Hari ini, 17 Agustus 2020. Kita mengingat-rayakan peristiwa 75 tahun lalu. Bertempat di Pegangsaan Timur, Soekarno dan Hatta, di bawah desakan pemuda, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia atas nama bangsa Indonesia.

Peranan kaum muda dalam pergerekan kemerdekaan Indonesia memang sangatlah penting. Soekarno dan Hatta sendiri berjuang sejak mereka masih begitu muda. Jong Ambon, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Jawa, Jong Sumatera, dan organisasi kepemudaan lainnya gigih berjuang memperebutkan kemerdekaan. Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan melalui perjuangan semua kelompok masyarakat, Indonesia menjadi bangsa dan negara merdeka.

Akan tetapi, kemerdekaan sejati bukan sekadar merdeka dari imperialisme bangsa asing, tetapi juga merdeka dari kesempitan berpikir; merdeka dari kebencian dan fanatisme. Merdeka untuk menghidupi nilai-nilai penting sebagaimana yang tertuang di dalam Pancasila yang dijadikan sebagai dasar dan falsafah hidup bernegara.

Indonesia memiliki banyak tokoh dan guru bangsa yang berjuang mengisi kemerdekaan dengan berbasis pada nilai-nilai luhur Pancasila. Dua di antaranya adalah T. B. Simatupang atau Pak Sim dan Abdurrahman Wahid atau yang lazim kita sapa Gus Dur.

Pak Sim adalah peletak dasar pembangunan TNI yang modern dan profesional. Sapta Marga TNI adalah salah satu warisan Simatupang. Dan ketika Gus Dur menjadi presiden, ia kemudian memisahkan peran tentara dan polisi sehingga benar-benar menjadi profesional.  Peran politik tentara dihapus dan dikembalikan ke barak pertahanan.

Dalam Webinar yang diselenggarakan oleh UK. Maranatha melalui Badan Pelayanan Kerohanian dan Lembaga Kependetaan tepat pada 17 Agustus, Alissa Wahid dan Pdt. Gomar Gultom mengungkap banyak warisan penting dari kedua tokoh bangsa itu untuk diteladani oleh kita yang hidup di masa kini, khususnya orang-orang muda.

Baik Pak Sim maupun Gus Dur, mereka sangat menjunjung tinggi falsafah dan nilai-nilai Pancasila. Karena itu, mereka mendorong implementasi Pancasila. “Pembangunan sebagai pengalaman Pancasila” sangat getol disuarakan oleh Pak Sim. Ia terus mendorong gereja dan umat Kristen untuk terlibat secara positif, kritis, kreatif, dan realistis. Apalagi, Ketika Pak Sim menjabat sebagai ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Semangat gereja berpartisipasi membangun bangsa terus digelorakannya.  Gereja tidak boleh ada hanya untuk dirinya sendiri, tetapi ada bagi yang lain.

Demikian halnya dengan Gus Dur. Bertolak dari posisinya sebagai ulama, ia mendorong tumbuhnya Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Bagi Gus Dur, Islam juga harus menjadi rahmat bagi semua, bukan hanya bagi kelompok Islam. Islam rahmatan lilalamin. Dengan semangat ini, Gus Dur ikut membangun gerakan masyakat sipil yang progresif di Indonesia. Ia bergiat dengan tokoh lintas iman membangun gerakan sosial untuk perubahan.

Ketika dipercaya sebagai presiden, fondasi dan pilar demokrasi dibangun Gus Dur. Inilah warisan Gus Dur yang paling penting. Lembaga KPK, Ombusman, dan Komisi Yudisial adalah pilar-pilar demokrasi penting yang dibangun di era Gus Dur. Presiden Gus Dur sangat humanis dan menghargai kemajemukan. Ia memberikan ruang seluas-luasnya bagi orang Indonesia dari etnis Tionghoa. Konghucu diakui sebagai salah satu agama. Gus Dur sangat humanis dalam mendekati masalah Papua. Di masa Gus Dur, tidak ada penangkapan aktivis Papua. Semua masalah didekati dalam perspektif kemanusiaan. Dalam paparan Allisa, putri suling Gus Dur, kemanusiaan lebih penting dari politik.

Pak Sim dan Gus Dur adalah pribadi yang berkarakter kuat dan memperdulikan kepentingan masyarakat dan bangsa. Mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Ketika jabatan Kepala Staf Angkatan Perang dihapus Soekarno, Simatupang tidak melakukan manufer politik. Ia malah meminta pensiun dini, dan berkiprah dalam pelayanan sosial dan gereja. Saat itu, Simatupang berpangkat Letnan Jenderal dan baru berusia 39 tahun. Demikian juga dengan Gus Dur, tatkala dilengsengkar dari kursi kepresidenan, ia lebih Kembali dengan tenang ke dalam kehidupan masyarakat dengan jiwa seorang kesatria. Ia tidak memikirkan ambisi dan kepentingan pribadinya.

Baik pak Sim maupun Gus Dur telah memberikan legacy yang berharga bagi bangsa ini. Mereka memberikan teladan kepemimpinan yang patut kita rawat dan sebarluaskan. Demokrasi yang berlandaskan Pancasila yang ingin mereka perjungkan. Bukan untuk kalangan sendiri, tetapi untuk seluruh masuarakat Indonesia. Mereka teguh dengan iman mereka, tetapi serentak mereka sangat menghargai iman orang lain. Misi atau dakwah bagi mereka bukan kristenisasi atau islamisasi, tetapi membangun masyarakat yang adil sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bagi keduanya, Pancisila menjadi jembatan penghubung agama dan negara. Karena itu, penghayatan dan pengamalan Pancasila yang harus dilakukan. Bukan sebatas jargon, tetapi sebagai nilai yang dihidupi. Itulah jalan meng-Indonesia.

Jadi, berani meng-Indonesia dalam terang teladan Pak Sim dan Gus Dur, tidak lain adalah berani hidup bersama dalam perbedaan berdasarkan Pancasila yang menjadi way of life. Berani meng-Indonesia berati berani menempatkan dan membela manusia dan kemanusiaan di atas kepentingan politik primordial. Berani men-Indoensia berarti berani berani memperjuangkan keadilan bagi semua. Ketika semua orang merasa diperlakukan dengan adil, maka di situ perdamaian akan tercipta. Tanpa keadilan, demikian kata Alissa yang mengutip Gus Dur, perdamaian menjadi ilusi.

Penulis: Hariman A. Pattianakotta – Pendeta UK. Maranatha

Foto: dok. Badan Pelayanan Kerohanian via Zoom

Upload pada 17 August 2020