Stres adalah sesuatu hal yang alami dan pasti pernah dialami oleh setiap orang. Stres terjadi ketika kita akan melakukan presentasi dihadapan dosen, mengerjakan tugas akhir yang tidak kunjung selesai, atau diputus pacar. Tapi tahukah Anda kalau stres berkepanjangan bisa mempengaruhi masalah pencernaan kita?

Menurut Dr. dr. Diana Krisanti J., M.Kes., stres adalah sebuah ketegangan fisik, emosi, dan mental yang dapat mengganggu kegiatan seseorang. Dokter bidang farmakologi sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha ini mengatakan, gangguan yang dipengaruhi oleh tekanan, baik dari luar maupun dari dalam diri seseorang. Jika berkepanjangan hal ini akan menurunkan produktivitas seseorang.

Menurutnya, stres dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti persaingan tidak sehat antara sesama rekan kerja, tekanan dari atasan, pertengkaran dengan pasangan, hingga faktor lingkungan seperti bencana alam. Stres seperti ini apa bila terus dibiarkan ternyata bisa mengakibatkan permasalahan kesehatan, khususnya pada pencernaan kita.

Lalu, apa ya hubungannya antara stres dan masalah pencernaan?

Ternyata stres dikenali oleh tubuh kita sebagai ancaman yang dapat mengganggu pekerjaan organ-organ tubuh loh. Akibatnya, tubuh menciptakan reaksi untuk melawannya dengan mengeluarkan hormon-hormon, di antaranya hormon kortisol dan epinefrin (adrenalin). Semua hormon ini akan menimbulkan reaksi peradangan pada otak dan lambung. Pada akhirnya peradangan pada lambung ini akan menimbulkan pelbagai keluhan, seperti perut terasa kembung, gastritis (peradangan dinding lambung), maag atau asam lambung, bahkan sampai diare.

Masalah lambung juga dapat disebabkan oleh pola makan kita yang tidak teratur dan memakan makanan yang memiliki rasa yang tajam, seperti terlalu pedas atau terlalu asam. Kita harus bisa mengupayakan dan mengontrol pola makan yang baik serta mengetahui sampai batas mana pencernaan kita bisa menerimanya.

Namun apabila kita sudah mengalami masalah pencernaan, perlu suatu upaya untuk mengurangi peradangan dengan memberikan agen-agen yang memiliki efek antiinflamasi. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan salah satu tanaman herbal yang kerap kita digunakan sebagai bahan masakan, yaitu kunyit.

Bumbu masakan yang selalu membuat tangan menjadi berwarna kuning ini ternyata memiliki khasiat yang sangat besar, khususnya bagi orang-orang yang sudah mengalami stres dan masalah pencernaan. Di dalam wawancara yang ditayangkan pada salah satu saluran televisi nasional, Metro Tv , Diana mengatakan bahwa kunyit memiliki efek yang baik terhadap stres. Reaksi peradangan yang disebabkan oleh stres terjadi di mana-mana, termasuk di otak. “Kunyit yang memiliki efek antiinflamasi mampu mengatasi peradangan pada otak sehingga berpengaruh pada stres yang menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Selain manfaatnya pada otak, antiinflamasi pada kunyit dapat meredakan peradangan pada lambung, mengurangi jumlah asam lambung, dan membunuh bakteri H. pylori (bakteri yang menimbulkan infeksi pada dinding lambung dan usus halus). Dengan manfaatnya yang sangat besar, tidak heran kunyit menjadi obat herbal yang kerap kita temukan pada jamu-jamu tradisional.

Diana menambahkan manfaat kunyit ternyata sudah diteliti dan diuji secara klinis pada salah satu jurnal alternatif kesehatan. Dalam jurnal tersebut dikatakan bahwa penelitian ini telah diuji pada klinik fase dua kepada 45 orang penderita keluhan lambung. Sebanyak 25 di antaranya setelah di endoskopi ditemukan adanya vulnus (luka) di lambungnya. Setelah pemberian kunyit sebanyak lima kali sehari secara rutin, 12 orang sembuh lukanya dalam waktu empat minggu, enam orang sembuh dalam delapan minggu, dan seorang sembuh dalam 12 minggu. “Kesimpulannya adalah 76% sembuh, dan 20 orang yang memiliki keluhan lambung tetapi tidak ditemukan luka, ternyata keluhannya berkurang bahkan hilang dalam satu atau dua minggu saja. Ini membuktikan kunyit efektif untuk menyembuhkan penyakit lambung, tergantung kepada kondisi yang dialami,” ujarnya.

Ada berbagai cara yang dapat kita lakukan untuk mengonsumsi atau mengolah kunyit menjadi obat herbal. Cara tradisionalnya dengan mengupas dan memarut 2-3 kunyit, lalu ambil airnya untuk diminum sehari dua kali, pagi dan malam. Cara ini memang membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diolah dan kita harus rela tangan menjadi kuning. Namun, di zaman yang sudah serba menggunakan teknologi seperti ini kita dapat menemukan obat yang mengekstrak kandungan utama pada kunyit, yaitu kurkuminoid yang memudahkan kita untuk mengkonsumsinya. Obat herbal seperti ini sudah mudah ditemukan di apotik seluruh wilayah Indonesia.

Tentu apa pun cara yang kita pilih untuk mengkonsumsi kunyit, pada akhirnya adalah untuk kesehatan tubuh dan pikiran kita. Pada akhirnya Diana berharap agar kita terbebas dari stres. “Hiduplah dengan penuh syukur dan ikhlas. Apabila memang terjadi gejala-gejala penyakit lambung, ada kunyit yang memiliki efek antiinflamasi yang bisa mengatasinya,” ungkap beliau pada akhir acara. (sg)

Artikel merupakan saduran dari wawancara yang ditayangkan di Metro Tv pada hari Selasa, 30 Juli 2019

Upload pada 5 August 2019