Sampah dan cara-cara mendaur ulangnya telah menjadi isu global sejak lama. Sebuah studi memperlihatkan bahwa 60% dari total sampah di Indonesia merupakan sampah organik. Penumpukan dan pembusukan sampah di TPA yang tidak diolah dengan baik akan menghasilkan gas metana yang berkontribusi pada pemanasan global, kerusakan ekosistem, dan perubahan iklim.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dra. Nina Nurviana, M.Ds. sebagai pemberi materi dalam kegiatan pelatihan pembuatan eco-enzyme yang diadakan oleh Ikatan Kekeluargaan Perempuan Maranatha (IKPM), 2 Oktober 2021. Materi tentang eco-enzyme sangat menarik untuk diperkenalkan sebagai salah satu cara mendaur ulang sampah organik menjadi produk yang berguna dan memiliki nilai jual.

 

Cara Membuat Eco-Enzyme

Eco-enzyme merupakan larutan hasil fermentasi sisa bahan organik (buah dan sayuran), gula dan air. Larutan berwarna coklat tua dengan bau mirip cuka ini dapat memberikan manfaat dan dampak luas bagi masyarakat dari segi lingkungan, ekonomi, kesehatan, bahkan kecantikan.

Pembuatan larutan ini cukup sederhana tetapi memerlukan ketelatenan. Caranya adalah dengan mencampurkan air, sisa buah atau sayur yang sudah dicuci bersih, dan gula, ke dalam sebuah wadah tertutup. Komposisinya mengikuti rumus 1:3:10, artinya 10 bagian air, 3 bagian sisa buah-sayur, dan 1 bagian gula. Gula yang dimaksud adalah molase atau gula merah dengan kualitas terbaik, karena jenis gula dapat memengaruhi kualitas produk eco-enzyme yang dihasilkan.

Setelah semua bahan dicampur, wadah tertutup harus disimpan di tempat kering dan sejuk. Buka penutup wadah setiap hari pada minggu pertama untuk menghilangkan gas hasil fermentasi. Kemudian buka penutup wadah setiap dua hari sekali pada minggu kedua, ketiga, dan tutup terus sampai tiga bulan penyimpanan sebelum siap dipanen.

Dra. Nina Nurviana, M.Ds. juga menyampaikan bahwa aroma eco-enzyme tergantung pada bahan organik yang diolah. Jika ingin mendapatkan aroma yang segar, maka memasukkan kulit jeruk adalah solusinya. Resep eco-enzyme juga dapat dimodifikasi menjadi produk sabun cair dengan menambahkan 1 bagian lerak kering tanpa biji pada saat pencampuran awal.

 

Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Produk eco-enzyme bersifat aman, mudah terurai, dan tidak berbahaya bagi manusia dan lingkungan karena bebas dari bahan kimia. Bermacam-macam produk ramah lingkungan dapat dihasilkan dari pembuatan eco-enzyme.

Pelatihan pembuatan eco-enzyme yang diadakan oleh IKPM tersebut merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilandasi kepedulian terhadap permasalahan sosial di sekitar, yaitu tentang pengolahan limbah organik menjadi produk eco-enzyme. Kegiatan ini melibatkan tenaga pengajar lintas program studi di UK Maranatha, dan hampir 40 guru dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (MGMP PKWU) Kota Bandung.

Setelah mengenal dan dapat membuat eco-enzyme, hal ini tentu saja berguna dan menjadi ide usaha kreatif dan kewirausahaan, sesuai dengan tujuan MGMP PKWU Kota Bandung. Teori, manfaat, video tutorial pembuatan eco-enzyme dan sesi tanya jawab yang telah dilakukan dalam kegiatan tersebut menciptakan ruang kepedulian dan ruang bertukar ilmu. IKPM melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini secara tidak langsung telah mempromosikan gaya hidup berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.

 

Ditulis oleh:
Tessa Eka Darmayanti, M.Sc., Ph.D.
Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain UK Maranatha

 

Foto: Materi presentasi pelatihan pembuatan eco-enzyme oleh Dra. Nina Nurviana, M.Ds.

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 29 October 2021