Alumnus Program Sarjana Desain Interior Universitas Kristen Maranatha, Raisya Hidayat membagikan pengalamannya mendapatkan beasiswa pendidikan magister (S-2) di London dalam acara “Get Scholarship, Reach Your Dream”. Melalui kisahnya, Raisya menceritakan perjuangannya meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk berkuliah di University College London (UCL). Pada Sabtu, 13 Juni 2020, acara ini dipandu oleh mahasiswi Program Sarjana Interior, Cheryl Ryvi dalam Instagram Live @interiormaranatha.

LPDP merupakan program beasiswa di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia untuk membiayai pendidikan program magister (S-2) dan program doktoral (S-3), baik di dalam maupun luar negeri. Raisya memilih program Architectural Design, Bartlett School of Arch di UCL. Walaupun jurusan magister yang ia ambil berbeda dari jurusan saat menempuh sarjana, tetapi Raisya mengaku bahwa ilmu dari sarjana sangat terpakai, terutama dalam membentuk pola pikirnya. Selain itu, Raisya juga merasa sangat diuntungkan atas dukungan dan dorongan dosen Desain Interior UK Maranatha untuk mengambil kesempatan S-2 ini.

Melalui acara ini, Raisya menjelaskan syarat-syarat yang wajib dipersiapkan untuk beasiswa LPDP. Syaratnya meliputi memiliki IPK minimal 3.0, mengikuti IELTS atau TOEFL, menyerahkan bukti kelulusan dan bukti nilai, adanya surat rekomendasi dari orang yang berperan kepada masyarakat, serta menuliskan esai. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan esai, yaitu dua jenis esai yang perlu dikumpulkan berupa esai rencana studi dan esai mengenai kontribusi yang akan diberikan pada negara. “Kalian harus tahu apa yang kalian tulis karena saat wawancara akan banyak dibahas mengenai esai kalian,” jelas Raisya. “Kalian juga perlu menuliskan esai kalian sendiri, tidak boleh meniru esai orang lain karena sesuai dengan ajaran Maranatha, yaitu integritas,” lanjutnya.

Raisya menceritakan bahwa pilihannya mengambil program magister sudah sangat dipertimbangkan dan dipersiapkan. Jika hendak melanjutkan studi, Raisya berpesan untuk memikirkan tujuan mengambil magister. “Kebanyakan orang punya mindset, kuliah S-2 pasti menjadi dosen. Sebenarnya apa salahnya menjadi dosen? Tidak selamanya kita bisa menciptakan desain, tetapi kita juga bisa melahirkan desainer,” tutur Raisa. Maka dari itu, Raisya mengajak mahasiswa untuk memiliki skill dan value, sertamengubah pola pikir.

Baginya, studi lanjutnya ini merupakan investasi pendidikan dan kebutuhan tersier yang harus dijalani. Jika ingin melanjuti pendidikan, Raisya juga berpesan kepada mahasiswa untuk konsentrasi, disiplin, dapat membagi prioritas dengan baik, aktif berorganisasi, dan juga memiliki nilai IPK yang baik. “Do your best. Diterima ataupun tidak diterima beasiswa, semuanya pasti ada manfaatnya,” tutup Raisya. (ns/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 16 June 2020