Karya seni dari lima negara: Jepang, Thailand, Malaysia, China, dan Indonesia dipamerkan dalam pameran “Unoflatu” di kampus Universitas Kristen Maranatha, Bandung, 18-23 Oktober 2019. Seniman di balik sekitar 80 karya yang dipamerkan adalah para dosen dari kampus-kampus seni rupa masing-masing negara. “Ini merupakan karya dosen-dosen dari Guangxi Arts University (China), Guangxi Normal University (China), Chiang Mai University (Thailand), Universiti Sains Malaysia (Malaysia), Kyoritsu Women’s University (Jepang), dan tentunya dosen-dosen dari lima program studi FSRD Universitas Kristen Maranatha selaku tuan rumah,” jelas Dr. Yunita Setyoningrum, S.Sn., M.Ds., Ketua Panitia Pameran. “Ada juga karya dari seniman Perancis, Mathias Mareschal yang merupakan hasil residensi seniman Lawangwangi Artspace,” sambungnya.

Tema Re-Creation yang berarti ‘berkreasi kembali’ diusung menjadi tema Unoflatu tahun ini. “Idenya datang dari apa yang sudah ada, hal-hal di sekitar kita, artefak atau objek-objek yang kita kenal, tetapi kita re-create kembali menjadi satu bentuk baru,” jelas Yunita. “Contohnya dalam karya display informasi museum yang dibuat oleh Sandy Rismantojo, M.Sc. Konsep re-creation ditunjukkan dengan penggunaan metode augmented reality,” lanjutnya. Karya-karya yang dipamerkan terdiri dari berbagai media, antara lain lukisan, instalasi, ilustrasi, fotografi, konsep arsitektur, konsep grafis augmented reality, dan textile printing.

Unoflatu merupakan pameran dua tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Maranatha. Tahun ini tidak hanya pameran saja yang diselenggarakan, tetapi juga diperkaya dengan rangkaian kegiatan seminar dan workshop. Seminar Nasional Unoflatu (Kamis, 17/10) mengambil tema “Budaya dan Kearifan Lokal untuk Masa Depan: Antara Tantangan dan Peluang di Era Disrupsi”. Pembicara dalam seminar ini adalah Prof. Dr. Ign. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan); Dr. Adhi Nugraha, M.A., (Institut Teknologi Bandung); dan Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T. (Universitas Kristen Maranatha).

“Saat ini banyak sekali penelitian tentang budaya lokal. Muncul banyak pertanyaan, apakah budaya lokal dapat bertahan di era disrupsi seperti saat ini?” Demikian diungkapkan oleh Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T., Ketua Program Studi S-1 Arsitektur UK Maranatha yang juga bertanggung jawab sebagai Ketua Panitia Seminar. “Apa yang harus dilakukan oleh budaya lokal ini supaya bisa tetap eksis. Bagaimana masa depannya? Apa peluang-peluangnya? Itu yang coba digali dalam seminar ini,” jelasnya. Sementara itu workshop yang diadakan pada hari Sabtu (19/10) juga mengangkat budaya lokal, yaitu membatik dengan biji asam atau klungsu. “Membatik dengan biji buah asam, tekniknya berbeda dengan membatik dengan canting. Ini tentu dapat menarik minat dan perhatian masyarakat umum pada kearifan lokal,” jelas Krismanto.

Unoflatu yang berarti ‘satu nafas’, tahun ini juga merupakan bagian dari perhelatan Bandung Design Biennale 2019, yang diadakan sepanjang bulan Oktober 2019. “Dengan partisipasi ini, diharapkan staf pengajar FSRD Maranatha dapat terhubung dalam jalinan dinamika kehidupan seni rupa dan desain di kota Bandung,” ucap Yunita.  Mengapa jalinan ini menjadi penting? Karena setiap kota punya karakter suasana kehidupan seni rupa dan desain yang berbeda, yang berkontribusi pada identitas lokal kota. “Selain dari segi akademik dan melalui pameran, peran FSRD Maranatha terhadap kehidupan seni rupa dan desain di kota Bandung juga dinyatakan melalui kegiatan-kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa,” tutup Yunita. (ins)

Upload pada 22 October 2019