Bedah Buku: Klenteng Xie Tian Gong dan Tiga Luitenant Tionghoa Bandoeng

Pusat Bahasa Mandarin (PBM) Universitas Kristen Maranatha bekerjasama dengan Layar Kita dan JAKATARUB mengadakan Bedah Buku yang berjudul “Klenteng Xie Tian Gong dan Tiga Luitenant Tionghoa Bandoeng” dalam rangkaian kegiatan Pekan Literasi Asia Afrika. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 19 Maret 2017 di ruang Pameran Museum Konferensi Asia Afrika. Seminar diawali dengan kata pengantar oleh sang penulis buku, yaitu Sugiri Kustedja setelah itu ditanggapi oleh dua orang narasumber. Narasumber yang pertama adalah Dekan Fakultas Sastra Universitas Kristen Maranatha, Anton Sutandio, Ph.D. dan yang kedua adalah Sony Hermawan, penulis buku JAKATARUB.

IMG_0225

Anton Sutandio melihat buku tersebut dari dua sisi, subjektif dan objektif. Secara subjektif, diceritakan bahwa semasa kecilnya, beliau sering bermain di rumah neneknya yang berdekatan dengan klenteng Xie Tian Gong. Sehingga waktu membaca buku karya Sugiri, ia merasa sedang bernostalgia. Sedangkan dari sisi objektif, sebagai lulusan sastra, pada awalnya ia merasa ragu untuk membaca karena melihat latar belakang penulis yang merupakan seorang arsitek.Ia takut tidak dapat memahaminya. Namun, setelah ia mulai membaca, ia tidak merasa bingung seperti yang ditakutkan. Bahasa yang dipergunakan sangat ringan dan dapat dimengerti oleh orang awam sekalipun. Terdapat sejarah, dongeng, mitologi, dan arsitek dalam satu buku. Istilah bahasa Mandarin yang dipergunakan pun dijelaskan dengan sangat baik. “Klenteng bukan hanya ritual semata, klenteng mempresentasikan alam semesta yang harmonis”, ungkapnya.  (vir)