Diskusi Publik: Merumuskan Sikap Gereja dalam Isu LGBT

Universitas Kristen Maranatha berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara Diskusi Publik: Merumuskan Sikap Gereja dalam Isu LGBT, acara ini merupakan kerja sama dengan Gereja Kristen Pasundan (GKP) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Acara ini diselenggarakan pada Selasa, 21 Juni 2016 bertempat di ruang teater GAP lantai 8 Universitas Kristen Maranatha. Dalam sambutannya, Pdt. DR. Albertus Patty, M.A., M.ST. mengatakan bahwa diskusi mengenai isu LGBT yang saat ini cukup kontroversial, baru pertama kalinya diadakan di Universitas ini. Topik yang penuh pro dan kontra pada kesempatan diskusi kali ini dibawa dalam ranah akademik yang objektif. Tidak seperti nama acaranya, diskusi yang terjadi pun sebetulnya tidak berupaya untuk merumuskan kebijakan dan sikap gereja, tetapi lebih berfungsi sebagai ruang diskusi akademik bagi banyak pihak, yaitu pihak gereja, teolog, akademisi dari beberapa bidang keilmuan, juga pengamat dan aktivis.

IMG_9231v

Acara dibuka dengan sambutan oleh Rektor Universitas Kristen Maranatha Prof. Ir. Armein Z. R. Langi, M.Sc., Ph.D., dilanjutkan sambutan oleh perwakilan Sinode GKP Pdt. Paulus Wijono, S.Th., M.M., dan ketua 1 PGI Pdt. DR. Albertus Patty, M.A., M.ST. Pada sesi pertama diskusi ini disampaikan paparan-paparan oleh narasumber, yaitu Pdt. Agustinus Suwandini, M.A., Th., D. (PGI), dr. Ade Kurnia Surawijaya, Sp.KJ. (Bidang Medis), Maria Yuni Megarini Cahyono, M.Psi. (Bidang Psikologi), dan Dr. Pan Lindawaty Suherman Sewu, S.H., M.Hum., M.Kn. (Bidang Hukum). Keempat narasumber memaparkan materi menurut kacamata bidang keilmuannya masing-masing. Sesi kedua diwarnai dengan tanya jawab dan diskusi mengenai pro kontra isu LGBT. Salah satu hal yang mencuat adalah bagaimana pemahaman mengenai LGBT ini telah disalahpahami oleh banyak orang, bahkan di ranah akademik pun terkadang dijumpai kerancuan pemahaman. Di antara banyak simpulan yang dapat ditarik melalui diskusi ini, salah satu yang disampaikan oleh moderator dalam sesi penutup adalah bahwa untuk dapat memahami fenomena LGBT ini tidak dapat dipandang dari satu sudut pandang saja. Diperlukan banyak sudut pandang keilmuan untuk dapat melihat isu ini secara komprehensif dan objektif.

Kendati tidak berupaya untuk merumuskan sikap, acara ini merupakan awal yang sangat baik untuk memulai adanya forum-forum diskusi akademik selanjutnya. Forum diskusi seperti ini sangat penting dilakukan, bukan untuk menilai bahkan menghakimi golongan tertentu, tetapi untuk memberikan kesadaran bersama bahwa eksistensi manusia dengan beragam latar belakang adalah dasar bagi setiap manusia untuk dapat saling memahami, menghormati, dan hidup bersama dalam satu kesatuan masyarakat. (Prisca Massie – Media Pemberitaan)

IMG_9212vIMG_9315v

IMG_9298v