Disadari atau tidak, kita pernah merasa malas untuk belajar bahkan lelah untuk belajar. Di antara kita juga mungkin pernah memiliki pemikiran “Cape ah belajar, mending kerja aja, bisa dapat uang”. Namun, apakah kita pernah memikirkan sampai kapan kita akan belajar? Apakah ada patokannya untuk belajar?

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Trisa Genia C. Zega, M.Psi., Psikolog menjelaskan pengertian belajar dari segi psikologi, “Dari berbagai ahli dalam bidang psikologi dan pendidikan, belajar adalah aktivitas mental yang menimbulkan perubahan perilaku (berpikir, bersikap, berbuat) yang relatif menetap sebagai hasil dari latihan atau pengalaman”. Jadi, seseorang dapat belajar dari pengalaman hidup dan aktivitas ini akan berlangsung selama kita hidup. Kata dalam bahasa Inggris, “study” memiliki artian belajar, tetapi kata “belajar” dalam bahasa Indonesia memiliki pengertian yang lebih luas lagi dibandingkan kata study. Jika kata study hanya dibatasi oleh lingkup akademis, kata belajar tidak hanya sampai itu saja.

Trisa menjelaskan, jika ada seseorang yang lebih memilih untuk langsung bekerja daripada belajar di sebuah institusi, seperti kuliah, itu merupakan hal yang wajar. Seseorang yang memilih untuk bekerja juga tidak akan lepas dari yang namanya belajar, tetapi kesempatan belajar yang didapat akan terlaksana secara langsung. Namun, ketika ia dihadapkan dengan suatu masalah, maka orang itu akan menganggap hal itu sebagal hal yang baru dan akan cenderung mengatasinya dengan cara coba-coba karena tidak memiliki keterampilan dasar. Sedangkan, bagi orang yang melalui proses belajar melalui kuliah akan mendapatkan pengetahuan dari teori atau pengalaman orang lain, seperti penelitian yang dipelajari di kelas. Hal ini yang akan membentuk karakter dan cara berpikir seseorang untuk menjadi kritis dan mampu menganalisis suatu hal bedasarkan hal yang sudah pernah dipelajarinya selama kuliah.

Membahas mengenai proses belajar, beliau menjelaskan, sebenarnya tidak ada batasan usia seseorang untuk dapat belajar. Proses belajar telah dimulai sejak kita berada di dalam kandungan ibu dan ketika individu sudah dapat berinteraksi dengan lingungannya. Semakin meningkatnya usia seseorang, maka pada umumnya akan semakin banyak dan luas pengetahuan yang dimilikinya. Seorang manusia baru akan benar-benar berhenti belajar jika sudah tidak memiliki interaksi dengan lingkungannya atau sudah meninggal dunia.

Trisa menuturkan bahwa seseorang yang malas belajar atau tidak belajar berarti ia tidak akan mengalami perubahan perilaku walaupun sudah mengalami suatu pengalaman hidup. Perubahan yang dimaksudkan tersebut dapat berupa berpikir (dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak paham menjadi dapat menjelaskan), bersikap (tidak suka menjadi suka, mau menerima, menghidupi nilai-nilai tertentu), dan berbuat (bertindak dengan mewujudkan secara nyata dengan gerakan psikomotor). Jika seseorang menyadari manfaat dan pentingnya belajar, tentu orang itu akan belajar dan menunjukan perubahan.

Setelah membahas berbagai hal mengenai belajar, kita mungkin diingatkan kembali akan pentingnya proses belajar dalam kehidupan kita. Roy T. Bennett dalam bukunya yang berjudul The light in the heart mengatakan, “Great things happen to those who don’t stop believing, trying, learning, and being gratefull.” Kita tentunya akan melalui banyak hal dalam kehidupan, salah satunya proses belajar. Namun, pertanyaannya apakah kita mau mengikuti proses pembelajaran itu?

Memasuki semester yang baru atau perkuliahan yang baru, marilah kita mengoptimalkan waktu dan kesempatan kita yang ada dengan sebaik-baiknya. Teruslah belajar dan mengembangkan diri! (ns)

Upload pada 21 August 2019