Semua orang tentunya ingin hidup sukses. Namun, ternyata masing-masing individu memiliki pandangan yang berbeda dalam menilai kesuksesan. Ada yang ingin sukses menjadi pengusaha, ada yang ingin sukses mengerjakan suatu proyek besar, dan lain sebagainya.

Pembina Kaum Muda GKI Kayu Putih, Jakarta, Yoseph Kurniawan, S.Ds., M.Div. mengatakan bahwa impian menjadi sukses itu dapat menimbulkan dorongan dalam hidup seseorang. Hal tersebut ia sampaikan pada kegiatan Kuliah Umum Mata Kuliah Pengembangan Karakter Fakultas Seni Rupa dan Desain (28/5), saat ia membawakan materi mengenai “Leadership and Teamwork”.

Menurut Yoseph, impian menjadi sukses dapat menimbulkan dorongan dalam hidup seseorang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menuliskan impian kita karena pencapaian impian itu merupakan momen kita menyadari keutuhan kita sebagai manusia. Artinya, semakin kita mencapai impian kita, semakin kita menyadari hidup kita semakin penuh, utuh, dan berguna.

Yoseph juga mengatakan bahwa hidup kita sebagai manusia itu bergantung pada spiritualitas. Beberapa poin yang ada dalam sukses secara spiritualitas, yakni powerful inner system, artinya Tuhan yang menjadi panutan bagi kita; truth and hard work, standar kebenaran yang kita pegang dan kerja keras; ability of choosing and owning one’s way of life, artinya kemampuan memilih dan menjadi pemimpin atas diri kita sendiri; yang terakhir adalah minimal dependence of the world, artinya tidak bergantung pada kata dunia. “Hal tersebut tentunya penting agar kita menyadari bahwa kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri,” tutur Yoseph.

Selain itu, Yoseph juga mengatakan, Tuhan telah mengundang kita untuk mengambil bagian dalam rencana-Nya untuk melakukan hal-hal yang baik. “Ada empat poin utama dalam hidup ini yang menurut saya penting, yakni damai, sukacita, keadilan, dan kasih,” ucapnya. Seiring dengan didapatkannya empat poin tersebut, maka hal lain, seperti materi atau status, akan turut mengiringi kehidupan kita.

Sementara itu, untuk menjadi seorang leader, penting bagi kita untuk mencari tujuan hidup, memulai sesuatu, menjadi pengaruh bagi orang lain, dan menjadi diri sendiri. Menurut pembahasan Yoseph, konteks menjadi pengaruh ini menjadi penting karena kita hidup di tengah banyak pengaruh. Namun, yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana untuk menjadi diri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

“Sebagai seorang leader tugasnya adalah, kalau buat saya, ikut rencana Tuhan. Tuhan itu Maha Pencipta. Oleh karena itu, kita diajak untuk mencipta. Menciptakan sesuatu untuk menunjukkan jati diri,” kata Yoseph. “Mungkin tidak ada yang baru dalam hidup ini, tetapi kamu bisa menciptakan warna warni yang beraneka ragam untuk bisa menghiasi dunia yang sedang kamu jalani,” lanjutnya.

Hal kedua adalah kolaborasi sehingga kita bisa menciptakan sesuatu yang lebih baik lagi. Hal tersebut juga menjadi salah satu sifat kerendahan hati untuk tidak hanya melihat diri sendiri. Hal ketiga adalah mengenai komunitas, artinya belajar mengenai perbedaan di tengah komunitas.

“Hidup paling indah sebagai seorang leader adalah saat kita sudah membagikan pengalaman kita supaya orang lain bisa merasakan apa yang indah yang pernah kita alami. Bisa berjalan bersama orang itu dalam keadaan apapun, baik itu susah ataupun senang. Itu menjadi hal yang indah di dalam kita mewarnai dunia,” ucapnya.

Kehidupan itu bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling baik. Menjadi seorang leader tidak membicarakan siapa yang “Nomer 1”, yang paling penting adalah belajar mengenal kasih yang sesungguhnya, membagikan kasih itu kepada sesama sehingga menjadikan kita manusia yang penuh dengan kasih dan menjadi manusia yang utuh. “Karena tanpa kasih, kita itu bukan siapa-siapa,” kata Yohan menutup materinya. (gn)

 

Foto: dok. Fakultas Seni Rupa dan Desain via Zoom

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 29 June 2021