Bersama Menatap Masa Depan Indonesia – 1st Peace Festival #ID_21

Memperingati Hari Perdamaian Dunia yang jatuh pada 21 September, Universitas Kristen Maranatha mengadakan kegiatan Peace Festival yang pertama dengan tema “Bersama Menatap Masa Depan Indonesia”. Acara ini diselenggarakan selama 3 hari, Rabu-Jumat, 21-23 September 2016. Acara pembukaan di hari Rabu, dibuka dengan performance dari Maranatha Christian University Choir dan dilanjutkan dengan parade Musik Dunia oleh Anthony Music Connections. Opening Ceremony semakin semarak dengan turut hadir nya para anak-anak berkebutuhan khusus yang ikut naik ke atas panggung untuk memainkan alat musik.

Acara dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Rektor Universitas Kristen Maranatha, Prof. Ir. Armein Z.R. Langi, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP selaku Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu Kementrian Desa Republik Indonesia.

Pada pukul 10.00, acara utama yaitu Kuliah Umum pun dimulai dengan mengundang keynote speaker yang pertama, yaitu Yudi Latief, Ph.D. Bapak Yudi mengungkapkan bahwa semua elemen dalam masyarakat Indonesia terpanggil untuk membangun Perdamaian seperti yang dimuat dalam Pembukaan UUD 1945.Setelah itu, sebagai keynote speaker yang kedua, Ibu Dra. Hj. Shinta Nuriah Abdurahman Wahid, M.Hum yang merupakan istri dari Presiden ke-4 Republik Indonesia, Alm. Dr. (H.C.) K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.  Ibu Shinta menyampaikan “dalam merajut dan merawat perdamaian perlu melihat sejarah masa lalu bangsa ini. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, ‘perdamaian’ mengandung nilai keharmonisan.” Seusai Ibu Shinta memaparkan materinya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab lalu setelah itu acara break sejenak.

IMG_9190

Setelah waktu menunjukkan pukul 14.00, acara pun dilanjutkan dengan Konferensi Women Child and Peace. Ibu Brigitta Diana, S.H. selaku moderator mengundang beberapa narasumber seperti Ibu Obertina dan juga Ibu Ilma Sofriyanti (Satgas Perlindungan Anak), dan juga Dra. Hj. Popong Otje Djunjunan atau lebih dikenal sebagai Ceu Popong. Para narasumber mengungkapkan bahwa, dihari perdamaian dunia ini, kaum wanita dan juga anak-anak masih belum merasakan perdamaian. Masih banyak kasus bullying dan masyarakat masih menomorduakan wanita dan juga anak-anak. Banyak wanita yang dipekerjakan di luar negeri dan mendapatkan perilaku yang tidak layak. Masih banyak anak-anak di bawah umur juga yang sudah harus menjadi tulang punggung keluarga dan tidak mendapatkan pendidikan yang sudah menjadi hak mereka. “Kita tidak bisa memilih anak kita seperti apa, tetapi kita hanya bisa memeliharanya dengan baik” seru moderator, menutup konferensi ini dan juga acara di hari pertama Peace Festival.

Di hari kedua, Kamis, 22 September 2016, acara Diskusi Publik dibuat secara pararel di 3 ruangan yang berbeda dan diwaktu yang sama. Selain Diskusi Publik, pada waktu yang bersamaan, panitia Peace Festival pun mengadakan lomba performance SMA se-kota Bandung, berlokasi di Eureka!Food court Universitas Kristen Maranatha. Lomba tersebut terdiri dari lomba Band, Modern Dance, dan Lomba Tari Tradisional. Seluruh peserta menampilkan penampilan terbaik mereka. Pemenang lomba akan diumumkan pada acara penutupan keesokan hari nya.

IMG_9296 IMG_9307

Jumat, 23 September 2016 menjadi hari penutupan seluruh rangkaian acara Peace Festival. Acara dimulai pada pukul 09.00 di Ruang Auditorium Gedung B lantai 2 Universitas Kristen Marantha. Seminar Nasional menjadi agenda acara di hari ketiga ini. Ibu DrPan Lindawaty SSewu, S.H., MHum.,M.Kn. selaku moderator, diundang naik ke atas panggung untuk memandu jalannya seminar pamungkas Peace Festival ini. Para narasumber tersebut adalah Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ dan) Prof.Ir. Armein Z.R. Langi, M.Sc., Ph.D. Dalam seminar pamungkas ini, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ mengungkapkan bahwa salah satu alasan rusaknya perdamaian dunia adalah adanya korupsi dan kelompok-kelompok kecil yang berusaha merusak perdamaian dunia dengan melakukan provokasi atas perbedaan-perbedaan keagamaan. Adanya Pancasila seharusnya sudah menjadi alasan Zero Tolerance pada kerusuhan. Negara seharusnya milik semua warga.

Mendukung pendapat Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ, Pak Rektor memaparkan materi nya. Pak Rektor berkata bahwa yang menjadi kunci dari perdamaian adalah upayauntuk memperjuangkan masa depan bersama-sama, masa depan yang sama dari semua orang. Setiap anak bangsa juga bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri.

Seminar Pamungkas ini dilanjutkan dengan kebaktian pada pukul 11.00 kemudian diskusi panel dilakukan pada pukul 13.30 sampai dengan pukul 16.00. Lalu diselingi break hingga pukul 18.30 sebelum mempersiapkan acara penutupan.

IMG_9530 IMG_9602

Acara penutupan pun dimulai dengan pengumuman pemenang lomba performance tingkat SMA. Untuk Juara Kategori Musik dimenangkan oleh SMA Trinitas Bandung, Juara Kategori Modern Dance dimenangkan oleh SMA Negeri 7, dan untuk kategori Tari Tradisional dimenangkan oleh SMA Kristen 2 BPK Penabur Bandung. Seluruh rangkaian acara Peace Festival yang pertama ini pun ditutup dengan penampilan Drama Musikal dari Saint Club, Maranatha Christian University Choir, Voice of Maranatha dan Spirit of Life yang disutradarai oleh Bapak Rizky Th. Johan., MA. (vir)