Dalam merenungkan peringatan HUT ke-75 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tujuh puluh lima tahun adalah usia yang terbilang panjang, sehingga sebagai sebuah negara dan bangsa yang besar dan majemuk kita patut mensyukurinya. Apalagi, sebagaimana tertuang di dalam Mukadima UUD 1945, kita meyakini dengan sungguh bahwa kemerdekaan Indonesia adalah berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu, puji-syukur patutlah kita berikan kepada Allah Pencipta bangsa-bangsa.

Peringatan HUT Proklamasi tahun ini tentu sangat berbeda dari perayaan-perayaan sebelumnya. Tahun ini Indonesia dan dunia dilanda pandemi global Covid-19. Pandemi ini tidak hanya menyebabkan kesakitan dan kematian fisik, tetapi melahirkan krisis dalam berbagai sektor kehidupan. Ada kecemasan dan ketakutan yang meluas, sebab kita belum tahu secara pasti kapan pandemi ini akan berakhir. Sementara itu, krisis terus meluas masif ke dalam berbagai bidang . Bahkan, Indonesia dunia kini dihadang oleh ancaman resesi ekonomi global.

Resesi dapat memunculkan banyak persoalan sosial baru, seperti meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran, melebarnya jurang kesenjangan, kejahatan meningkat, dan bisa memicu kerusuhan sosial. Bayang-bayang ini menghantui banyak orang, membuat kecemahasan dan ketakutan meningkat. Dalam situasi ini, Universitas Kristen Maranatha melalui Badan Pelayanan Kerohanian menyelenggarakan Webinar dengan tema “Berani Berada/Mengada, The Courage To Be”. Tampil sebagai pembicara adalah Yohanes Bambang Mulyono, Pendeta Universitas-Universitas Kristen Maranatha,  dan Jacky Manuputty, Sekertaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), yang popular dikenal sebagai “Provokator Damai,” dan dimoderatori oleh Hariman Pattianakotta, Pendeta Universitas-UK. Maranatha.

The Courage To Be adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh teolog dan filsuf asal Jerman, Paul Tillich ( 20 Agustus 1886-22 Oktober 1965). Tillich hidup dalam konteks Jerman yang dilanda oleh Perang Dunia,  genocida yang dilakukan oleh Hitler terhadap orang-orang Yahudi, dan berbagai krisis yang menyertainya. Konteks semacam ini tentu semakin menyembulkan kecemasan dan ketakutan. Bagi Tillich, kecemasan adalah sesuatu yang tak berobjek. Kecemasan itu inheren pada manusia. Kecemasan merupakan sesuatu yang eksistensial. Ia sama sekali tidak bisa dihilangkan. Ia hanya bisa dikelola.

Sebaliknya, ketakutan itu berobjek. Misalnya, orang yang takut terhadap mereka yang beragama lain; takut terhadap budaya yang berbeda. Singkatnya, manusia takut dan merasa terancam dengan keberadaan orang lain. Di dorong oleh ketakutan itu, manusia bertindak seolah-olah dia dan kelompoknya adalah orang-orang super, seperti Hitler dan gagasan Ubermensch di Jerman. Padahal, pembantaian keji terhadap orang Yahudi dan orang-orang cacat/disabilitas di masa itu justru memperlihatkan betapa mereka adalah manusia-manusia rapuh yang dituntun oleh ketakutan. Mereka teralienasi, terasing sendiri dengan mengasingkan dan membinasakan orang lain yang berbeda dengannya. Mereka lebih buruk dari yang mereka angankan.

Lalu, bukankah dalam kadar tertentu situasi serupa kita temukan juga dalam kehidupan sosial sehari-hari di Indonesia?  Ada kelompok-kelompok tertentu yang merasa lebih berhak di negara dan bangsa ini ketimbang warga negara yang berbeda golongan politik dan agama dengannya. Ada orang dan kelompok tertentu yang merasa lebih pribumi dari yang lain. Kondisi tersebut memudian melecut praktik-praktik politisasi SARA, bahkan menyebabkan meletupnya konflik-konflik sosial yang berbasis pandangan primordialistik. Lantas, tercipta segregasi dalam kehidupan sosial-kebangsaan. Sesama warga negara kemudian saling mengalienasi dirinya.

Realitas alienasi itu bisa kita lihat dalam berbagai bidang kehidupan,  termasuk dalam kehidupan ekonomi. Kita mengingat misalnya kritik Karl Marx atas dominasi Kapitalisme. Para buruh bekerja sedemikian rupa, tetapi mereka tidak berhak atas pekerjaannya. Buruh hanyalah properti dari para majikan pemberi kerja. Meminjam filsafat Martin Buber, di sini manusia diperlakukan tidak lebih dari It/benda. Relasi buruh dan majikan bukan lagi relasi antar manusia, tetapi relasi I-It, Aku dan Benda. Inilah situasi alienasi, situasi yang sangat tidak manusiawi. Paul Tillich menyebutnya ketiadaan, non-being.

Dalam Webinar yang sudah berlangsung pada 12 Agustus kemarin, kedua narasumber mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 yang terjadi yang menimbulkan ketakutan dan membangkitkan kecemasan, justru memperlihatkan bahwa setiap manusia pada dasarnya rapuh. Tidak ada satu pun manusia, apa pun ideologi politik dan agamanya, yang lebih besar atau lebih hebat dari yang lain. Tua atau muda, kaya atau pun miskin, rakyat jelaya atau pejabat, semua bisa digebuk pagebluk Covid-19 dan berakhir dengan kematian atau kesembuhan.

Karena itu, kedua narasumber mengangkat kembali pemikiran Paul Tillich untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan bersama yang dialami di masa kini. Kecemasan dan ketakutan tersebut mesti dikelola, yaitu dengan masuk ke kedalaman kemanusiaan untuk menemukan keberanian mengada. Pertama adalah berani menerima diri sendiri. Berani menerima dan merengkuh kerapuhan diri sebagai seorang manusia, yang bahkan di hadapan Covid-19 yang super kecil itu, kita seperti tak kuasa melawannya. Kedua,  berani berelasi dan berpartisipasi dengan yang lain. Hidup ini terlalu besar untuk dijalani seorang diri. Kita selalu membutuhkan yang lain. Berjalan dan berpartisipasi bersama yang lain justru akan membuat kehidupan,  yang walaupun terus dibayangi oleh kematian, menjadi lebih bermakna.

Ketiga, keberanian itu akan terus hidup dan menjadi kekuatan ketika manusia menyerahkan diri ke dalam kuasa transendensi, atau Allah, yang disebut Sang Ultima, Allah di atas segala Allah. Allah ini yang merengkuh manusia dalam segala keterbatasannya, maka manusia perlu berserah kepada Sang Ultim itu untuk bisa terus melangkah dalam keterbatasan dengan penuh harapan.

Ketiga bentuk keberanian itu sangat dibutuhkan oleh umat manusia dan bangsa-bangsa, termasuk kita yang hidup di Indonesia; kita yang merayakan HUT ke-75 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dalam Mukadima UUD 1945, kita bersama mengaku: Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Ini pengakuan bersama kita, yang tidak lain adalah sebentuk keberanian untuk mengada bersama sebagai negara-bangsa Indonesia. Merdeka!

 

Hariman A. Pattianakotta – Pendeta UK. Maranatha

Foto:

– dok. Pinterest

– dok. Bidang Media & Komunikasi

 

 

 

Upload pada 17 August 2020