Usaha peternakan, khususnya unggas, di masa pandemi mengalami krisis yang berlangsung cukup panjang dan meresahkan para pelaku usaha. Telur dan daging ayam di sebagian wilayah Indonesia mengalami peningkatan pascalebaran, diduga akibat kenaikan harga pakan ternak yang melambung. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius dari banyak pihak seperti peternak, distributor, pemerintah, hingga akademisi.

Untuk memotivasi dan menginspirasi pelaku usaha peternakan di Indonesia, Fakultas Bisnis (FB) Universitas Kristen Maranatha melanjutkan webinar seriesHow to Survive in Crisis” pada Jumat, 4 Juni 2021. Sesi kedua dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) secara daring ini ditujukan bagi para distributor produk peternakan yang ada di Indonesia agar siap dan tangkas dalam menghadapi masa pandemi yang penuh tantangan. Para pembicara yang diundang merupakan dosen-dosen dari FB UK Maranatha yang memiliki keahlian akademik di bidangnya.

Baca juga: Webinar Bertahan Hadapi Krisis bagi Peternak oleh Fakultas Bisnis Maranatha

Maya Malinda, S.E., M.T., Ph.D. sebagai pemateri pertama membahas mengenai tips menghadapi krisis dan mengenal strategi model bisnis yang bisa diterapkan dan diadaptasi dalam bisnis. Maya menyebutkan, model bisnis kanvas dapat digunakan pelaku usaha untuk menganalisis bisnis, memperbaiki yang salah, dan mengarahkannya ke arah yang lebih positif. “Model bisnis yang memiliki sembilan komponen ini membantu kita menggali model bisnis yang telah dilakukan, apa yang perlu diperbaharui atau diadaptasi sehingga kita bisa bertahan menghadapi krisis,” jelas Maya.

Pemateri kedua, Dr. Benny B. Tjandrasa, S.E., M.M., menyampaikan mengenai penanganan utang piutang. Benny menyebutkan, perencanaan keuangan penting untuk dilakukan pelaku usaha, termasuk distributor produk peternakan untuk mengurangi risiko utang yang jatuh tempo dan piutang yang menunggak. Misalkan untuk menurunkan piutang tertagih, diperlukan upaya meningkatkan permintaan dibandingkan pasokan. Caranya dengan membuat produk tersebut lebih inovatif, unik, memiliki promosi menarik, negosiasi yang baik dengan pemasok, serta harus ada citra aman bagi konsumen.

“Di dalam sejarah romawi ada istilah ‘si vis pacem, para bellum’, artinya kalau ingin damai, maka siapkan diri untuk berperang. Maksudnya, kita harus memiliki posisi dan pengaruh yang kuat untuk menciptakan perdamaian dalam bisnis. Kalau posisi kita lemah, maka kita bisa saja dicaplok yang lebih kuat. Jadi kalau pemasok, distributor, dan pelanggan kuat, maka akan terjadi keseimbangan, dan akhirnya terjadi blue ocean strategy. Tidak ada pertempuran, hanya ada rasa saling menghormati,” ungkap Benny.

Perencanaan juga menjadi poin penting yang ditekankan oleh pembicara ketiga, Dr. Drs. Jahja Hamdani Widjaja, M.M. Jahja mengungkapkan, perencanaan yang baik menunjukkan adanya sikap antisipatif yang dibutuhkan untuk menghadapi krisis. “Prinsipnya, bisnis adalah pengusaha yang akan melihat kepada konsumen atau pasar dalam rangka mencari peluang, mengetahui apa yang dibutuhkan, apa yang menjadi masalah bagi konsumen, dan hal apa yang sesuai dengan keahlian yang bisa ditawarkan ke pasar. Sebagai distributor, kita tentu akan menghadapi konsumen yang beragam,” katanya.

Ia juga menambahkan, perencanaan melalui pendugaan akan membantu melatih dan mengasah kejelian, menambah pengetahuan, serta membantu mengenal peluang dan ancaman bisnis. “Dengan mengenali perilaku dan kondisi konsumen, itu akan membantu untuk mengenali bisnis kita. Mengenali konsumen dan bisnis kita akan menjadi modal dasar dalam membuat rencana atau tindakan antisipasi,” ucap Jahja. (sg/gn)

 

Foto: dok. Panitia PKM Fakultas Bisnis via Zoom

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 16 June 2021