Hidup kita tentunya tidak pernah terlepas dari pilihan dan keputusan. Setiap pilihan yang kita ambil pasti akan berpengaruh pada kehidupan mendatang. Namun, adakalanya kita merasa begitu sulit untuk memutuskan sebuah pilihan, bahkan takut untuk mengambil keputusan dikarenakan berbagai hal. Mengapa demikian?

Pengambilan keputusan atau decision making seperti yang disampaikan oleh dosen Program Sarjana Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Dr. Indah Soca Retno Kuntari, M.Psi., Psikolog memiliki arti ketetapan sebuah keputusan yang berdasarkan analisis dan pertimbangan.

Tanpa kita sadari, dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu berhadapan dengan proses pengambilan keputusan. Sebagai contoh, saat memutuskan ingin makan apa, pergi ke mana, beli apa, dan sebagainya. Indah mengatakan pengambilan keputusan ini bersifat sederhana. Tidak hanya itu, ada juga proses pengambilan keputusan yang rumit karena berkaitan dengan emosi seseorang. Inilah yang menyebabkan kita ragu untuk memutuskan sebuah pilihan. Oleh sebab itu, Indah menganjurkan untuk melalui proses berpikir (thinking) dan antisipasi risiko saat mengambil keputusan. Proses berpikir terdiri atas penentuan dan pertimbangan derajat tingkat kepentingan masalah (urgency) serta derajat waktu masalah (mendesak atau tidak). Melalui pertimbangan tersebut, kita dapat menganalisa dan memprioritaskan keputusan yang akan diambil. Selain itu, proses antisipasi risiko adalah proses untuk memikirkan konsekuensi dan keberhasilan apa saja yang akan dihasilkan dari keputusan tersebut.

Setelah mengetahui proses pengambilan keputusan, mengapa terkadang kita masih merasa ragu dengan keputusan kita? Apa yang harus kita lakukan?

Indah menyarankan saat mengambil suatu keputusan, pertama-tama kita harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, membuat daftar pro dan kontra. Daftar inilah yang akan mempermudah kita dalam menentukan hal positif (pro) dan hal negatif (kontra) dari keputusan yang diambil. Jika pada daftar tersebut terdapat kontra yang sedikit, maka keputusan tersebutlah yang tepat untuk dipilih.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kepribadian seseorang sebenarnya berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Indah menjelaskan bahwa ada tiga kepribadian yang sering ditemukan dalam pengambilan keputusan, yaitu plinplan, hati-hati, dan impulsif.

Plinplan merupakan karakter yang ragu-ragu, tidak berani untuk membuat keputusan sehingga memakan waktu lama dalam proses keputusan. Jika demikian, perlu adanya figur signifikan yang dapat mendorongnya untuk berani memutuskan. Berbeda dengan karakter plinplan, impulsif merupakan karakter yang cepat memutuskan tanpa dipikir matang. Karakter inilah yang sering dijumpai saat dihadapkan dengan situasi penting dan sesaat dalam pengambilan keputusan, sedangkan karakter hati-hati merupakan karakter yang sangat detail dan terperinci saat memutuskan. Karakter ini akan menganalisa dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.

Terlepas dari kepribadian seseorang mengambil keputusan, pernahkah Anda menyesali keputusan yang telah diambil?

Menurut Indah, menyesal karena membuat keputusan yang salah adalah hal yang wajar karena ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia. Beliau menjelaskan bahwa dari pengalaman tersebut, kita harus mengambilnya sebagai pembelajaran dan memaafkan diri kita sendiri. “Menyesal berlarut-larut tidak akan menyelesaikan masalah, justru berdampak terhadap emosi kita,” ucapnya. “Jangan pernah menyesali keputusan yang telah dibuat, tetapi jadikan keputusan itu sebagai cara untuk mengembangkan diri kita di masa yang akan datang,” pesan Indah.

Pengambilan keputusan memang tidak mudah karena banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Jadi, marilah kita berani memutuskan dan mempertimbangkan segala keputusan dengan sebaik-baiknya! (ns/gn)

Foto: Unsplash

Upload pada 27 February 2020