Indonesia merupakan negara dengan 1.001 budaya dan batik adalah salah satunya. Batik juga memperoleh pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 2 Oktober 2009. Maka sejak itulah setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari batik nasional.

Batik Indonesia terus mengalami perkembangan seturut dengan perubahan zaman. Dosen Program Studi S-1 Desain Komunikasi Visual, Dr. Christine Claudia Lukman, M.Ds. menceritakan bahwa desain pembuatan batik pada zaman dahulu ternyata harus melalui proses semadi (meditasi) atau pun puasa. Motif batik keraton seperti Parang dan Lereng yang berasal dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta hanya boleh digunakan oleh raja dan keluarganya. Pada saat itu, raja melarang batik untuk dijual belikan kepada masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, batik boleh dinikmati oleh setiap kalangan masyarakat dengan syarat memakai desain motif yang berbeda.

Kekayaan batik Indonesia sebenarnya bisa terlihat dari berbagai macam aspek, seperti warna, motif, dan sebagainya. Dari segi warna, batik pada awalnya menggunakan pewarna alami. Christine mencontohkannya dengan batik dari Pekalongan yang memakai pewarna alami hingga abad ke-20. Pewarna alam ini bisa didapatkan dari tumbuh-tumbuhan, seperti warna coklat yang berasal dari kayu sogan, warna merah dari akar pohon mengkudu, dan sebagainya.

Menggunakan pewarna alami tentunya dapat menjaga lingkungan karena tidak mengeluarkan limbah yang berbahaya. Namun cara ini membutuhkan proses pencelupan berkali-kali untuk mendapatkan warna yang diinginkan, mengakibatkan waktu pembuatannya menjadi lebih lama, dan membuat harga jualnya menjadi lebih tinggi. Sedangkan batik sintesis memiliki warna yang lebih terang dan juga memiliki harga yang jauh lebih murah. Hal ini membuat pewarna sintesis menjadi lebih populer untuk produksi batik di Indonesia.

Penggunaan pewarna batik alami masih dapat kita temukan di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya di Desa Ciwaringin, Cirebon. Dilansir dari buku Batik Pantura: Urat Nadi Penjaga Tradisi karya Komarudin Kudiya dan rekannya,  EKONID (Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman) pada tahun 2011 telah mengajarkan para pembatik di desa ini mengenai proses pewarnaan alami dalam sosialisasi program Clean Batik Initiative (CBI). Melalui sosialisasi ini, masyarakat diajarkan untuk mengolah dari limbah dari kulit buah durian, kulit jengkol, kulit rambutan, dan lainnya sebagai pewarna alami untuk batik.

Dari segi motif, Christine menjelaskan bahwa batik memiliki rupa-rupa yang begitu banyak di Indonesia. Contohnya batik dengan motif rusa dari Kota Bogor dan batik Belanda dari daerah Pekalongan. Ada juga batik yang mengalami perkembangan motif seperti batik Lumpia dan batik Wewe Gombel yang berasal dari Kota Semarang.

Penggunaan batik saat ini sudah tidak lagi melihat derajat atau kasta seseorang, tetapi semua orang dapat menggunakannya. Pemakaian batik sendiri sering kita jumpai pada acara-acara formal, setelan seragam sekolah, bahan dekorasi, dan masih banyak lagi. Keindahan batik tidak hanya terkenal di dalam negeri, bahkan kerap ditemukan hingga mancanegara.

Keberadaan batik adalah identitas budaya bangsa Indonesia yang patut kita banggakan dengan memakainya. Batik adalah budaya nusantara, mari kita jaga dan lestarikan!

Selamat hari Batik Nasional! (ns)

Upload pada 2 October 2019