Untuk memutus mata rantai Covid-19, banyak negara yang menerapkan kebijkan seperti lockdown, physical distancing, dan karantina. Kebijakan inilah yang juga diterapkan pemerintah Indonesia dengan memberlakukan Pembatasan Sosial Bersakala Besar, yang disingkat PSBB. PSBB meliputi pembatasan transportasi umum, pembatasan fasilitas umum, pembatasan kegiatan keagamaan, dan lain-lain. Penerapan PSBB ini juga berpengaruh pada aspek ekonomi, contohnya banyak perusahaan yang terpaksa gulung tikar, kuantitas konsumen yang menurun, dan masalah perekonomian lainnya. Lalu, bagaimana cara untuk dapat bertahan dan bisa mendapat income di saat pandemi seperti ini?

Saat ini, dampak Covid-19 memang mengharuskan banyak hal dilakukan secara daring atau online. Melihat situasi tersebut, dosen Program Sarjana Manajemen Universitas Kristen Maranatha, Yani Monalisa, S.E., M.M. menjelaskan bahwa situasi ini justru menjadi peluang yang cocok untuk mencoba berbisnis makanan secara online. Mona menjelaskan bahwa industri makanan adalah industri yang masih bertahan serta didukung dengan delivery service yang masih diperkenankan di masa PSBB.

“Kreativitas dan keuletan menjadi kunci untuk menambah atau menggantikan income yang hilang,” jelas Mona soal awal untuk mencoba berbisnis. Baginya memulai bisnis makanan bisa digeluti oleh semua orang. “Tidak jago masak seperti chef, jangan galau!” katanya. Untuk itulah, keuletan dibutuhkan untuk dapat melihat atau mencari resep sederhana, seperti risoles, puding, dan makanan lainnya. Setelah itu, dari resep tersebut kita bisa ulik menjadi resep “rahasia” versi kita.

Tidak terhenti sampai mencari resep saja, bisnis makanan juga harus memadupadankan kreativitas, contohnya membagikan foto makanan yang eye catching, membagikan ke media sosial dengan caption unik, dan juga meminta bantuan teman ataupun keluarga memasarkan produk makanan. Dari sinilah, Mona mengatakan bahwa kita juga bisa membuka lowongan pekerjaan untuk orang lain. “Ajak beberapa teman atau saudara dan bagilah tugas, seperti bagian produksi, marketing hingga pesanan, dan lainnya,” tuturnya.

Akan tetapi, memperhitungkan anggaran atau keuangan juga sangatlah penting. Memulai bisnis makanan harus disesuaikan dengan budget yang dimiliki. Tidak hanya itu, Mona juga mengatakan bahwa kita bisa menyisihkan uang yang dimiliki untuk berinvestasi. “Kita harus memiliki rencana cadangan dalam hidup, termasuk mempersiapkan masa depan,” jelas Mona. “Tidak ada kata terlambat untuk berinvestasi,” lanjutnya. Mona menjelaskan jika hendak berinvestasi, perlu mengenal terlebih dahulu investasi yang akan dipilih. “Check dan recheck investasi yang ditawarkan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa investasi dengan skala tinggi akan tingkat keuntungan yang ditawarkan, maka semakin tinggi pula risikonya. Oleh karena itu, mencari tahu banyak hal tentang investasi merupakan hal yang penting.

Selain itu, Mona menerangkan bahwa investasi juga bisa di bidang pendidikan, salah satunya dengan berkuliah. “Kuliah merupakan investasi untuk masa depan,” tuturnya. Ia percaya, “Pendidikan adalah jalan untuk meraih kehidupan yang baik”. Maka dari itu, Mona berpesan agar kejar ilmu sebanyak mungkin. “Perbanyak waktu untuk mengikuti webinar yang menawarkan ilmu dengan pembicara yang ahli di bidangnya,” pesannya.

Seperti pepatah mengatakan, “Jangan besar pasak daripada tiang” yang berarti jangan besar pengeluaran daripada penghasilan. Mona menerangkan bahwa kita perlu menerapkan pepatah tersebut dalam kondisi apapun, khususnya di situasi pandemi kini. Setelah melihat pemaparan di atas, mari kita ambil kesempatan untuk memiliki cadangan hidup dan lebih bijak dalam mengatur keuangan kita! (ns/gn)

Foto: Unsplash

Upload pada 14 May 2020