Eco-enzyme memiliki banyak manfaat bagi kehidupan umat manusia. Hal tersebut  diketahui dari hasil penelitian Dr. Rosukon Poompanvong dan Dr. Joean Oon. Sayangnya, belum banyak masyarakat yang memanfaatkan eco-enzyme tersebut.

Dosen-dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Kristen Maranatha yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan telah mempelajari dan mempraktikkan pembuatan eco-enzyme. Mereka pun menyadari bahwa eco-enzyme memiliki segudang manfaat bagi manusia dan juga lingkungan. Manfaat tersebut mencakup kesehatan, pertanian, maupun untuk peningkatan kualitas lingkungan. Hal tersebutlah yang membuat dosen-dosen FSRD yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengolah eco-enzyme tidak duduk diam.

Tim dosen FSRD mendapatkan kesempatan dari Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) Gereja Kristen Pasundan Kota Bandung untuk menyampaikan presentasi dan mengadakan workshop tentang eco-enzyme pada 11 November 2021. Presentasi tentang manfaat dan cara membuat eco-enzyme disampaikan oleh Dra. Nina Nurviana, M.Ds. dan Elliati Djakaria Sutjiawan, Dipl.Ing., M.Min., dengan moderator Dr. Dra. Seriwati Ginting, M.Pd.

Membuat eco-enzyme tidak sulit, yang penting ada kemauan dan kesadaran bahwa yang dilakukan ini penting untuk kesehatan dan kebersihan lingkungan. Bahan yang dibutuhkan adalah (1) gula merah/molase, (2) kulit buah, sisa sayuran, buah afkir, buah memar, dan (3) air (air sumur, air hujan, air buangan AC, maupun air galon). Semua bahan tersebut dicampur dengan perbandingan 1:3:10. Sebagai contoh jika gula merah 1 ons, maka kulit buah/sayuran 3 ons dan air sebanyak 10 ons. Semua bahan ini kemudian difermentasi selama tiga bulan. Setelah masa penyimpanan selesai, bahan tersebut dapat disaring dan airnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Para peserta yang merupakan guru-guru TK hingga SMP sangat antusias dengan dengan kegiatan ini, khususnya pada sesi workshop. Dengan bahan yang telah dipersiapkan panitia, para peserta dengan mudah dan siap untuk mempraktikkan materi yang sebelumnya telah dijelaskan.

Dalam sesi workshop, seluruh peserta terlibat aktif, mulai dari mencuci, memotong, menimbang, hingga memasukan semua bahan ke wadah yang telah dipersiapkan untuk dibawa pulang oleh masing-masing peserta. Tim panitia tidak lupa membawa contoh eco-enzyme yang sudah siap digunakan dengan menjelaskan ragam manfaat yang diperoleh.

Metode eco-enzyme ini tidak disarankan untuk diperjualbelikan oleh sang penemu, tetapi diberikan secara gratis agar dapat dimanfaatkan secara luas untuk kesejahteraan masyarakat. Eco-enzyme memiliki beragam manfaat, antara lain sebagai pupuk tanaman, pembersih kloset, pengusir tikus, sabun cuci piring, pembersih sayuran, obat kumur, dan lain-lain.

Dengan panduan-panduan yang diberikan, panitia berharap agar informasi yang didapatkan dapat diberikan juga kepada para siswa dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal mereka. (gn)

 

Foto: dok. Fakultas Seni Rupa dan Desain Maranatha

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 9 February 2022