Sungai Citarum kembali mencuat menjadi topik pembicaraan banyak orang sejak dicanangkannya program Citarum Harum, empat tahun lalu. Program nasional ini direncanakan berjalan hingga tujuh tahun berikutnya, melibatkan lima unsur pelaksana yang disebut dengan pentahelix. Sungai Citarum yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu sungai terkotor di dunia, saat ini tengah berangsur membaik.

Implementasi program Citarum Harum diwujudkan dengan banyak cara, oleh banyak pihak. Contohnya adalah gerakan penghijauan, proyek normalisasi, pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), hingga pengawasan, penegakan hukum, dan pemberian sanksi kepada pabrik-pabrik yang tidak memenuhi ketentuan pengolahan limbah. Gerakan edukasi dan pemberdayaan masyarakat juga tidak kalah penting digiatkan sebagai ujung tombak perubahan perilaku untuk pelestarian sungai.

Prima Mayaningtyas, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat mengatakan bahwa upaya pelestarian lingkungan khususnya Sungai Citarum tidak bisa dilakukan sendirian. Semua komponen pentahelix harus bersama-sama berkolaborasi, sekecil apa pun upaya yang bisa dilakukan. Prima mengungkapkan hal tersebut saat peluncuran buku The Future of Ideas: Wisata DAS Cikapundung dan Bercermin di Wajah Sungaiku: Kumpulan Esai tentang Citarum dan Sungai Kita di Bandung (16/3/2022).

 

Kepedulian 21 Penulis Esai

 

Kedua buku tersebut merupakan salah satu perwujudan upaya pelestarian Sungai Citarum yang dilakukan oleh komunitas penulis dan akademisi, sebagai bagian dari unsur pentahelix. Buku The Future of Ideas: Wisata DAS Cikapundung ditulis oleh Gai Suhardja, seorang akademisi dan pegiat lingkungan hidup. Gai bersama Satgas Citarum Harum dan komunitas masyarakat bantaran sungai telah lama berkecimpung menggerakkan revitalisasi Sungai Cikapundung dan Citarum.

Sebagai seorang akademisi, Gai juga menggerakkan rekan-rekan di lingkungan perguruan tinggi untuk ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian sungai. Ia bersama dengan komunitas Maranatha Writers and Readers Club (MWRC) pun menerbitkan buku berjudul Bercermin di Wajah Sungaiku: Kumpulan Esai tentang Citarum dan Sungai Kita.

Buku Bercermin di Wajah Sungaiku: Kumpulan Esai tentang Citarum dan Sungai Kita berisi 21 karya esai dari 21 penulis, yang sebagian besar adalah akademisi Universitas Kristen Maranatha. Mereka adalah: Abram Pratama, Anny Nurbasari, Anton Sutandio, Belinda Sukapura Dewi, Dedeh Supantini, Demes Chornelia, Gai Suhardja, Heru Susanto, Iwan Santosa, Lois Denissa, Maria Christine, Mariska Elisabeth, Meilinah Hidayat, Ratnadewi, Rene Arthur, Ria Wardani, Rosa Permanasari, Susy Tjahjani, Teresa Liliana Wargasetia, dan Tiur Gantini.

 

Baca juga: Maranatha Adakan Lokakarya Penulisan Esai dan Foto Esai “Sungai dan Kita”

 

Ajakan untuk Mencintai Sungai

 

Esai pendahuluan buku ini ditulis oleh Eka Budianta, seorang esais nasional yang kerap menulis tentang lingkungan hidup, pariwisata, pendidikan, dan sosial politik di banyak media publikasi nasional maupun internasional. Eka Budianta dalam esainya yang berjudul “Citarum dan Indonesia” menuliskan pentingnya menghormati sungai, ibu yang melahirkan peradaban manusia. Ia menyebutkan beberapa sungai sebagai perbandingan, yaitu Sungai Tiber untuk Roma, Sungai Musi untuk Palembang, Sungai Gangga bagi India, dan Sungai Han yang melahirkan Han Kuk – Negeri Han alias Korea.

Eka Budianta dalam penutup esainya berpesan, “Mari mencintai sungai di mana pun kita berada. Mencintai sungai perlu kerja keras, terus menerus dan selamanya.”

Letjen TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Doni Monardo, sang penggagas Citarum Harum mengungkapkan bahwa buku ini mengingatkan kita agar tetap awas dan terjaga bahwa betapa penting memelihara lingkungan hidup, dalam hal ini problema sungai-sungai yang telah dikotori limbah sampah akibat perilaku manusia. “Untuk itulah, inisiatif dan semangat melakukan perubahan perilaku bagi masyarakat harus terus menerus digaungkan dan diimplementasikan secara konkret,” tulis Doni Monardo dalam sambutan buku. (is/gn)

 

Foto: IG @kayainspirasi

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 25 March 2022