Kecanggihan teknologi digital telah memberi pengaruh pada banyak bidang, termasuk bidang konstruksi. Kontraktor sebagai pelaku yang mengelola aktivitas konstruksi perlu mengembangkan kemampuannya untuk menguasai dan memanfaatkan teknologi dalam perubahan zaman yang ada. Salah satu inovasi teknologi yang menjadi pembicaraan dalam dunia konstruksi adalah penerapan Building Information Modelling (BIM).

Dosen tetap Program Sarjana Teknik Sipil Universitas Kristen Maranatha, Dr. Deni Setiawan, S.T., M.T. menyebutkan, seluruh fase kegiatan konstruksi memang salah satunya melibatkan teknologi. Kemampuan teknologi dikatakan dapat dinilai dari kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi kebutuhan teknologinya, memilih teknologi sesuai kebutuhan, mengoperasikan, memelihara, memodifikasi dan memperbaiki, serta mempromosikan pembelajaran teknis. Oleh karena itu, dalam konteks inovasi, kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kemampuan teknologi menjadi penting.

“Kemampuan teknologi dapat ditingkatkan melalui adanya usaha pembelajaran teknologi sebagai suatu upaya membangun dan mengakumulasi kemampuan untuk menggunakan pengetahuan teknologi secara efektif dan efisien,” jelas Deni pada acara Webinar Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang pada Sabtu,10 Oktober 2020.

Webinar bertajuk “Aplikasi BIM dalam Dunia Konstruksi” ini merupakan kolaborasi dari empat perguruan tinggi (PT), yaitu Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Universitas Tanri Abeng (TAU) Jakarta, dan UK Maranatha. Selain webinar ini, Deni sebelumnya juga membagikan materi dalam kegiatan berbeda pada tanggal 8 Oktober 2020 bersama Glodon Indonesia, Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung, dan Dinas Penataan Ruang Kota Bandung berjudul “Sebuah Masa Depan Teknologi Konstruksi: BIM”.

BIM merupakan proses dan latihan dari desain virtual dan konstruksi yang di dalam pengeloaan dan pemanfaatannya di sektor konstruksi atau adikarya. “BIM juga adalah suatu sistem, manajemen, metode, atau runutan pengerjaan suatu proyek yang diterapkan berdasarkan informasi terkait dari keseluruhan aspek bangunan yang dikelola dan kemudian diproyeksikan ke dalam model tigadimensi,” tambah Deni yang juga menjabat sebagai Ketua Program Sarjana Teknik Sipil UK Maranatha.

Banyak alasan BIM menjadi menarik untuk dipilih dan diterapkan di sektor industri konstruksi. Pertama adalah kemampuannya untuk mengurangi fragmentasi konstruksi di dalam project delivery guna meningkatkan produktivitas pekerja konstruksi. Kedua, BIM mampu menciptakan gambar tiga dimensi (3D) yang lebih mudah dibaca untuk meminimalisir masalah diawal, seperti komponen yang kemungkinan bertabrakan.

Ketiga, memudahkan koordinasi dalam proses konstruksi sehingga risiko dalam pengambilan keputusan dapat ditekan. Keempat, BIM dapat mengontrol change order dan keterlambatan yang mungkin terjadi selama proses konstruksi dengan mengidentifikasi potensi-potensi penyebab keterlambatan sejak awal. Kelima, komunikasi internal-eksternal dapat berjalan dengan lancar sehingga menghindari potensi koordinasi yang buruk. Terakhir, penerapan teknologi dapat diimplementasikan sebagai inovasi supaya bisa kompetitif. “Jadi BIM ini bisa menekan cost, mengintegrasi permasalahan karena sudah difasilitasi oleh satu software, dan semua bisa mengakses ke data yang sama serta real-time,” ungkapnya.

Deni juga menyebutkan bahwa dampak Covid-19 bagi bidang konstruksi tergolong rendah, tetapi tetap terdorong ke arah industri 4.0. “Dunia pendidikan perlu segera menangkap perubahan ini sehingga lulusan dari PT dapat survive dengan kemampuan dan kompetensi yang dibutuhkan dalam konstruksi untuk masuk ke era digital,” tutur Deni. (sg/gn)

 

Foto: via Zoom

Kunjungi homepage www.maranatha.edu
Upload pada 20 October 2020