Guna mengurangi potensi kesalahpahaman bahasa antara para ahli teknologi dan mitra bisnis, maka diperlukan suatu program bahasa yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak. Kolaborasi antara ahli teknologi dan bisnis ini dapat dipelajari di dalam workshop yang diadakan oleh Agile Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Maranatha pada tanggal 12 Oktober 2018.

Workshop yang diberi nama “Behaviour Driven Development” atau disingkat BDD ini dilaksanakan di Ruang Laboratorium 2, Grha Widya Maranatha lantai 8. Ivan Darmawan, selaku co-organizer dari komunitas Agile Indonesia, menjelaskan bahwa workshop ini dilakukan karena sering terjadi ketidakcocokan komunikasi antara pelaku bisnis yang biasanya sering berubah kemauan dengan software development yang membutuhkan waktu dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga terkadang konflik dapat terjadi karena ketidakmampuan para pelaku teknologi mengikuti kemauan orang bisnis.

Oleh karenanya diperlukan semacam teknik yang menjembatani antara orang bisnis dan orang teknologi. Akhirnya terciptalah suatu bahasa requirement yang mungkin baru dikenal di Indonesia bernama GHERKIN. Menurut Ivan, salah satu cara yang dilakukan untuk memperkenalkan GHERKIN adalah melalui workshop ini.

Agile Indonesia sendiri merupakan suatu komunitas software development nonprofit di Indonesia yang memberikan pelayanan kepada komunitas IT dan bisnis mengenai praktek-praktek software development yang terbaru. Pembicara dalam acara ini merupakan seorang ahli dibidang software development projects dan merupakan praktisi Agile dari Singapura bernama Rajesh Kumar.

Peserta yang mengikuti workshop kebanyakan merupakan profesional kalangan umum beserta dosen-dosen dari Universitas Kristen Maranatha. Diharapkan dengan mengikuti workshop ini para dosen dapat membagikan ilmunya kepada mahasiswa, sehingga ketika terjun ke dunia kerja, mereka mampu menghadapi tantangan globalisasi saat ini. (sg)

Upload pada 16 October 2018