Hasil penelitian yang dilakukan oleh Research on Improving System of Education (RICE) dan Kemendikbudristek tahun 2021, menunjukkan bahwa terjadi tren penurunan partisipasi siswa dalam aktivitas belajar selama pembelajaran jarak jauh. Hal ini terjadi di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi. Kondisi sebenarnya bukan saja terjadi pada saat pembelajaran jarak jauh, tetapi teramati pula oleh guru saat pembelajaran luring. Sebanyak 112 pendidik (guru dan dosen) menyatakan bahwa pada umumnya siswa menunjukkan sikap yang cenderung pasif dan kurang kreatif (Rohinsa, Cahyadi, Djunaidi, & Iskandar, 2019).

Padahal menurut para pendidik, capaian pembelajaran di Kurikulum 2013 untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, Kurikulum KKNI untuk jenjang pendidikan tinggi, serta tuntutan situasi pembelajaran saat ini, menuntut siswa bukan hanya sekadar “menerima” apa yang disampaikan oleh pendidiknya, tetapi siswa dituntut untuk lebih aktif, mengeksplorasi kemampuan diri yang dimiliki terkait kegiatan belajar, lebih aktif dan kreatif dalam mencari hal-hal yang terkait dengan materi melalui berbagai sumber.

Kesimpulan dari hal tersebut adalah untuk memenuhi tuntutan Kurikulum 2013 maupun Kurikulum KKNI. Siswa diharapkan lebih aktif berpartisipasi saat belajar, mandiri atau berinisiatif mencari berbagai sumber untuk menyelesaikan tugas, dan kreatif dalam usaha memahami pelajaran. Simpulan ini merujuk pada suatu konsep psikologi yaitu keterikatan siswa terhadap aktivitas belajarnya di kelas. Selanjutnya, saya akan menggunakan istilah engagement. Yang dimaksud memiliki engagement adalah siswa yang menunjukkan partisipasi aktif dalam aktivitas belajar yang disertai dengan emosi yang positif (Skinner & Belmont, 1993).

Data hasil penelitian terhadap 1.352 siswa Kota Bandung menunjukkan bahwa lebih banyak siswa yang menunjukkan engagement yang rendah (53,49%) dibandingkan engagement yang tinggi (46,51%) (Rohinsa, Cahyadi, Djunaidi, & Iskandar, 2020). Data ini menggambarkan masih sebagian siswa yang menunjukkan usaha terbaiknya dalam belajar dan masih sebagian siswa yang menikmati aktivitas belajarnya. Padahal tuntutan kurikulum di semua jenjang pendidikan dan pembelajaran saat ini menuntut agar siswa menjadi siswa yang aktif, kreatif, dan mandiri.

 

Rintangan Akademik Menjadi Penghambat

Pada umumnya memang terjadi penurunan partisipasi siswa terhadap aktivitas belajar selama proses pendidikan. Hal ini terutama disebabkan siswa mengalami tuntutan akademik yang berat pada jenjang pendidikan yang sedang ditempuhnya (Wang & Eccles, 2012). Beratnya beban siswa saat menjalankan kegiatan belajar juga tergambar dari survei KPAI yang menunjukkan dari 1.700 siswa di Indonesia 79,9% menghayati bahwa mereka mengalami tekanan saat menjalankan pembelajaran jarak jauh. Demikian pula hasil penelitian kami yang menunjukkan dari 1.352 siswa di Kota Bandung 98,5% di antaranya menghayati mengalami rintangan akademik saat belajar.

Adapun yang mereka hayati sebagai rintangan akademik adalah masalah-masalah dalam bidang akademik yang sifatnya ringan tetapi rutin mereka hadapi atau yang dapat diistilahkan dengan daily hassles, misalnya tugas yang banyak dan waktu mengerjakan yang terbatas, sulit memahami pelajaran, dan bosan dalam belajar. Meskipun rintangan akademik ini ringan dan sifatnya berupa masalah sehari-hari, tetapi siswa tetap harus mampu mengatasinya agar tidak berkembang menjadi masalah akademik yang besar. Oleh karena itu, seluruh siswa perlu memiliki kemampuan untuk mengatasi rintangan akademik atau yang diistilahkan dengan academic buoyancy (Martin & Marsh, 2006).

Ternyata hasil penelitian kami menunjukkan hanya 58,843% siswa yang memiliki kemampuan mengatasi rintangan akademik atau academic buoyancy yang tinggi dan sisanya sebanyak 41,57% siswa memiliki kemampuan mengatasi rintangan akademik yang rendah (Rohinsa, Cahyadi, Djunaidi & Iskandar, 2020). Padahal kemampuan mengatasi rintangan akademik merupakan faktor yang sangat penting untuk membentuk keterikatan siswa terhadap aktivitas belajar (Martin & Marsh, 2009). Dapat dikatakan siswa perlu memiliki academic buoyancy agar dapat menunjukkan perilaku yang aktif, kreatif dan mandiri. Hal ini juga terkonfirmasi dari penelitian pendahuluan kami yang menunjukkan bahwa kemampuan mengatasi rintangan akademik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keterikatan (Rohinsa, Cahyadi, Djunaidi & Iskandar, 2020).

Kami menggunakan dasar teori self-determination theory (Ryan & Deci, 2017), yang menyatakan bahwa intinya adalah semua orang dapat berfungsi optimal dalam area kehidupannya, asalkan kebutuhan psikologis dasarnya terpenuhi. Artinya, siswa juga dapat berfungsi optimal dalam belajarnya, yaitu menunjukkan perilaku yang aktif, kreatif dan mandiri, apabila kebutuhan psikologis dasar dalam  dirinya terpenuhi. Menurut self-determination theory, hanya lingkunganlah yang dapat memenuhi kebutuhan psikologis dasar dalam diri seseorang. Tidak seorang pun dapat memenuhi kebutuhan psikologis dasarnya sendiri.

 

Tiga Kebutuhan Dasar

Semua orang memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar yaitu: 1) kebutuhan merasa dirinya mampu atau need of competence, 2) kebutuhan merasa dirinya tidak terpaksa dalam melakukan sesuatu atau need of autonomy, 3) kebutuhan diterima oleh lingkungannya atau need of relatedness. Ketiga kebutuhan psikologis dasar ini dapat dipenuhi apabila lingkungan memberikan kepercayaan dan kesempatan atau autonomy support, panduan dan arahan atau structure, dan perhatian atau empati atau involvement.

Apabila lingkungan memberikan ketiga bentuk dukungan tersebut secara selaras dan konsisten maka siswa akan memiliki pandangan bahwa dirinya mampu (sense of competence), dirinya tidak terpaksa (sense of autonomy), dan dirinya diterima atau dihargai (sense of relatedness).

Apabila kita melihat sebaran data yang diperoleh mengenai penghayatan siswa terhadap dukungan orang tua, diperoleh gambaran bahwa sebagian besar siswa menghayati bahwa orang tua menekankan pada pemberian dukungan materi dan batasan aturan, panduan (structure tinggi) dan menekankan pada bantuan dan perhatian (involvement tinggi), tetapi kurang memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada anaknya (autonomy support yang rendah). Demikian juga temuan kami menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menghayati pendidik menekankan pada aturan saat berinteraksi dengan siswanya (structure tinggi), membantu siswa dalam memahami materi (involvement tinggi), tetapi kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih cara belajar yang diminati siswa dan cara mengajar guru juga kurang menarik (autonomy support rendah).

Mari kita lihat bagaimana dampak dari dukungan yang diberikan oleh orang tua dan pendidik ini terhadap pandangan siswa terhadap dirinya. Temuan kami menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki pandangan bahwa mereka memiliki kedekatan dengan orang tua dan gurunya (sense of relatedness tinggi), tetapi mereka memiliki pandangan bahwa dirinya kurang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas (sense of competence rendah) dan terpaksa dalam belajar (sense of autonomy rendah).

Data di atas menggambarkan masih belum idealnya dukungan yang diberikan oleh orang tua dan pendidik. Dosen dan orang tua masih lebih menekankan pada structure dan involvement, tetapi belum memberikan autonomy support atau kepercayaan dan kesempatan kepada siswa. Sebagai dampaknya kita bisa melihat bahwa sebagian besar siswa merasa memiliki kedekatan dengan orang tua dan pendidiknya (sense of involvement), tetapi mereka merasa kurang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan tugas (sense of competence) dan terpaksa dalam belajar (sense of autonomy).

Sebagai dampaknya, pada saat siswa menghadapi rintangan akademik, siswa akan kurang percaya diri dan terbiasa untuk dibantu oleh orang tua maupun pendidiknya. Hal inilah yang membuat siswa menjadi kurang aktif, kreatif, dan mandiri.

 

Dukungan Orang Tua dan Pendidik Sangat Diperlukan

Agar siswa dapat memiliki keterikatan dalam belajar, maka sangat diperlukan keselarasan dan kekonsistenan dukungan orang tua dan guru. Artinya, baik orang tua maupun guru harus memberikan dukungan berupa kepercayaan dan kesempatan (autonomy support), panduan dan arahan (structure), dan perhatian atau empati (involvement) secara konsisten. Keselarasan dan kekonsistenan dukungan orang tua dan guru terbukti dapat memperkuat persepsi diri siswa bahwa dirinya mampu atau memiliki sense of competence, tidak terpaksa atau memiliki sense of autonomy dan dihargai atau memiliki sense of relatedness.

Dengan memiliki sense of competence, maka pada saat siswa menghadapi rintangan akademik siswa tetap memiliki perasaan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasinya, atau siswa yakin untuk dapat mengatasinya. Dengan memiliki sense of autonomy atau perasaan tidak terpaksa, akan membuat siswa lebih bertanggung jawab dan berusaha mencari cara yang terbaik pada saat mereka dihadapkan pada rintangan akademik. Selain itu, dengan memiliki sense of relatedness atau perasaan diterima oleh lingkungannya, siswa akan memiliki perasaan aman, mereka lebih percaya diri untuk mengeksplorasi berbagai cara yang tepat untuk mengatasi rintangan akademik yang dihadapinya.

Ketiga pandangan diri ini tentu saja akan sangat mendukung siswa saat menghadapi rintangan akademik, sehingga akan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengatasi rintangan akademik atau academic buoyancy-nya. Selanjutnya, dengan teratasinya rintangan akademik yang dihadapi siswa, membuat siswa lebih merasa nyaman, senang dalam belajar sehingga terdorong untuk menunjukkan perilaku yang aktif, kreatif, dan mandiri.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kebutuhan siswa akan dukungan dari orang tua dan pendidiknya akan berbeda di setiap jenjang pendidikannya. Semakin meningkat usia siswa dan semakin tinggi tingkat pendidikan siswa, maka akan semakin meningkat kebutuhan mereka akan kepercayaan dan kesempatan dari orang tua dan gurunya (autonomy support), semakin berkurang kebutuhan mereka akan panduan dan arahan (structure), dan bantuan dan perhatian (involvement) dari orang tua dan pendidiknya.

 

Falsafah Ki Hajar Dewantara

Sebenarnya, apa yang saya sampaikan sejalan dengan falsafah pendidikan Indonesia yang diungkapkan oleh bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, yaitu “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”

Ing ngarsa sung tuladha artinya sebagai pendidik, baik guru, dosen, maupun orang tua, harus berada di depan siswa memberikan teladan. Tentunya dengan memberikan contoh, arahan, panduan, batasan, aturan agar siswa tidak salah melangkah. Hal ini merupakan bentuk nyata dari structure yang dapat diberikan oleh pendidik dan orang tua.

Seiring dengan bertambahnya usia anak atau siswa, dan bertambah tinggi tingkat pendidikan mereka, maka kita harus mundur sedikit mengambil posisi di tengah-tengah anak maupun siswa dengan membangun semangat, memberikannya kepercayaan dan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Hal inilah yang disebut dengan ing madya mangun karsa dan sekaligus juga merupakan bentuk nyata dari autonomy support yang dapat diberikan oleh pendidik dan orang tua.

Lalu, kita tidak boleh lupa untuk tetap mendukung siswa dari belakang atau tut wuri handayani, dengan memberikan dorongan semangat, perhatian, empati, dan support emosional. Hal ini merupakan bentuk nyata involvement yang dapat diberikan oleh pendidik dan orang tua. Oleh karena itu, mari kita sebagai pendidik dan orang tua bergandengan tangan untuk memberikan autonomy support, structure, dan involvement secara konsisten sebagai wujud dari falsafah pendidikan di Indonesia, guna membentuk siswa di Indonesia yang tangguh menghadapi rintangan akademik dan menunjukkan perilaku yang aktif, kreatif, dan mandiri dalam belajar.

 

Orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-56 UK Maranatha
15 September 2021

 

Ditulis oleh:

Dr. Meilani Rohinsa Sitompul, M.Psi., Psikolog

Dosen Fakultas Psikologi UK Maranatha; Staf Ahli di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan, Pusat Kurikulum dan Perbukuan

 

Foto: dok. Medkom Maranatha

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 24 September 2021