Dua dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha turut berpartisipasi sebagai narasumber dalam talk show bertajuk “History Kain Tiga Negeri”. Kedua dosen tersebut, yaitu Sandy Rismantojo, M.Sc. dan Dr. Christine Claudia Lukman, M.Ds., mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan mengenai Batik Tiga Negeri yang menjadi bahan penelitian mereka. Talk show ini merupakan bagian dari acara Pasar Tiban yang digelar oleh Anne Avantie, salah satu perancang busana Indonesia ternama. Pasar Tiban sendiri diselenggarakan dalam rangka mempromosikan karya-karya miliknya di Main Atrium 23 Paskal Shopping Center Bandung.

Diadakan pada tanggal 29 Januari 2020, kedua dosen tersebut membagikan mengenai sejarah dan budaya dari kain batik tersebut. Christine membagikan, Batik Tiga Negeri dibuat oleh keluarga Tjoa yang berasal dari Solo pada tahun 1910. Saat itu, para pria keturunan Tionghoa yang datang ke Indonesia dan menikahi perempuan keturunan Jawa membentuk komunitas Tionghoa Peranakan. Komunitas ini kemudian memproduksi batik yang menggabungkan kebudayaan Tionghoa dan Jawa.

“Batik Tiga Negeri merupakan gabungan dari berbagai budaya di Indonesia. Oleh karena itu, kain ini bisa disebut ‘bineka tunggal ika’ milik Indonesia,” ujar Sandy. Ia juga menjelaskan, diperlukan waktu delapan bulan untuk membuat satu kain Batik Tiga Negeri. Proses tersebut menyita waktu cukup lama karena pewarnaan kain yang berpindah-pindah tempat antara tiga daerah di Jawa Tengah, yaitu Lasem, Pekalongan, dan Solo. Hasil akhir yang didapat adalah perpaduan warna merah, biru, dan cokelat beserta motif-motif yang khas dalam kain tersebut. Tidak hanya di dalam negeri, batik ini pun berhasil menembus pasar luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Menurut Christine, batik adalah media untuk menyampaikan pesan secara visual. Contoh yang bisa diambil adalah salah satu kain batik yang digunakan sebagai penutup meja altar bagi keturunan Tionghoa. Batik tersebut menggambarkan dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia ketika seseorang sudah meninggal, sedangkan dunia bawah adalah dunia untuk orang-orang yang masih hidup. “Maknanya menggambarkan doa bagi keturunan yang masih hidup dan doa bagi leluhur yang sudah meninggal. Terdapat pula bunga-bunga yang menggambarkan kemakmuran dan kecantikan,” ujarnya.

Di Indonesia, Sandy merasa batik-batik seperti ini belum dimengerti kualitasnya. Oleh karena itu, ia berharap adanya pendidikan mengenai budaya batik. “Industri kita berkembang dari ekonomi kreatif. Budaya batik itu kreatif, jadi jangan dilupakan dan pelajari budayanya,” ujar Sandy. Christine pun menambahkan harapannya agar masyarakat Indonesia lebih mencintai nilai-nilai yang terkandung dalam batik. “Kalau bukan kita yang melestarikan budayanya, siapa lagi?,” tutup Christine dalam talk show ini. (cm/gn)

 

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 30 January 2020