Setiap jurusan di universitas pasti punya ciri khas masing-masing. Ciri khas ini juga yang akhirnya berujung pada stereotip masyarakat tentang jurusan tersebut. Padahal, stereotip ini tidak selalu positif, apalagi untuk para mahasiswa di sekolah kedokteran gigi. Banyak sekali stereotip yang menempel pada mereka dan kerap membuat banyak orang salah kaprah. Simak selengkapnya di bawah ini.

 

Punya Banyak Uang

Sebagaimana stereotip yang menempel pada para mahasiswa di jurusan kedokteran, para mahasiswa di jurusan kedokteran gigi juga sering mendapatkan stereotip ini. Mereka dicap punya banyak uang karena dapat berkuliah di jurusan yang “mahal”. Hal ini karena biaya peralatan yang tidak murah, ditambah lagi harus menempuh waktu studi yang lebih lama sebelum dapat resmi menjadi seorang dokter gigi.

Namun, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Banyak mahasiswa yang masuk ke jurusan kedokteran gigi karena beasiswa sehingga tidak perlu membayar biaya perkuliahan sama sekali. Ada juga yang mendapatkan keringanan biaya sehingga tidak perlu membayar penuh. Skema ini biasanya ditemukan di universitas negeri. Meskipun demikian, ada juga universitas swasta yang memberikan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi.

 

Jurusan Perempuan

Stereotip ini juga sering menempel pada mahasiswa jurusan kedokteran gigi. Hal ini karena peminat jurusan ini didominasi oleh perempuan. Namun, bukan berarti kedokteran gigi adalah bidang yang feminin atau sangat perempuan sehingga laki-laki yang mengambil studi ini dianggap kurang perkasa. Hal ini salah besar.

Sebenarnya, alasan mengapa jurusan kedokteran gigi lebih banyak diminati oleh perempuan adalah karena sifat kerjanya yang mengedepankan ketelitian yang tinggi. Rongga mulut adalah tempat yang sangat kecil dan gelap. Karena itu, dibutuhkan ketelitian ekstra untuk dapat melihat dan mendiagnosis masalah-masalah di dalamnya. Kalau pernah datang ke dokter gigi, Anda tentu tahu bahwa mereka menggunakan cermin kecil untuk menemukan masalah gigi dan mulut Anda.

Mengingat sifat perempuan yang terbiasa bekerja dengan sangat teliti dan fokus pada detail, jurusan ini pun akhirnya jadi lebih banyak diminati oleh perempuan. Namun, banyak juga laki-laki yang menjadi mahasiswa di kedokteran gigi dan dapat menjadi dokter gigi pada akhirnya. Jadi, stereotip ini sangat melenceng dari kebenaran.

 

Gagal Masuk Jurusan Kedokteran

Banyak yang meremehkan mahasiswa di jurusan kedokteran gigi karena dianggap sebagai “buangan” dari jurusan kedokteran. Padahal, ada alasan mengapa fakultas kedokteran dan kedokteran gigi adalah dua fakultas yang berbeda. Hal ini karena bidang kedokteran gigi sangatlah kompleks. Mempelajari 32 gigi pada manusia, lalu kaitannya dengan saraf dan bagian tubuh lainnya saja sudah sulit. Oleh sebab itu, fakultas kedokteran gigi menjadi fakultas tersendiri karena materi pembelajarannya yang detail dan mendalam, khusus untuk membahas gigi dan mulut.

 

Dokter yang Komersial

Sebenarnya, stereotip ini juga banyak melekat pada dokter-dokter lainnya, bahwa menjadi dokter berarti akan “balik modal” karena dibayar mahal. Akhirnya, dokter pun menjadi profesi yang oleh sebagian kalangan dianggap komersial atau hanya mencari untung, terlebih lagi saat pandemi menyerang seperti sekarang ini.

Sebagian orang tidak memahami bahwa profesi dokter sebenarnya adalah profesi untuk mengabdi kepada masyarakat. Begitu pun dengan dokter gigi. Mereka melayani masyarakat dan berperan menciptakan masyarakat yang sehat. Dengan peran sepenting ini, tidak semua dokter mendapatkan “upah” yang dianggap mahal tadi, khususnya dokter gigi yang bekerja di pedalaman atau desa. Mereka bahkan mengabdikan diri untuk merawat dan mengedukasi masyarakat awam.

 

Cuma Periksa Gigi Aja, Gampang!

Stereotip ini juga sering didengar oleh para mahasiswa kedokteran gigi. Karena “hanya” memeriksa gigi, profesi dokter gigi pun jadi dianggap remeh. Padahal, tidak pernah ada profesi apa pun yang dapat dinilai dengan kata “hanya”. Semua profesi penting, termasuk dokter gigi yang harus memberikan diagnosis dan penanganan terhadap pasien dengan hati-hati.

Seorang dokter gigi harus memahami juga sistem pencernaan manusia, kerja saraf, mata, hingga bagian penyakit dalam. Bahkan, sampai ada dokter spesialis bedah mulut yang bertugas memperbaiki kelainan pada rongga mulut. Kelainan rahang, misalnya dapat menyebabkan masalah serius, seperti sakit kepala, gangguan bicara dan gangguan makan, hingga gangguan tidur. Oleh sebab itu, diperlukan operasi bedah mulut untuk memperbaikinya, yang hanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis, bukan sembarang dokter gigi.

 

Masalah apa lagi yang dapat ditemukan di rongga mulut? Posisi gigi yang tidak benar, gigi berlubang, penyakit gusi, hingga kista juga dapat muncul di rongga mulut. Di situlah peran dokter gigi sangat penting dan tidak dapat diremehkan.

Anda tertarik untuk mematahkan semua stereotip di atas terkait jurusan kedokteran gigi? Daftarkan diri Anda sekarang di Universitas Kristen Maranatha yang menyediakan fasilitas lengkap dengan tenaga pengajar yang merupakan dokter-dokter gigi yang ahli di bidangnya. Kunjungi tautan ini untuk mengetahui informasi selengkapnya. (hl/gn)

 

 

Foto: Pengambilan Sumpah Dokter Gigi, November 2020 (dok. Medkom Maranatha)

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 29 October 2021