Masuknya Indonesia dalam daftar wilayah penyebaran virus Corona yang menyebabkan Covid-19 pada bulan Maret 2020 lalu, secara tidak langsung memaksa Pemerintah untuk memberlakukan beberapa kebijakan baru untuk menghambat penyebaran virus di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kebijakan untuk bekerja dan belajar dari rumah atau yang juga dikenal dengan istilah work from home (WFH) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dihadapkan dengan suatu hal yang baru tentunya menimbulkan dampak positif maupun negatif bagi yang menjalaninya.

Untuk mengetahui kebutuhan dan tantangan yang dihadapi, khususnya dosen sebagai pengajar, mahasiswa, dan juga karyawan dalam menyiasati kondisi ini, empat dosen Universitas Kristen Maranatha mengambil inisiatif untuk melakukan sebuah riset berjudul “Kesiapan Dosen, Mahasiswa, dan Karyawan Dalam Mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh dan Work from Home selama Pandemi Covid-19”. Keempat dosen tersebut, yaitu Ir. Teddy Markus Zakaria, M.T., dari Fakultas Teknologi Informasi; Susanti Saragih, S.E., M.Si. dan Santy Setiawan, S.E., M.Si, Ak., CA. dari Fakultas Ekonomi; serta Peter Rhian Gunawan, M.Ds. dari Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Hasil penelitian mereka pun akhirnya dipublikasikan kepada khalayak melalui webinar yang diselenggarakan oleh UK Maranatha melalui Zoom dan akun YouTube resmi UK Maranatha pada Rabu, 22 Juli 2020. Webinar yang membawakan tema “Efektivitas Kinerja Dosen, Mahasiswa, dan Karyawan di Masa Pandemi Covid-19” ini berhasil manarik perhatian 396 peserta dari berbagai daerah. Rian mengatakan, “Melalui penelitian ini kami berperan aktif dan berkontribusi dalam menyajikan data faktual yang dibutuhkan, terutama bagi para pemangku kepentingan dalam mengembangan metode PJJ dan WFH di institusi-institusi mereka”.

Hasil riset tersebut telah merangkum jawaban dari 354 dosen, 1.036 mahasiswa, dan 337 karyawan dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui kondisi para responden selama masa WFH atau PJJ, contohnya seperti kendala yang dihadapi, strategi yang dilakukan untuk mengatasi masalah, dan tingkat kepuasan.

Teddy memaparkan mengenai hasil survei terhadap dosen yang memberikan pengajaran dari rumah. Ia mengatakan, kendala yang dihadapi, antara lain, terkait sambungan internet, hilangnya privasi, manajemen waktu, sulit menerangkan dengan rinci, memerlukan persiapan ekstra, dan lain-lain. Teddy menjelaskan, bagi dosen yang baru menerapkan metode PJJ, persiapan materi kuliah online mungkin akan dirasa berat, tetapi hal ini hanya akan dirasakan di awal masa PJJ karena untuk semester berikutnya mereka bisa menggunakan bahan ajar yang sudah ada.

Sebagai kesimpulan, PJJ bagi kelompok dosen masih dirasa kurang memuaskan karena belum bisa memberikan situasi belajar yang baik. Hal ini juga masih perlu didukung dengan learning management system dari universitas. Namun, PJJ juga dirasa menyenangkan karena dosen dapat menghemat waktu perjalanan dan BBM untuk pergi ke kampus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh dosen dalam penerapan PJJ adalah learner control dan online communication.

Hasil survei terhadap mahasiswa pun kemudian dipaparkan oleh Susanti. Melalui survei diketahui bahwa durasi kelas yang ideal menurut mahasiswa adalah sekitar 45-60 menit. Hampir sama seperti yang diuraikan Teddy sebelumnya, Susanti mengatakan, mahasiswa pun mengalami kendala, seperti sambungan internet, rasa malas, tugas yang banyak, hingga materi yang kurang dipahami.

Melalui survei diketahui juga bahwa durasi belajar mahasiswa menjadi lebih panjang dibanding dengan masa sebelum PJJ. Hal ini dirasa baik karena artinya mahasiswa sudah aktif untuk belajar selama masa PJJ. Mahasiswa juga merasa nyaman karena tidak perlu berpergian ke kampus. Sekitar 60,7% responden mahasiswa berpendapat bahwa pembelajaran online tidak dapat membantu mereka untuk mendapatkan informasi. “Artinya, kita bisa katakan bahwa informasi seputar perkuliahan ini tidak lebih mudah didapatkan walaupun kita sudah menggunakan teknologi. Ini menjadi PR besar bagi dosen dan pengelola universitas karena ternyata tidak membantu mahasiswa untuk memperoleh informasi lebih baik,” tutur Susanti. Para peneliti juga mengukur tingkat kesiapan mahasiswa dalam menjalani PJJ. Hasil survei juga memperlihatkan bahwa masih banyak responden mahasiswa yang tidak menginginkan PJJ di masa mendatang.

Selanjutnya, Santy Setiawan melanjutkan materi mengenai efektivitas kinerja karyawan di masa WFH. Lewat sesi ini, ia memaparkan pro dan kontra ketika WFH dijalankan. Melalui survei diketahui bahwa karyawan merasa diuntungkan dengan fleksibilitas dalam berkegiatan dan efektif dalam hal waktu. Di sisi lain, para karyawan juga dihadapi dengan ketakutan, seperti tidak adanya batasan waktu dalam bekerja dan kurangnya koordinasi dengan atasan. Karyawan juga menyatakan, jam kerja dirasa lebih panjang selama WFH dan beban kerja lebih besar dari sebelumnya.

Beberapa hal yang turut dipaparkan Santy, antara lain terkait tantangan, strategi mengatasi gangguan, motivasi selama WFH, efektivitas WFH, dan kepuasan terhadap hasil kerja. Survei juga menunjukkan bahwa para karyawan telah menerima dukungan dari organisasi tempat mereka bekerja. Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk sistem informasi dan teknologi, komunikasi, supervisi dalam pekerjaan, serta kebijakan WFH. Santy kemudian menyimpulkan, walaupun mengalami peningkatan dalam kualitas hidup dan tetap bisa bekerja sesuai dengan target selama WFH, sebagian besar karyawan cenderung lebih memilih untuk bekerja di kantor.

Seluruh presentasi yang disajikan di webinar ini disertai dengan gambar komik yang menggambarkan hasil survei. Komik ini merupakan karya dari salah satu anggota tim peneliti, Peter Rhian Gunawan. Terkait hal ini Susanti mengungkapkan, “Kami ingin membuat bagaimana angka-angka data itu berbicara lebih hidup melalui komik, jadi tidak stres”. (gn)

Upload pada 24 July 2020