Di tengah masa pandemi ini, Fakultas Bahasa dan Budaya (FBB) Universitas Kristen Maranatha mengadakan webinar yang berjudul “Learning Foreign Languages: Experiencing Different Cultures – Here and Abroad“. Diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 2020, webinar ini mengundang empat narasumber yang juga merupakan alumni dan mahasiswa dari masing-masing program studi yang ada di FBB. Empat narasumber tersebut adalah Silviana Hertati Oemar, Marshella Venny Yinata, Rian Juhandi, dan Yoangel Komarlus. Masing-masing narasumber membagikan kisah sukses mereka berkuliah di Fakultas Bahasa dan Budaya serta perjalanan mereka setelah lulus berkuliah kepada 220 peserta yang didominasi oleh siswa SMA dan mahasiswa internal maupun eksternal.

Pemaparan pertama dibuka oleh Venny, mahasiswa Program Sarjana Sastra Jepang angkatan 2017 yang membagikan pengalaman dan prestasinya selama berkuliah. Menurutnya, Sastra Jepang UK Maranatha memberikan wawasan budaya yang beragam bagi mahasiswa. “Sebagai mahasiswa, Sastra Jepang pun menyediakan platform bagi kita untuk terus melatih soft skill,” kata Venny yang juga merupakan Ketua Himpunan Mahasiswa tahun ini. Tak hanya itu, berkuliah di Sastra Jepang pun membuka pengalaman bagi para mahasiswa untuk belajar di Jepang. Pada tahun 2019, Venny terpilih mengikuti program pertukaran pelajar di Hokusei Gakuen University. Bahkan, pada bulan September nanti, ia terpilih mengikuti program beasiswa Japanese Studies 2020 Monbukagakusho dan dapat berkuliah selama satu tahun di universitas pilihannya di Jepang.

Alumnus Program Diploma Bahasa Mandarin angkatan 2013, Yoangel, bercerita tentang program praktik yang banyak diterapkan selama berkuliah membuatnya lebih terbiasa dalam berbicara bahasa Mandarin. “Penting bagi kita untuk belajar teori, tetapi kalau tidak berlatih secara praktik, kita tidak akan terbiasa sama sekali,” tuturnya kepada para peserta. Ia pun bercerita tentang salah satu keuntungan berkuliah di Program Diploma Bahasa Mandarin, yaitu kesempatan mengikuti program berkuliah selama tiga tahun di UK Maranatha dan mengambil satu tahun tambahan di Tiongkok. Dengan pengalaman tersebut, Yoangel pun memutuskan untuk melanjutkan studinya dengan mengambil program magister di Tiongkok. Saat ini, ia telah berkarir sebagai Assistant Manager di salah satu perusahaan kontraktor Tiongkok di Indonesia.

Setelah itu, Silvia pun membagikan pengalamannya selama berkuliah di Program Sarjana Sastra Inggris. Masuk pada tahun 2010, ia bercerita bahwa Sastra Inggris sudah seperti keluarga baginya. Bahkan, berkuliah di Sastra Inggris membuka wawasannya untuk melanjutkan studi di negara lain. “Mata kuliah British Culture Institution membuat saya bermimpi untuk belajar di Inggris setelah saya lulus kuliah,” ujarnya. Akhirnya, ia berhasil meraih mimpinya. Sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) angkatan 2017, Silvia mengambil program magister di bidang Educational Leadership and Management di University of Nottingham pada tahun 2018.

Pemaparan ditutup oleh Rian, alumnus Program Sarjana Sastra China angkatan 2012. Di masa awal perkuliahan, Rian mengaku mengalami kesulitan karena ia tidak punya pengalaman mempelajari bahasa Mandarin sebelumnya. Namun, dengan terus berlatih dan didukung oleh para dosen, ia akhirnya bisa memiliki kemampuan berbahasa Mandarin yang baik. Sebagai mahasiswa, ia bahkan pernah meraih Juara III lomba pidato berbahasa Mandarin se-Jawa Barat dan mengikuti program winter camp di Hebei University, Tiongkok. Setelah ia lulus dan bekerja di sebuah perusahaan Taiwan selama satu tahun, ia memutuskan untuk mengambil kelas bahasa selama satu tahun di China. Hingga saat ini, ia berhasil berkarir sebagai HR Manager di salah satu perusahaan Tiongkok di Aceh.

Dekan Fakultas Bahasa dan Budaya UK Maranatha, Anton Sutandio, Ph.D mengatakan bahwa ke depannya FBB akan rutin mengadakan webinar seperti ini. Selain untuk mempromosikan FBB kepada para peserta, ia pun berharap agar kesempatan ini dapat memberi pencerahan bagi siswa SMA untuk berkuliah di salah satu program studi di Fakultas Bahasa dan Budaya. “Dengan situasi yang semakin global, kemampuan berbahasa asing, berpikir kreatif, dan mempelajari budaya menjadi semakin penting. Hal-hal tersebut bisa dipelajari di masing-masing program studi kami,” ujar Anton. (cm/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 16 June 2020