Acara pelantikan Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc., Ph.D., IPU sebagai Rektor baru Universitas Kristen Maranatha periode 2020-2024 hingga saat ini masih menjadi pembicaraan hangat di tengah civitas academica Maranatha. Siapa Prof. Sri Widiyantoro dan langkah strategis apa yang akan beliau lakukan?

Sri Widiyantoro lahir di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah pada 5 Desember 1962. Beliau adalah Guru Besar dalam bidang seismologi (tomografi) di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB). Prof. Sri Widiyantoro menyelesaikan pendidikan formal tingkat sarjana di Jurusan Geofisika dan Meteorologi ITB pada tahun 1986; tingkat magister di Geophysical Institute, Kyoto University, Jepang tahun 1992; dan Ph.D. di Australian National University, Australia pada tahun 1997.

Suami dari Lika Nindhyani Widiyantoro ini aktif melakukan penelitian dan menulis publikasi, khususnya berkaitan dengan pencitraan tomografi seismik pada skala regional dan lokal. Prof. Sri Widiyantoro juga diangkat sebagai anggota seumur hidup pada Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Penghargaan lainnya yang beliau dapatkan adalah Sarwono Award pada tahun 2014 dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada seorang ilmuwan yang memiliki prestasi ilmiah dan dedikasi tinggi. Karya besarnya adalah mengembangkan teknik pencitraan tomografi dengan menggunakan data gelombang seismik yang dibangkitkan saat terjadi gempa bumi. 

Dalam rencana dan program kerjanya, beliau mengungkapkan akan berusaha secara maksimal bersama keluarga besar Maranatha mewujudkan UK Maranatha 2024 sebagai research-based teaching university (universitas pengajaran berbasis penelitian) yang locally relevant-nationally respected (relevan secara lokal – dihormati secara nasional) dengan membangun sebuah ekosistem inovasi tridarma perguruan tinggi yang berkelanjutan. 

Dosen yang telah menjabat selama dua periode sebagai Dekan FTTM ITB memaparkan sejumlah hal krusial untuk ditingkatkan dalam waktu empat tahun ke depan, yaitu pengembangan sumber daya manusia (SDM); peningkatan jumlah intake mahasiswa; dan pengembangan kurikulum yang tepat untuk menyiapkan lulusan yang berkarakter unggul, profesional, siap bekerja, dan menciptakan lapangan kerja baru di era disrupsi ini.

Pengembangan SDM, khususnya terkait dengan pendidikan, pangkat, serta jabatan dosen menjadi prioritas beliau. Anggota pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Maranatha (YPTKM) periode 2013-2018 ini berencana untuk mempercepat Program 100 Doktor, bahkan menambah jumlahnya menjadi dua kali lipat. Selain itu, beliau juga mengajukan Program 25 Profesor yang diperlukan untuk pengembangan Maranatha dan penerapan Collective Intelligence (CI) yang tinggi, yaitu dengan sinergi dan kerja sama yang erat di antara insan UK Maranatha.

Untuk peningkatan intake mahasiswa, Prof. Sri Widiyantoro mengajukan jalan keluar untuk jangka pendek (mengadakan roadshow ke sekolah-sekolah yang berpotensi) maupun jangka panjang (meningkatkan kualitas akademik secara menyeluruh dan berkesinambungan). Pengembangan kurikulum yang fleksibel menurutnya perlu dilaksanakan melalui sistem kurikulum mayor-minor, supaya nantinya mereka dibekali dengan berbagai keterampilan lain sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Untuk mewujudkannya, ayah dari dua anak ini mengajukan program kerja yang memiliki akronim yang sama dengan nilai hidup kristiani Maranatha, yaitu ICE atau “Initiative, Collaboration, dan Excellence”. Program kerja Initiative difokuskan pada peningkatan kolaborasi dari tiga hal krusial di atas untuk mencapai keprimaan. Beliau mengatakan UK Maranatha akan melakukan penyempurnaan standar, pengembangan Sistem Informasi Sumber daya Terintegrasi (SISTer), memperbarui Sistem Akademik Terpadu (SAT), dan mengembangkan pendidikan digital. Program Collaboration menekankan kerja sama yang mutualisme dengan para stakeholder untuk memperkenalkan kemajuan-kemajuan UK Maranatha. Program Excellence menekankan pada pengutamaan kualitas pada setiap kegiatan. 

Prof. Sri Widiyantoro juga mengikuti arahan Presiden RI untuk menciptakan SDM unggul yang nyatanya sejalan dengan program pengembangan SDM beliau. Pertama adalah pendidikan karakter yang kuat dengan nilai-nilai ICE (Integrity, Care, dan Excellence), berpeluang besar untuk mengembangkan pendidikan berdasarkan karakter kristiani yang memiliki nilai-nilai luhur. Universitas juga perlu menggalakkan layanan yang profesional, ramah, dan tidak birokratis.

Selanjutnya adalah pengembangan karakter socio-technopreneur, yaitu entrepreneur berbasis teknologi yang berjiwa sosial, saling membantu, berkolaborasi, dan kaya akan soft skills. Kelak para lulusan UK Maranatha tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu untuk menciptakan lapangan kerja baru.

Untuk mewujudkannya, Prof. Sri Widiyantoro mengajak seluruh keluarga besar UK Maranatha bersama dan dengan gigih menciptakan atmosfer akademik yang kondusif. Setiap insan Maranatha menurutnya harus semakin mampu bekerja sama lebih baik lagi, menciptakan keseimbangan di antara kompetisi yang sehat dan kolaborasi untuk menuju kemajuan bersama. Kepemimpinan UK Maranatha perlu mengedepankan servant leadership (kepemimpinan yang melayani) yang dipadu dengan collective-collegial leadership untuk menjamin partisipasi aktif seluruh civitas academica. Hal ini untuk mewujudkan UK Maranatha sebagai universitas Kristen yang berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa, dengan tidak melupakan kesejahteraan anggotanya sendiri. (sg/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 5 March 2020