan orisinalitas, karena pada keyataannya hampir semua kebudayaan terbentuk oleh proses saling pinjam-meminjam dari kebudayaan-kebudayaan yang lainnya, seingga istiah “khas” atau “unik” adalah dari sisi cara mengolah unsur-unsur serapan tadi, juga penggunannya serta pengembangannya. Kebudayaan juga sebagai sistem dibutuhkan konsep batasan-batasan. Namun kenyataanya, batasan-batasan kultural yang ada sekarang bersifat artifisial, dan merupakan batasan dari wilayah politik yang bersifat ambigu, budaya sebagai sistem hanyalah wadah tertentu yang bersifat formal dari fenomena budaya, sementara wajah konkretnya bisa sangat ambigu, sejajar antara “langre” dan “palore”, layaknya seekor gurita yang berkepala satu, namun memiliki tentakel yang banyak, kalaupun wajah sistemik itu dianggap core-value namun tetap saja tampilan paling impresif ada pada individu-individunya, namun hal ini bersifat elusive, dan plural, sehingga dalam keadaan tertentu bisa mengubah core-value tadi.

Kebudayaan merupakan prinsip utama akan tatanan sosial atau konsensus yang pertama, namun kenyataannya, tatanan sosial tidak selalu terikat, tapi bisa dibentuk oleh hal-hal lain selain budaya, misalnya oleh teknik-teknik kontrol atau surveillance, teror yang sistematis, sistem ekonomi yang efektif, sistem pendidikan, sistem agama, sitem aliansi, dan lainnya. Individu-individu saat ini memiliki world-view yang sangat hybrid, tidak lagi tungggal, sehingga konsep pemahaman akan sesuatu sudah sangat beragam dan bersifat sangat personal, tidak lagi komunal. Bahkan dalam interaksi kultural yang sangat luas dan tidak dapat terbendung, kenyataannya, saat ini kebudayaan adalah proses transaksi tanpa henti sehingga sistem menjadi personal, inilah ketika dalam dunia seni, semuanya menjadi “seni” dalam arti “aesthetic of existence” versi Nietzsche, atau “auto-poesis” artinya menciptakan diri sendiri, atau membuat jadi tampak. Inilah di mana etnosentris bergerak ke arah world-sentris secara sentrifugal.

Keberagaman akhirnya mejadi sangat penting disikapi, sehingga pola-pola pluralisme menjadi modal utama kita dalam menyikapi peradaban saat ini, sifat sektarianisme, rasialisme, dan tribalisme menjadi hal yang tidak lagi signifikan untuk diagung-agungkan apalagi dijadikan dasar dalam berkebudayaan. Memiliki pola pikir universalisme menjadi sangat penting, ketika kita sadar bahwa kita adalah bagian penting dari keberadaan jagat raya ini, apa pun yang kita rasakan, yang kita lakukan merupakan konstribusi yang besar dan signifikan pada keberlangsungan kehidupan kita dan semua makhluk di jagat raya ini. Pola pikir atau paradigma sektarianisme atau pun singularisme menjadi ciri ketidakdewasaan seseorang saat ini, ketika seseorang berbicara dan bertidak atas nama sukunya, golongannya, atau pun agama, dan rasnya, hal ini dirasa ketinggalan zaman, perbedaan yang majemuk, harusnya dijadikan modal untuk kebersamaan, bukan pertentangan, semakin kita sadar akan kemajemukan, maka harusnya kita semain cerdas menyikapinya dengan pola-pola toleransi dan sekularis, pluraisme harusnya dimiliki seseorang demi kebersamaan.

Intinya pluralisme dan relativisme harus disikapi sebagai acuan dalam berkebudayaan saat ini, kemajemukan budaya yang ada di dunia ini, harusnya dipandang sebagai anugerah yang luar biasa, bukan untuk menjadikan kita eksklusif dan merasa paling hebat dibandingkan dengan kebudayaan masyarakat di luar kita, bukan pula untuk memicu konflik dan peperangan. Namun justru untuk lebih mempererat kerukunan antar manusia, demi kedamaian semesta. Kemajemukan menjadikan kita menyadari betapa pentingnya arti suatu perbedaan, dan memaknai secara dalam arti persamaan, saling menghormati, tepo saliro, tenggang rasa, dan empati yang harusnya terbangun dan tertanam dalam jiwa. Apapun latar belakang kebudayaannya, keharmonisan menjadi sangat mudah diraih dan penting diusung ketika kita memahami arti buruknya kehidupan yang disharmoni dari sudut pandang radikalisme dan sektarianisme. Manusia yang otonom, saat ini merupakan pribadi yang dewasa, kuat, dan cerdas dalam menyikapi kemajemukan dan relativitas, bahwa segala sesuatu tidak berjalan kaku dan linear. Namun dinamis dan nonlinear, itulah makanya pola-pola eklektikisme, hibridasi, dan post strukturalisme menjadi hal yang sangat menarik dan bahkan menjadi tuntutan yang berwibawa di era kontemporer ini, dan hal ini diaplikasikan pada sendi-sendi kehidupan apapun, orang-orang yang masih berpikiran tertutup, berwawasan sempit, dan menutup diri, serta merasa paling benar, saat ini justru dianggap kolot. Individu atau pun kelompok masyarakat yang seperti ini, dianggap menyedihkan karena hanya mampu berpikir sektoral, dan lokal, tidak bergeming untuk berpikir global atau sekular. Dan konyolnya, agama dan suku biasanya yang paling kuat memengaruhi hal ini, meskipun tentunya bukan semata-mata eksistensi agama atau pun suku yang bersalah dalam hal ini, tapi pemahaman individualnya yang kadang-kadang masih sangat pragmatis dan ala kadarnya. Tanpa berusaha mengelaborasi dan memaknainya dari berbagai perspektif dan lintas disiplin keilmuan, hal ini sangat fatal mengingat kemajemukan bukan lagi berada pada wilayah tatanan sosial, namun ke wilayah intelektual. Atau bisa disimpulkan, bahwa orang yang tidak mau mengakui dan hidup dalam konsep pluralisme atau universalisme, lambat laun akan dianggap terbelakang. Ini tentunya sangat menyakitkan, karena isu sektarianisme justru tengah melanda negara kita dewasa ini, baik dari sisi politik maupun agama (sekte-sekte). Menurut saya, lebih menyedihkan ketika kita berusaha dekat dengan Tuhan, tetapi dengan cara membenci, memerangi, dan menjauhi sesama makhluk ciptaan-Nya. Bukankah dengan kita saling mencintai sesama makhluk-Nya, maka Tuhan akan mendekati kita? Sangat paradoks.

(oleh Ismet Zainal Effendi – Dosen Program Studi Seni Rupa Murni)

 

Upload pada 21 February 2019