Hampir seluruh kasus awal kematian akibat Covid-19 terjadi pada pasien perokok. Pernyataan ini disampaikan oleh Dr. dr. J. Teguh Widjaja, Sp.P., FCCP. dalam kuliah umum “Pneumonia Covid-19: Keep Calm, Stay Healthy, Be Alert”, pada Selasa, 10 Maret 2020 di Kampus Maranatha.

“Hal ini disebabkan oleh buruknya kualitas paru-paru yang dimiliki oleh pasien perokok dan berakibat pada rusaknya sistem imun,” ungkap dr. Teguh. Oleh karena itu beliau menganjurkan untuk meningkatkan sistem imun tubuh untuk menangkal virus pembawa penyakit Covid-19 ini, salah satunya adalah dengan menghindari rokok dan alkohol. Selain itu, pola hidup sehat lainnya yang perlu diterapkan adalah beristirahat yang cukup, perbanyak mengonsumsi sayur dan buah, rutin berolahraga minimal 30 menit setiap hari, dan menghindari stres.

Pada kuliah umum ini dr. Teguh menjelaskan hal-hal terkait Pneumonia Covid-19, di antaranya adalah apa itu virus corona, penularannya, dan cara untuk mencegah penyebarannya. Beliau mengatakan bahwa pneumonia adalah infeksi atau peradangan di jaringan paru yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan fungi (jamur) yang memiliki jenis yang beragam. Salah satunya adalah virus corona. “Jadi tidak semua sakit pneumonia disebabkan oleh viruscorona. Ini adalah salah satu dari sekian banyak penyebab yang masih terus diteliti oleh para ahli,” ujar dr. Teguh.

Virus corona jenis baru dilaporkan pertama kali di Wuhan, Tiongkok pada akhir Desember 2019, dengan  66% pasien awal berasal dari orang-orang yang beraktivitas di pasar Huanan Seafood Wholesale, Wuhan. Virus jenis ini pada awalnya diduga menular dari hewan ke manusia seperti yang terjadi pada kasus flu burung dan flu babi. Namun kemudian terbukti bahwa virus corona juga menular dari manusia ke manusia.

Transmisi atau penularan Covid-19 dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui berbagai cara. Pertama adalah via droplet (partikel air) saluran pernapasan, seperti batuk dan bersin. Kedua adalah kontak dekat personal (menyentuh atau berjabat tangan). Ada juga dengan menyentuh benda atau permukaan yang terdapat virus dan kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata sebelum mencuci tangan. Terakhir adalah kontaminasi feses.

Beliau menjelaskan droplet dapat dihasilkan pada saat tertawa, bicara, batuk, dan bersin. Virus ini selanjutnya akan terpecah menjadi partikel kecil berukuran 0,5-2 mikrometer yang mampu masuk ke saluran pernapasan. “Sekali bersin dapat memproduksi sampai 40.000 droplets, batuk dan bicara lima menit bisa menghasilkan masing-masing 3.000 droplets,” ujar dr. Teguh. Untuk kontak langsung lewat berjabat tangan dan menyentuh benda yang terkontaminasi penderita, virus dapat masuk ke tubuh orang sehat lewat selaput mukosa atau kulit. Ia menjelaskan, “Virus ini dapat bertahan di tangan kita 10 menit, maksimal 12 jam di permukaan metal, dan sembilan jam di kain/pakaian kita.”

Kuliah umum mengenai Pneumonia Covid-19 ini diberikan kepada civitas academica Maranatha pada sembilan fakultas yang terbagi ke dalam tiga gelombang (10-12 Maret 2020). Melalui kuliah umum ini, diharapkan pemahaman mengenai Covid-19 dan cara mengantisipasinya dapat diketahui oleh setiap orang. (sg/gn)

Foto: dok. Bidkom – Ditinfo

Upload pada 11 March 2020