Tahukah Anda, dengan membantu usaha pemerintah untuk memenuhi hak-hak anak dapat memperbaiki dan menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih baik di masa depan? Pemerintah juga ingin agar setiap kita diingatkan kembali mengenai hal ini dengan ditetapkannya Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap tanggal 23 Juli setiap tahunnya.

Pemerintah Indonesia menetapkan Hari Anak Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 44 Tahun 1984 tentang Hari Anak Nasional yang ditetapkan pada tanggal 19 Juli 1984. Tahun 1986 menjadi tahun pertama HAN diperingati dan hal itu terjadi setiap tahunnya hingga saat ini.

Dilansir dari website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia, “Peringatan HAN dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak”. Peringatan HAN juga diadakan untuk meningkatkan kesadaran setiap lapisan masyarakat di Indonesia akan pentingnya peran, tugas, dan kewajiban dalam memenuhi hak dan melindungi anak-anak.

Lantas, apa sajakah yang dimaksud dengan hak anak itu? Sudahkah hak itu terpenuhi? Tim Pemberitaan mencoba menghubungi salah satu dosen Fakultas Psikologi UK Maranatha, Marissa Chitra Sulastra, M.Psi.,Psikolog untuk mendapatkan informasi mengenai hal ini.

Marrisa menjelaskan hak anak yang paling sederhana adalah hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Saat ini masih banyak anak-anak yang hak dan kebutuhannya masih belum terpenuhi. Sebagai contoh, mendapatkan nama atau identitas merupakan hak dari seorang anak. Hal ini masih terkendala dengan banyaknya anak-anak yang kesulitan dalam mendapatkan akte kelahirannya, terutama untuk kaum marginal yang masih terhambat dalam mengurus akte kelahiran.

Hak anak yang lainnya adalah untuk mendapatkan pendidikan. Program Wajib Belajar 12 Tahun merupakan kewajiban bagi setiap anak Indonesia. Namun, tidak semua anak Indonesia dapat memenuhi kewajiban tersebut karena beberapa alasan, di antaranya ketidakmampuan orang tua dalam membiayai sekolah anaknya.

Untuk mendapatkan perlindungan juga merupakan hak dari seorang anak, meski demikian masih banyak orang yang lalai untuk memenuhi hak perlindungan anak ini yang berujung pada kekerasan pada anak. Di samping itu, masih banyak anak yang tidak terlindungi dalam isu penjualan anak di bawah umur dan juga pernikahan dini yang terjadi di daerah terpencil.

Dalam hal ini, peranan orang tua dianggap sangat penting karena memiliki tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan anak, mendampingi anak dalam proses tumbuh kembang, dan juga menjadi guru pertama bagi anak-anak sebelum mereka bersekolah. Orang tua dituntut untuk memperkaya diri dengan wawasan mengedukasi anak dengan teknologi yang telah berkembang sekarang dan dapat menyediakan fasilitas belajar anak yang memadai. misalnya buku dengan gambar-gambar yang menarik dan permainan yang edukatif, memberikan anak kenyamanan, memberikan hak partisipasi mereka dalam memilih sesuatu yang mereka gemari, dan memberikan tanggapan yang mengesankan atas tindakan baik mereka.

Hingga saat ini, pemerintah pun melakukan tindakan untuk pemenuhan hak anak melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dengan memberikan edukasi kepada masyarakat cara untuk mengasuh, merawat, dan menjaga anak-anak mereka dengan baik. Namun, masih ada hambatan terjadi karena kemiskinan akan materi, ilmu, dan moral pada masyarakat, sehingga menghambat usaha pemerintah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama terhadap anak-anak.

Di Hari Anak Nasional ini, mari kita ikut serta dalam usaha pemerintah dalam memenuhi hak dan perlindungan anak. Bagi Anda yang belum memiliki anak, juga dapat berpartisipasi dengan turut mengawasi dan melaporkan hal yang seharusnya tidak terjadi pada pihak berwajib. Dengan ini, kita sudah membantu untuk mempersiapkan aset penerus cita-cita bangsa.

Selamat Hari Anak Nasional! (lc/gn)

Upload pada 25 July 2019