Keindahan alam yang ada memang bisa menjadi daya tarik untuk pariwisata (ekowisata). Topik tersebut dibahas lebih lanjut dalam sesi diskusi acara 4th Spirit of Bandung hari kedua (8/11). Forum diskusi yang dipimpin oleh Anton Suntadio, Ph.D. sebagai moderator diselenggarakan di kelas A01-A02, lantai 9, Gedung B, Universitas Kristen Maranatha. Narasumber sesi diskusi ini terdiri dari Amad Saeroji, S.S., M.Sc., Universitas Sebelas Maret; Lu Yu, M.Sc., Universitas Xihua Pusat Bahasa Mandarin Universitas Sebelas Maret; Jacob Ganef Pah, M.T., Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Anggota Tim Percepatan dan Pengembangan Geopark Kementrian Pariwisata; Ma Renhui, Hebei Normal University Collage of Resource and Environment; dan Stephanie Phanata, B.Ed., M.TCSOL, Pusat Bahasa Mandarin di Universitas Sebelas Maret.

Amad Saeroji yang mengangkat materi “Pentingnya Pembatasan Pengunjung dan Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Ekowisata” membahas tentang pengertian ekowisata yang tidak sama dengan wisata alam. “Ekowisata melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan wisata yang menjadi stakeholder, dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengelolaan pariwisata,” jelasnya. Kasus yang mengancam lingkungan juga turut bermunculan, misalnya yang terjadi di Goa Pindul, Yogyakarta. Banyaknya kuantitas pengunjung di tempat ini menyebabkan rusaknya stalagmit, stalaktit, dan habitat kelelawar. Dari kasus tersebut, Amad berpendapat bahwa hal ini perlu ditindaklanjuti dengan pembatasan pengunjung berdasarkan prinsip ekowisata.

Hal yang serupa pun disampaikan Lu Yu dalam materinya yang berjudul “Analysis on the Key Factors of Government Management in Eco-Special Tourism-Case Studies from Three Developing Countries”. Pemerintah seharusnya turut serta dalam pengembangan ekowisata, pemeliharaan ekowisata, keamanan dari wisatawan, dan lainnya. Melalui observasi yang ia lakukan, Lu Yu membandingkan ekowisata di tiga negara berkembang, seperti di Tiongkok, Nepal, dan Afrika untuk melihat peran pemerintah membenahi manajemen pariwisata.

Jacob, sebagai pembicara ketiga menjelaskan bahwa ekowisata adalah perwujudan pembangunan yang berkelanjutan dan juga bentuk pelestarian lingkungan dan budaya Indonesia. Namun, daya saing Indonesia dinilai masih rendah karena pemerintah saat ini lebih memfokuskan kuantitas pengunjung dibandingkan dengan kualitas alam Indonesia. Dengan ekowisata yang banyak dimiliki Indonesia, pemerintah dapat memanfaatkan potensi-potensi yang ada untuk mengembangkan ekowisata tersebut.

Potensi pariwisata pun diharapkan mengalami perkembangan dengan dibangunnya jalur kereta Jakarta – Bandung. Hal ini disampaikan oleh Renhui yang juga turut serta dalam pembuatan rel kereta Jakarta –Bandung dan Asia. Seperti yang terjadi di Boten-Vientiane, Laos yang mengalami perkembangan dalam segi ekonomi dan wisata setelah pembangunan rute kereta.

Di samping pembahasan mengenai perkembangan pariwisata, Stephanie berkesempatan menjelaskan objek wisata Sapta Tirta Karanganyar yang menjadi daya tarik pengunjung. Dengan keberadaan tujuh sumber air yang berbeda di tempat wisata ini, ia berpendapat bahwa pemberian latar belakang budaya dan sumber informasi mengenai wisata ini sangatlah penting, terutama kepada penerjemah dan turis.

Dari kelima pembicara ini, dapat disimpulkan bahwa ekowisata bisa menjadi daya tarik untuk wisata. Namun, pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup sebagai ekowisata bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga dibutuhkan partisipasi dari masyarakat. Kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan untuk memelihara alam.

Ren Yuhong yang mewakili Hebei Normal University mengungkapkan, “Para ahli, baik dari Indonesia dan Tiongkok telah berbagi pandangan serta membahas masalah lingkungan hidup dan pariwisata, khususnya ekowisata dalam sesi diskusi. Diharapkan melalui acara ini dapat meningkatkan hubungan baik memperkuat pendidikan, budaya, dan kerja sama.” Simposium internasional 4th Spirit of Bandung ditutup dengan pementasan dari beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa UK Maranatha dan tour budaya di Kota Bandung. (ns)

Baca juga: Sikapi Ekowisata Jabar dengan Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat dalam Forum Diskusi Spirit of Bandung 2019

4th Spirit of Bandung Bahas Pengembangan Industri Ekowisata Indonesia-Tiongkok

Upload pada 11 November 2019